Ariani, Pahamilah Sakitku Ini

72

Aku sebenarnya tak pernah ingin menceritakan kisah ini. Tapi, kemenyesakan di dadaku ini nyaris tak tertahankan. Aku cuma berharap, dengan berbagi ini, segala kesalahan yang pernah kulakukan dapat menemu jalan keluar. Setidaknya, bebanku berkurang.

Aku, Faisal, 36 tahun. Bekerja di sebuah PMA, di Kabupaten Semarang. Menikah, dengan dua anak, Nazla (6) dan Flana (3). Istriku Ariani (32) juga bekerja, guru SMA. Kehidupan kami termasuk mapan. Posisiku di kantor membuatku mendapat jatah mobil. Sebelum Flana lahir, kami pun berpisah dari mertua, dan tinggal di sebuah perumahan di Semarang Atas.

Kehidupan rumah tangga kami lancar saja. Setiap pagi, sambil berangkat ke kantor, aku akan mengantar Nazla ke sekolah, dan nanti si Mbok yang akan menjemput. Ariani ke sekolah agak siang, karena lokasinya pun tidak terlalu jauh dari rumah. Kadang dia naik angkota, kadang naik motor. Tergantung mood-nya.

Selama di perumahan itu, kami cukup akrab dengan tetangga. Ada dua tetangga yang sangat dekat dengan kami, keluarga Pak Arman (40) dan Husein (35). Sama-sama punya anak kecil, tingkat pendidikan setara, juga status ekonomi yang seragam, membuat komunikasi antara kami sangat lancar. Kalau malam minggu, Pak Arman dan Husein acap bertandang ke rumahku, apalagi kalau bukan menonton bola. Lucunya, kami bertiga punya klub idola yang berbeda. Aku suka Chelsea, Arman maniak MU, dan Husein fanatik Liverpool. Jadi, kalau malam minggu, apalagi ketiga tim itu bermain, ramailah rumahku.

Rumahku menjadi favorit tempat nonton karena ukuran televisi yang lebih besar daripada di rumah mereka berdua. Kadang, sampai jam 2 malam, baru kedua tamuku itu pulang. Malah, beberapa kali Arman tertidur, karena mungkin kelelahan, apalagi jika tim jagoannya tak disiarkan. Dan bila mereka "bertamu", Ariani selalu kuminta menyiapkan kopi, kadang rebusan kacang. Meski pertamuan itu cukup sering, tak pernah ada protes dari Ariani. Apalagi, dia dan anak-anak, biasanya sudah ke peraduan sekitar pukul 9 malam, di lantai atas. Hanya mungkin simbok yang terganggu dengan kehadiran kami. Kamarnya berada di bawah.

Keakraban kami bukan hanya itu. Kalau hari minggu, kami terbiasa pesiar bersama. Karena mobilku lebih besar, biasanya Arman dan istri serta anaknya, "menumpang" di mobilku. Husein dengan Civic-nya mengikuti di belakang. Kadang, kami hanya ke pemancingan. Atau ke Bandungan, berbelanja. Pernah juga, beberapa kali menginap di Kopeng, menyewa vila.

Oh ya, Arman seorang dosen di sebuah PTS, sedang Husein staff di sebuah perbankan swasta. Kedua istri mereka juga bekerja. Istri Arman di sebuah supermarket dengan posisi yang cukup, dan istri Husein staf di sebuah percetakan.

Nah, posisi yang demikian membuat istriku dan Arman cukup akrab. Mereka biasa saling menceritakan murid-murid sekarang, dan pergaulan remaja. Arman juga pernah menjanjikan posisi dosen bantu kepada Ariani, tapi sepertinya janji itu hanya basa-basi. Aku sendiri tak begitu perhatian.

Karena keakraban ini jugalah, kadang kalau Arman ke luar kota, dia biasa menitipkan kunci rumahnya ke kami, untuk mematikan lampu terasnya. Kami pun begitu, juga keluarga Husein. Meski, kadar ke luar kota itu lebih banyak diambil Arman, yang memiliki mertua di Yogyakarta. 

Nah, dapatlah dibayangkan betapa asyiknya kehidupan kami. Keluarga harmonis, tetangga baik, ekonomi mapan. Tak ada yang kurang.

Setidaknya itulah persangkaanku selama nyaris 3 tahun di perumahan itu.

Tapi, sekitar setahun yang lalu, Arman mulai jarang ke rumah. Hanya Husein yang masih sering menonton bola. Kalaupun datang, Arman hanya sebentar, menghabiskan kopi, dan pamit. Ada saja alasannya, Nabila sakit, atau dia yang kurang enak badan. Anehnya, dia jadi kikuk kalau di rumahku, gelisah.

