Tak Turun Hujan, Tanaman Jati dan Rimba Campur Terancam Mati

60

Jajaran Perhutani KPH Blora mulai mendata tanaman jati dan rimba campur (baru) di lahan tumpangsari kawasan hutan jati BKPH Nglawungan. Foto : Wahono

BLORA – Dalam musim tanam 2018-2019, tiga Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) di Blora, masing-masing Randublatung, Blora, dan Cepu, memastikan telah tuntas merampungkan program menanam jati dan rimba campur.

Ketiga KPH dibawah Perhutani Divisi Regional (Divre) I tersebut, menanam di lahan seluas 2.543,55 hektar, baik di produktif, lahan kosong maupun lahan tumpangsari bersama pesanggem (LMDH). “Tiga KPH sudah tuntas menanam jati dan rimba campur, saat ini mulai sulam-sulam,” jelas Administratur Perhutani KPH Blora, Afwandi, Kamis (10/1).

Hanya saja, lanjutnya, tanaman baru (2018-2019) terancam tidak bisa berkembang baik, lantaran sudah sekitar dua pekan lebih tidak turun hujan. Menurutnya, jika tidak segera turun hujan atau kekeringan, dikhawatirkan banyak tanaman baru yang mati, dan harus disulam lagi (menanam tanaman yang mati). “Semoga segera turun hujan merata, biar tanaman kami tidak banyak yang mati,” tambahnya.

Administratur Perhutabni KPH Cepu, Dadhut Sujanto, juga mengkhawatirkan tanaman baru dilahan seluas 1.104,85 hektar tumbuh kurang baik, dan mati.

Tunggu Hujan

Diakuinya, para mandor tanam Perhutani sudah mengecek di lahan-lahan tanaman program 2018-2019, sebagian sudah banyak yang mulai kering dan tercanam mati. “Sudah mulai banyak yang mati kekeringan, kami akan melakukam penyulaman, tapi  menunggu hujan turun normal,” kata Dadhut.

Sama dengan KPH Cepu, Administratur Perhutani KPH Randublatung, Hilaludim, mengaku tanaman baru jenis jati dan rimba campur banyak yang mengering, dan terancam mati.  “Menunggu hujan turun, nanti baru nyulami pohon-pohon yang mati kering,” kata Hilaludin.

Diberitakan sebelumnya, KPH Randublatung, KPH Blora, dan KPH Cepu pada musim tanam 2018-2019 memproyeksikan menaman jati dan rimba campur seluas 2.543,55 hektar. Dalam pelaksanannya, jati yang akan ditanam dari jenis jati plus Perhutani (JPP), dan tanaman  rimba campur mencapai 1.250.000 plances (pucuk) lebih, dengan luasan lahan di masing-masing KPH berbeda.

KPH Randublatung seluas  932,3 hektar, KPH Blora di lahan 506,4 hektar, dan KPH Randublatiung mencapai luas 1.104,85 hektar.  Adapun penamanan dilakukan di lahan-lahan produktif, dan tanah kosong (TK). Saat menanam, plances (pucuk/bibit) semuanya sudah berkayu, tujuannya agar  berdaya tahan kuat di tanah hutan.

 

Penulis : wah
Editor   : wied