Pasien DB Membludak, Teras RS Blora Untuk Perawatan

135

: Deretan pasien anak yang membludak di lorong (teras) RS dr Soetijono, Kota Blora, lantaran tempat tidur pasien penuh, Selasa (8/1). Foto : Wahono/

BLORA – Membludak pasien demam berdarah (DB), memaksa manajemen Rumah Saki dr. Soetijono, Kota Blora, membuka tempat tidur cadangan di teras atau lorong RS untuk merawat pasien anak-anak.

 

Sementara pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) setenpat, mulai mewaspadai pola lima tahun sistem anti body berkurang, karena berpotensi mudah terjangkit virus demam berdarah dengue (DB dengue).

 

“Saat ini memasuki pola lima tahun sistem anti body berkurang, masa yang rawan virus DB dengue,” jelas Sekretaris Dinkes Blora, Lilik Hernanto, Selasa (8/1).

 

Lilik yang juga pelaksana tugas (plt) Kepala Dinkes Blora menambahkan, pihaknya mendapat informasi kasus DB meningkat dengan banyaknya pasien dirawat di rumah-rumah sakit Blora, bahkan ada yang dirawat di teras.

 

Berdasar data yang masuk ke Dinkes, DB pada 2018 di Blora mencapai  357 kasus, enam orang pasien diantaranya meninggal dunia (MD). Kasus itu tidak termasuk warga dirawat di rumah sakit luar daerah.   

 

Sedangkan pada awal Dedsmeber 2019 atau 8 Januari 2019, kasus DB yang masuk di kantor Dinkes sudah terdata 30 kasus DB, dan kini pasien-pasien itu sedang dirawat di beberapa RS.

 

Waspada

 

Sementara  itu  Kepala Bidang Pelayanan Rumah Sakit dr. Soetijono Blora, H. Jamil, membenarkan kapasitas tempat tidur perawatan pasien anak yang berjumlah 28 penuh, sedangkan jumlah pasien ada 40 orang lebih.

 

Untuk bisa menampung pasien, harus membuka tempat tidur cadangan sebanyak 20 unit di teras (lorong) RS yang diberi pengamanan, dan tetap dengan pelayanan tetap memadai.

 

“Ada 40 pasien anak, sebagian memang pasien DB,” jelas Jamil.

 

Lilik Henarnto menambahkan, Blora memang masuk wilayah rawan kasus DB, sehingga Dinkes jauh-jauh hari rajin sudah memberi sosialiasi dan peringatan pada masyarakat luas agar selalu waspada,

 

Menuruntya, musim hujan seperti saat ini banyak genangan atau kubungan air yang bisa menjadi media tumbuh kembangnya nyamuk aedes aegypti.

 

Dinkes, lanjutnya, berharap tidak terjadi wabah DB dalam siklus lima tahunan. Maka tindakan utama yang dilakukan warga mencegah penyakit tersebut dengan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

 

Lilik menjelaskan, fogging (pengasapan) memang terus ddigerakkan, namun cara ini hanya bagian dari upaya pencegahan saja.

 

Terpenting, lanjutnya,  adalah dengan gerakan menutup, menguras dan mengubur media (3M) di tempat perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.

 

“Cara fogging hanya membunuh nyamuknya saja, tidak sampai jentik-jentik (bibit) nyamuk, terpenting adalah 3M itu,” pungkasnya

Penulis : wah
Editor   : omr