Produksi Cabe Menurun, Brebes Kembangkan Sistem Tanam dengan Teknologi Cocopeat

45

Kepala DPKP Kabupaten Brebes Ir Yulia Hendrawati MSi didampingi Ketua HKTI Provinsi DKI Jakarta Ir Budi Sumadiyo MBA menunjukkan cabe hasil pengembangan lewat sistem tanam baru berupa teknologi cocopeat. Foto. Eko Saputro

BREBES - Pemerintah Kabupaten Brebes mengembangkan budidaya cabe dengan teknologi Cocopeat di polybag dengan sistem irigasi tetes. Hal tersebut dilakukan akibat produksi cabe Kabupaten Brebes terus menurun.

Sebelum memperkenalkan secara langsung sistem tanam baru tersebut Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Brebes menggandeng Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Propinsi DKI Jakarta melakukan percontohan di lahan seluas dua hektar yang ada di belakang Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Tanjung Brebes.

Percontohan budi daya cabe teknologi Cocopeat di polybag dengan sistem irigasi tetes tersebut tergolong sukses terlihat dari hasil panen perdana yang sangat memuaskan.

Ketua HKTI Provinsi DKI Jakarta Ir Budi Sumadiyo MBA mengungkapkan, budidaya dengan media serabut kelapa yang ditempatkan di polybag serta menggunakan sistem irigasi tetes, dapat dipastikan mampu menguntungkan petani cabe karena mampu menghasilkan lima sampai enam kali lipat dari hasil sistem tanam yang konvensional yang dilakukan petani Brebes pada umumnya.

“Dari 2 hektar lahan percontohan yang telah ditanam menghasilkan paling tidak 200 kg/hari yang dapat dipanen kurang lebih selama dua bulan. Selain itu, cabe yang dihasilkan juga memiliki kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan hasil dari sistem tanam langsung di tanah,” terang Budi.

Sementara itu, Kepala DPKP Kabupaten Brebes Ir Yulia Hendrawati MSi menjelaskan, dengan budidaya menggunakan sistem Cocopeat di polybag irigasi tetes tidak ada pupuk yang terbuang sia-sia. Karena, jika sebelumnya petani melakukan pemupukan dengan cara menyemprot atau menabur yang akhirnya si pupuk ke mana-mana dan terbuang sia-sia.

“Dengan sistem ini, pupuk langsung dialirkan ke akar sehingga dapat terserap maksimal tetap oleh tumbuhan. Ya semacam infuse lah, jadi tidak ada pupuk yang tercecer sehingga otomatis mampu menghemat pengeluaran yang biasa digunakan untuk pemupukan tradisional,” ungkap Yulia.

Menurutnya, pada kesempatan tersebut pihaknya sengaja mengundang beberapa Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang ada di Kabupaten Brebes untuk melihat secara langsung lahan percontohan yang ada di Kecamatan Tanjung. “Kami beraharap, para gapoktan tersebut melihat langsung apa yang dihasilkan dari sistem tanam

 semacam ini. Sehingga, mereka juga berminat untuk melakukan hal serupa agar ke depan produksi cabe di Brebes kembali meningkat, baik kualitas maupun .kuantitasnya,” papar Yulia.

 

Penulis : ero
Editor   : wied