Di Whatsapp Aku Tak Lagi Setia

163

TAK kusangka, pertukaran kata-kata antara aku dan dia di ruang maya, di whatsapp, bisa membuatku merasakan lagi sensasi jatuh cinta. Rasa kangen, debaran jantung yang keras, senyum yang selalu menghiasi bibirku, wajah yang berseri, tumbuh di dalam diriku. Sama seperti ketika aku merasakan ini dengan suami, 10 tahun lalu.

Aku berpikir semua ini hanya "keisengan" di ruang maya, di ponsel. Tak akan meninggalkan bekas apa-apa. Dan aku salah. Kata-kata ternyata adalah jantung perasaan kita.

Tak ada masalah dalam rumah tanggaku. Semua aman, terkendali, dan berjalan apa adanya. Tak ada orang ketiga, tak ada perselisihan yang membuat asmara memudar. Kehidupan ekonomi keluarga yang mapan membuatku rileks menerima kehadiran anak-anak, mengantar mereka sekolah, menjemput, dan kemudian menunggu suami. Semua berjalan alami. Aku juga dengan ikhlas berhenti bekerja ketika karier suami di bank swasta mulai menanjak. Dan kuisi kesibukanku dengan membaca, berkebun bunga, dan mengurus anak-anak.

Tapi aku punya satu kecanduan, aktif berselancar di dunia maya, mengulik-ulik internet, membaca apa saja.  Mulai mengikuti berita-berita nasional dan internasional lebih cepat daripada menunggu koran, juga menemukan artikel-artikel yang sangat membantuku mengasuh anak-anak, memotivasi suami, memperbaiki bicara dengan mertua, menata rumah, psikologi usia paro baya, dan pengetahuan umum lainnya. Internet melengkapi "kesepianku" ketika siang.

Dan, lalu aku mendapatkan situs psikologi keluarga, dengan tema-tema yang keren, mengasuh anak di era digital, istri mandiri dari rumah, kiat mengelola keuangan, sampai aneka makanan sehat. Di situs ini ternyata ada grup pembaca, yang terintegrasi dalam whatsapp grup (WAG). Dari situ aku kenal beberapa orang, dan kemudian bertukar kabar secara pribadi.

Pelan tapi pasti, aku mulai menyukai ruang ceting di WAG ini. Mendapatkan teman-teman yang seide, ngobrol dengan nyaman, dan membicarakan anak-anak dengan rileks. Temen-temen cetingku di WAG menyatu dari  beberapa kota. Kami riuh sekali jika siang sampai sore, bicara anak-anak, seminar parenting, sampai agenda sosial lain, semacam mengalang dana untuk anak terlantar dan atau manula.

Nah, di grup itu, ada satu orang yang kulihat cukup dominan dalam uraian-uraiannya. Dia selalu memberikan pendapat yang ‘’keren’’ dan mencengangkan bagiku. Kalimatnya bagus, dan terkesan sabar. Dia cerita tentang hal-hal yang dianjurkan dalam pendidikan keluarga, tapi tak mungkin dilakukan. Dia secara jujur menjelaskan bahwa teori, kadang, memiliki praktek yang berbeda jauh. Dia juga menunjukkan bahwa bahasa di keluarga selalu bersifat intim, situasional, dan pribadi, yang tak bisa dimaknai sama untuk keluarga yang lain. Jadi, dengan begitu, ukuran sopan atau pantas dan tak pantas di satu keluarga, bisa jadi sangat berbeda di keluarga yang lain.

‘’Kita acap abai dan selalu menggunakan ukuran umum, untuk satu kasus di dalam tiap keluarga. Padahal, bahasa keluarga adalah bahasa yang sangat spesifik, intim, situasional, dengan makna yang hanya keluarga itu yang bisa mendefenisikannya,’’ tulisnya suatu kali.

Bijak ya?

Kebajikannya itu memuatku memberanikan diri untuk men-japri-nya. Lalu kami acap bicara secara pribadi, daripada di grup itu. Dan dia lebih menakjubkan ketika menanggapi semua ceritaku.

Pelan-pelan, perasaan nyaman membuatku bicara terbuka, cerita status, dan ngobrolin anak-anak. Dia juga, mulai terbuka, bekerja di kantor swasta di Jakarta, punya posisi yang cukup mapan, ayah dari 3 anak, dengan istri berkarier di biro hukum. Kami cerita pengalaman sehari-hari, cerita kegiatanku menjemput anak-anak. Dia pendengar yang baik.

