Sopir Distribusi Rokok Otaki Bobol Uang Perusahaan, Gasak Rp 61 Juta

62

Kapolres Salatiga AKBP Gatot Hendro Hartono (kiri) memimpin sendiri gelar kasus berhasil diungkap Sat Reskrim Polres Salatiga di awal tahun 2019 di Pendapa Mapolres Salatiga, Kamis (10/1). Foto : Ernawaty

SALATIGA- Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jatuh juga. Sepandai-pandainya mengatur sebuah kejahatan, ada cela untuk terbongkar. Hal ini juga dialami duo pelaku kejahatan. Dimana, salah satunya adalah karyawan bagian distribusi rokok asal Semarang sekaligus mengotaki pembobolan uang perusahaan dengan merekayasa laporan kepolisian.

Adalah Adi Setiawan alias Kliwir (34) tinggal di Jalan Karanganyar RT 08 RW 13 Muktiharjo, Kecamatan Pedurungan, Semarang berprofesi sebagai sopir distribusi rokok asal Semarang. Adi tak sendiri. Ia ditemani Sugihartono (35) warga Jalan Pandangsari  RT 04 RW 01, Pedurungan, Semarangan.

Keduanya kini harus mendekam di balik jeruji tahanan Polres Salatiga guna mempertanggungjawabkan perbuatannya di mata hukum. Aksi jahat keduanya terbongkar, tak lama melakukan pembobolan mobil box Susuki APV yang berisi uang tagihan rokok senilai Rp 61 juta di Jalan Pondok Joko Tingkir, Salatiga Jumat lalu.

Kasus keduanya, diekspos dihadapan wartawan di Pendopo Mapolres Salatiga, Kamis (10/1) yang dipimpin langsung Kapolres Salatiga AKBP Gatot Hendro Hartono.

Kepada wartawan, Kapolres membeberkan bahwa terbongkarnya persekongkolan jahat ini berawal ketika Adi alias Kliwir yang merupakan  sopir dari sebuah distribusi rokok berkantor di  Semarang memarkir mobilnya di Jalan Pondok Joko Tingkir, Salatiga. "Adi yang merupakan pengemudi sempat meninggalkan mobil boks yang berisi uang tagihan rokok. Sekitar 15 menit kemudian, saat Adi datang ke mobil, ternyata uang sebesar Rp 61 juta sudah tidak ada. Ia pun melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian," kata Kapolres.

Tanpa ada rasa curiga, sandiwara Kliwir telah kehilangan uang tagihan rokok direspon petugas Sat Reskrim Polres Salatiga. Dengan sigap, sejumlah petugas reskrim Polres Salatiga langsung mendatangi lokasi kejadian perkara guna olah TKP.

Petugas meminta keterangan para saksi  yang berada di dekat mobil itu diparkir termansuk melakukan olah tempat kejadian. "Dari keterangan saksi, ada yang janggal dari hilangnya uang di dalam mobil itu. Meski kunci pintu mobil mengalami kerusakan akibat dibandrek," ungkap Gatot.

Didampingi Kasat Reskrim AKP Suharto, Kapolres membeberkan bahwa petugas kemudian melakukan pendalaman penyelidikan dan akhirnya mencurigai Adi yang telah bersekongkol dengan orang lain.

Dan benar saja. Setelah diintrogasi secara intensif, Adi mengakui semua perbuatannya serta laporannya kehilangan itu rekayasa. "Pencuri uang tagihan itu tak lain temannya sendiri, yaitu Sugihartono teman nongkrongnya," pungkasnnya.

Mendapat informasi berharga ini, sejumlah petugas kemudian melacak keberadaan Sugihartono. Tak membutuhkan waktu lama, Sugihartono berhasil diringkus di rumahnya. Petugas juga menyita uang Rp 61 juta yang masih utuh karena belum dipakai.

Kepada penyidik, Adi mengakui jika persekongkolan bersama Sugihartono ini sudah direncanakan dengan matang. "Saya terpaksa bersekongkol dengan bersandiwara karena saya butuh uang untuk membayar hutang," ujar Adi, dengan nada lirih.

Hal ini diamini Sugihartono. Ia pun “nyanyi” dengan menyebutkan jika koordinasi jauh-jauh hari dilakukan keduanya. "Saat berada di Jalan Pondok Joko Tingkir, Salatiga, saya dihubungi Kliwir. Sementara saya standby di Salatiga. Pantas pintul mobil saya bandrek uangnya saya ambil semua dan saya bawa kabur ke Semarang," pungkas Sugihartono.

Tugas Adi selanjutnya, melaporkan kejadian ini ke Polres Salatiga agar tidak dicurigai sebagai otak pembobolan uang perusahaan sendiri. Kini belum sempat menikmati hasil kejahatan, kedua tersangka dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara.

 

Penulis : ern
Editor   : wied