Bunuh Diri dan Rekam Aksinya untuk Dikirim ke WA Mantan Pacar

126

Wahono (20), warga Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan, diduga bunuh diri karena putus cinta dan merekam aksinya itu untuk dikirim ke WA pujaan hatinya. Foto: Hadi Waluyo.

KAJEN - Hanya gara-gara diduga putus cinta, seorang pemuda di Kabupaten Pekalongan nekat mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Wahono (20), warga Dukuh Gandu Kidul, Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan, bunuh diri dengan meminum air campuran sabun cuci dan gantung diri menggunakan tali rafia. Mirisnya lagi, sebelum melakukan aksinya itu, Wahono merekam dan memfoto tindakan nekatnya ini dari handphone miliknya dan mengirimkannya melalui WhatsApp (WA) ke telepon genggam sang pujaan hatinya.

Kapolsek Sragi AKP Sumantri, Selasa (15/1), menerangkan, aksi pemuda putus cinta itu terjadi pada Senin (14/1), sekitar pukul 18.00 WIB di dapur rumahnya di Desa Tengengwetan. Saat itu, kata dia, rumah dalam keadaan sepi karena orang tuanya tengah berjualan di Pasar Sragi. Diterangkan, pada pagi harinya Wahono tidak menunjukkan gelagat mencurigakan. Sebelum orang tuanya berangkat untuk berdagang di Pasar Sragi, Wahono masih sempat membantu kedua orang tuanya tersebut.

"Menurut keterangan orang tuanya, Wahono pagi harinya sempat membantu mencuci baju dan tidak ada hal yang mencurigakan. Makanya, orang tuanya terutama ibunya sangat syok dengan kejadian memilukan ini," terang Sumantri.

Diterangkan, kejadian tragis itu kali pertama diketahui oleh kedua orang tuanya yang baru pulang dari pasar. Saat itu, ibu korban mendapati pintu samping rumah dalam keadaan terkunci dari dalam, dan pintu utama juga dalam keadaan terkunci. Sehingga, ibu korban membuka secara paksa pintu samping rumah.

Setelah pintu samping terbuka, lanjut Sumantri, ibu korban menuju ke dapur dan melihat korban (anaknya) dalam keadaan tengkurap di lantai dengan kepala menghadap ke selatan. Melihat hal itu, ibu korban langsung berteriak kepada suaminya. “Bah .. Abah Sindong kenapa iki (Pak anak kita kenapa ini)," tutur Kapolsek menirukan ucapan ibu korban.

Ayah korban yang pada saat itu masih berada di luar rumah langsung menghampiri istrinya. Karena panik melihat korban dalam keadaan tidak sadarkan diri, korban diangkat untuk dibawa ke kamar. Selanjutnya, ayah korban memberitahu kejadian itu kepada kakak korban melalui handphone.

Sesampainya di rumah, oleh kakaknya korban langsung dibawa ke Puskesmas Sragi. Namun, pada pukul 18.45 WIB korban yang diperiksa oleh petugas medis puskesmas dinyatakan sudah meninggal dunia.

“Berdarkan hasil visum luar dari tubuh korban yang dilakukan oleh petugas jaga Puskesmas dan mantri kesehatan Puskesmas Sragi tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan, namun hanya ada bekas jeratan di leher bagian atas,” terang Sumantri.

Dari hasil olah TKP dan keterangan sejumlah saksi, korban bunuh diri diduga akibat putus cinta. Petugas menduga korban melakukan bunuh diri dengan sebelumnya meminum air campuran sabun cuci. Setelah itu, korban melakukan gantung diri di dapur dengan menggunakan tali rafia yang telah disiapkannya. Hal ini dibuktikan dengan rekaman dan foto dari handphone milik korban.

Menurutnya, rekaman dan foto aksinya itu diduga dikirim ke pujaan hatinya melalui WA. Namun, pihak kepolisian masih kesulitan untuk melacak sang pujaan hati Wahono tersebut, lantaran di telepon genggam Wahono hanya tertera nama 'sayang'. "Karena di hp Wahono, pihak yang dikirim video hanya tertera nama sayang, maka hingga kini kami masih berusaha mencari keterangan terhadap pihak yang telah dikirim video oleh Wahono ini," katanya.

Terkait hubungan Wahono dengan pujaan hatinya, Sumantri menjelaskan, orang tua Wahono tidak mengetahuinya. Namun, dari keterangan sejumlah saksi, Wahono sempat menjalin hubungan dengan seorang gadis selama satu bulan, yang ia kenal kurang lebih tiga bulan terakhir.

Polisi masih melacak nama pujaan hati Wahono yang ada di telepon genggamnya itu. Sebab, polisi yang berusaha menghubungi nomor tersebut, nomornya sudah tidak aktif.

 

Penulis : haw
Editor   : wied