Dia pandai membawa suasana, menciptakan humor, rasa penasaran, penghargaan, dan dia sangat menguasai hal-hal seputar rumah tangga. Sepertinya rumah tangganya sangat bahagia. Tak ada cerita tentang istrinya yang cacad, tak ada cerita tentang anaknya yang nakal. Ia menceritakan cara mendidik anak yang luar biasa, yang membuatku sadar betapa terkonsep sekali "peta" rumah tangganya.

Pelan tapi pasti, muncul rasa simpati padanya. Berbicara dengannya sungguh tanpa kata akhir. Apalagi, kami bertukar pesan suara, dan akhirnya saling bertelepon dan video call.

Aku jadi tahu wajahnya, dan dia pun jadi tahu wajahku. Dia lelaki matang, 40-an, di wajahnya tergaris kesabaran dengan sempurna. Dan melihat dia bicara sungguh menyenangkan. Suaranya demikian tenang, sabar, dan lambat. Ia bicara seperti menuntutku untuk menerima tanpa memaksa. Gila. Aku ketagihan dengan suaranya, dengan percakapan siang bersamanya.

Pelan-pelan aku berani mengatakan kangen, setelah dia mengakui juga. Tak kupercaya, aku memiliki PIL yang tak pernah aku tahu seperti apa aslinya. PIL yang hanya kulihat di kamera saja. Tapi rasa kangen dan sayangku sama seperti dengan ayah dari anakku-anakku, Hendra, Amalia, dan Rydina. Dan karena kangen, kadang aku mengikutkan rasa itu saat bicara.

Aku pernah dengan penuh kesadaran membuka kemejaku di depan kamera agar Mas Her dapat melihatku, karena dia begitu menginginkannya. Aku pernah menaikkan rokku agar Mas Her dapat melihat pahaku karena dia ingin menyentuhku. Dan dari hal-hal kecil itu, kami akhirnya "bersetubuh" di Whatsapp, dengan kata-kata dan bantuan kamera. Dan sensasi yang aku dapatkan sungguh luar biasa, ruarrr biasa... Aku dan dia beberapa kali melepaskan busana di depan kamera dan saling --maaf-- bermasturbasi.

Dan ketakutanku muncul, saat dia berencana datang ke Semarang. Aku panik. Aku mulai takut. Dan dia tahu, tak memaksa. Dia hanya ingin berjumpa, tanpa meneruskan "perselingkuhan" itu.

Dia datang, dan aku menemuinya, di sebuah kafe. Mas Her sangat hangat. Dia tak membicarakan satu pun tentang "kegilaan" kami saat chat. Dia hanya menepuk punggung tanganku, dan merangkulku ketika pamit. Tapi, kata-katanya di telingaku membuatku panas-dingin. "Tak akan ada yang terjadi jika kita sama-sama tak menginginkannya, Ratna... Kita dua manusia dewasa, tak akan pernah ada paksa."

Ketika dia kembali ke Jakarta, dan esoknya kami ceting lagi, aku seperti gila. Aku melampiaskan semua kemunafikanku di depan kamera. Aku bukakan semua tubuhku, aku minta dia menikmatinya, aku akui betapa aku menginginkan dia, tapi betapa aku juga takut.. Kami "bersetubuh" dengan liar dan dahsyat.

Aku tak punya masalah rumah tangga dengan suamiku. Rumah tanggaku bahagia. Tapi, di hatiku telah ada orang lain, yang kukangeni sama dengan kangenku pada suami.

Mungkin pembaca menilai aku "kotor" atau jahat. Tapi percayalah, aku sungguh tak bisa menghentikan "kegilaan" ini, dengan cara apa pun. Apalagi, aku tidak pernah berselingkuh nyata-nyata, hanya di di depan kamera. Tak ada bagian tubuhku yang telah cemar. Tak ada tubuhku yang telah tak setia... semua masih terjaga, kecuali di di depan kamera, di layar ponselku dan dia.

Aku tahu ini salah dan ‘’berbahaya’’. Tapi mau bagaimana, inilah sisi ‘’terliarku’’ yang tak bisa kukendalikan, yang kadang membuatku merasa utuh dan berharga.

 

(Penuturan Ratna, ibu dengan 3 anak, di Semarang)

 

Penulis : Administrator