Perusak Nisan di Sejumlah Makam Ditangkap

346

Kapolres Magelang Kota, AKBP Kristanto Yoga Darmawan didampingi Wakapolres Kompol Khamami dan pejabat terkait beserta perwakilan FKUB Kota Magelang menunjukkan barang bukti hasil penangkapan pelaku perusakan  terhadap 23 nisan makam di empat pemakaman umu

 MAGELANG-  Pelaku aksi perusakan  nisan makam di  sejumlah tempat pemakaman umum ( TPU) di Kota Magelang, akhirnya  terkuak dan berhasil ditangkap. Pelaku yang melakukan perusakan nisan makam baik makam Kristen maupun Islam tersebut yakni Firman Kurniawan (25) warga Kampung Karang Kidul, Kelurahan Rejowinangun Selatan, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang.

“Tersangka Firman ini ditangkap oleh warga  yang ada di sekitar pemakaman umum  Candi Nambangan, Kelurahan Rejowinangun Utara, Kota Magelang pada Jumat (4/1) sekitar pukul 21.00 WIB,” kata Kapolres Magelang Kota, AKBP Kristanto Yoga Darmawan, Sabtu ( 5/1).

Kristanto mengatakan,  terduga pelaku ditangkap warga  saat melakkan  perusakan terhadap dua nisan makam pasangan suami–istri  yang merupakan makam Kristiani di  lokasi ke empat yakni di  TPU Candi Nambangan.

Menurutnya, aksi tersangka tersebut diketahui warga sekitar  pemakaman umum Candi Nambangan, yang mendengar bunyi benturan dari dalam  kompleks. “Pada saat itu, saksi memergoki pelaku sedang berada dalam makam dan ditegur oleh saksi. Saat didekati, saksi melihat ada dua makam yang dirusak dan melihat pelaku membawa palu besi. Saat itu juga, saksi mengambil palu itu dan mengamankan pelaku,” katanya.

Ia menambahkan, sebelum ditangkap pelaku sempat ditegur oleh saksi  sedang apa di dalam makam. Dan pelaku  menjawab dirinya  sedang main saja. Namun, saksi yang  curiga  terhadap keberadaan pelaku  kemudian meringkus dan menghubungi polisi.

Kristanto menyebutkan, polisi yang mendapatkan laporan adanya perusakan kembali nisan makam tersebut  kemudian melakukan pendalaman  dan menemukan pola yang mirip terhadap pola pengrusakan di tiga TPU  lainnya yaitu TPU Giri laya, TPU Kiringan dan TPU Malangan.

“Kemudian, kami  juga melakukan cross check dengan  memperlihatkan pelaku kepada saksi kunci di TKP Kiringan. Dan , ternyata  ada kecocokan identik pelaku yang sama,” katanya.

Ia menambahkan, Firman yang ditetapkan sebagai tersangka tunggal dalam perusakan terhadap 23 nisan makam di empat TPU yang ada di Kota Magelang tersebut, saat ditangkap oleh warga tidak melakukan perlawanan sama sekali. Bahkan, saat dilakukan interogasi oleh petugas, tersangka juga sangat kooperatif.

“Pelaku juga mengaku bahwa aksi perusakan di empat TPU dilakukan dirinya. Kami tegaskan bahwa pelaku perusakan ini adalah pelaku tunggal. Pelaku saat diamankan juga tidak ada perlawanan,” tandas Kristanto.

Meskipun pihaknya telah meminta keterangan awal dari tersangka, namun hingga saat ini pihaknya belum bisa memastikan motif dari pelaku melakukan aksi tersebut. Karena,  pelaku mengalami gangguan kejiwaan.

Pihaknya juga  mendapatkan informasi dari Ketua RT tempat pelaku bertempat tinggal, bahwa yang bersangkutan pernah menjadi pasien di Rumah Sakit Jiwa dr Soeroyo Magelang. “Berdasarkan  keterangan dari tetangga dan keluarga pelaku,  kemudian  kami cocokkan dengan data dari RSJ dr Soerojo untuk memastikan kondisi kejiwaan pelaku. Dari data yang ada, pelaku memang benar pernah rawat jalan karena mengalami depresi pada April 2017 lalu. Dan, juga pernah melakukan pengobatan alternatif selama satu bulan di wilayah Kalibawang Kulonprogo Yogyakarta,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya  juga telah melakukan penggeledahan hingga ke rumah pelaku dan meminta keterangan dari keluarga pelaku. Saat dilakukan penggeledahan di rumahnya, ditemukan dokumen administrasi berupa ijazah-ijazah dan KTP yang mana untuk foto pelaku sudah dicopot atau digunting.

Selain itu, pelaku yang  merupakan lulusan sebuah sekolah  Madrasah Aliyah dan pernah bekerja sebagai security di salah satu  lembaga pembiayaandi Kota Magelang, juga tidak pernah bepergian ke luar kota dan terkait jaringan apa pun.

“Pelaku dalam kesehariannya tekun beribadah dan juga saat melihat orang lain makan dengan tangan kiri maka langsung ditegur agar menggunakan tangan kanan,” katanya.

Meskipun pelaku mengalami gangguan kejiwaan , pihaknya tetap  menjeratnya dengan  pasal 406 KUHP  tentang perusakan barang orang lain dan atau pasal 179 KUHP  tentang perusakan kuburan dengan ancaman masing-masing dua tahun delapan bulan dan pada pasal 179 ancaman hukuman satu tahun empat bulan.

“Proses hukum akan tetap berjalan. Masalah batal atau gugurnya, itu kewenangan kejaksaan atau pengadilan negeri. Pelaku akan kami lakukan observasi melibatkan  pihak dari  RSJ dr Soerojo untuk memastikan kondisi kejiwaan pelaku, mungkin hari ini atau maksimal besok,” paparnya.

 

Penulis : widias
Editor   : wied