Husein pun jadi heran dengan perubahan itu. Yang lebih aneh, kalau berbincang denganku, Arman seperti tak pernah mau menatap, memilih menunduk. Bahkan kadang aku menangkap kesan dia seperti ketakutan. Ah, entahlah... Anehnya, ketika itu kuceritakan pada Ariani, istriku justru terdiam, tak komentar apa-apa. Waktu kutanya, apakah Arman dan dia ada masalah, Ariani hanya menggeleng. Tapi, dia mendesah. Aneh...

Kepenasaranku ternyata tak berlangsung lama. Tiga bulan setelah "keanehan-keanehan" itu, suatu malam, Ariani mengaku, dia telah berselingkuh dengan Arman.

Di kamarku, di kasurku, sewaktu aku keluar kota. Sore saat hujan.

Aku tersandar di sisi tempat tidur, tak bisa berkata apa-apa.

Aku bahkan seperti tak bisa mencerna apa pun perkataan dia. Otakku seperti buntu, tak dapat menerima kenyataan itu.

Istriku berselingkuh? Dengan Arman, sahabatku sendiri? Ya Tuhan...

Malam itu, aku tak bisa mengatakan apapun padanya.

Ariani mengaku, tak bisa lagi menutupi aib itu, katanya, terlalu sakit untuk membohongi aku.

Dia bersumpah, perzinahan itu hanya satu kali, dan dia tidak tahu kenapa bisa begitu.

Dia juga bersumpah, sangat-sangat mencintaiku dan anak-anak. Kecelakaan itu terjadi begitu saja, tanpa rencana, tanpa apa pun.

Tapi aku tak mendengar alasan itu. Aku stater mobil, dan pergi. Dunia serasa sepi sekali, bahkan ketika aku sudah sampai Simpanglima, ke kafe yang hingar-bingar itu.

Aku tak bisa menceritakan kesedihan yang kutanggungkan. Demi Tuhan, aku sangat mencintai Ariani. Tapi, aku juga tak bisa menghadapi kenyataan itu. Aku tak bisa hidup dengan kepahitan yang tak bisa aku telan.

Cukuplah kukatakan, aku "rusak". Kehilangan semuanya. Hanya airmata yang tumpah setiap kali aku melihat anak-anak yang sedang bobok di kamarnya.

Akhirnya kuputuskan untuk pindah dari perumahan itu, membeli rumah yang lebih kecil, di perkampungan. Simbok aku pulangkan, dan aku pamit pada Husein, yang heran dengan semua perubahan itu.

Seminggu di rumah baru di Semarang bawah, Ariani aku cerai. Tapi dia tidak aku pisahkan dari anak-anak. Kami serumah bersama, karena aku tak ingin anak-anak kehilangan ibu mereka.

Tapi, setelah itu, Ariani tak lagi bekerja. Dia fokus menjaga anak-anak. Kami pun tidur terpisah, nyaris tanpa komunikasi. Kalau aku bersama anak-anak, dia menjauh, demikian juga sebaliknya. Meski, sering sekali aku melihat dia menangis sambil memandikan atau menyetrika baju anak-anak. Tapi, aku pun sesungguhnya menangis, setiap kali melihat Ariani tertidur di samping anak-anak, dan airmata aku temukan di pelupuk matanya.

Ya Tuhan, betapa aku masih mencintai istriku, betapa aku masih sangat menyayanginya... tapi Gusti, betapa Engkau juga tahu, sakit sekali rasanya mengingat semua perselingkuhan itu...

Tak ada satu pun tetangga yang tahu perceraian kami. Hanya kedua orang tua kami, itu pun tanpa pernah tahu alasan sesungguhnya. Mereka pun mendiamkan saja, melihat kami masih serumah bersama. Mama mertua berkali-kali menelpon aku, dan setelah menanyakan cucu-cucunya, ia hanya mengatakan, "Mama titip Ariani ya, Nak. Salah-benarnya, cacat-baiknya, Mama titip... Mama percaya kamu sakit, seperti Mama juga... tapi jangan sampai sakit itu kamu tularkan pada cucu-cucu Mama, ya?"

Kerongkonganku tercekat tiap kali dia mengatakan itu. Aku bukan lelaki cengeng, tapi setelah kejadian itu, aku gampang sekali menangis.

Kini, lima bulan sudah aku hidup bersama Ariani, dalam kekosongan komunikasi. Dan, aku kian menderita, kian merasa sakit, karena belum bisa memaafkan dan menerimanya.

Tiap kali aku shalat, selalu kurasakan dia tiba-tiba hadir di belakangku, menjadi makmum. Dan usai salam, selalu dia mencari tanganku, mencium, seperti dulu. Kini, dengan airmata yang selalu kurasakan membasahi jemariku...

Tuhan, Gusti, tolonglah aku...

 

Penulis : Administrator