Aroma Sonata Klasik di Kota Lama


Ade (piano) dan Asep (cello) tengah memainkan ''Melody'' karya Christop William Gluck

Udara malam di kawasan Kota Lama, Sabtu (1/4) terasa berbeda. Di dalam gedung PT Samudera Indonesia di kawasan Taman Srigunting, berhamburan nada-nada sonata dari denting piano, petikan gitar, gesekan biola dan cello, serta vokalis sopran.

Malam itu suasana klasik Kota Lama memang makin berasa makin klasik dengan penampilan Resital Musik Kamar yang digelar Gaung Dawai. Meski dengan beberapa keterbatasan akibat faktor-faktor nonteknis, seperti misalnya gerombolan nyamuk yang mengganggu kenyamanan penonton dan pemain, para solois tetap menampilkan performans luar biasa. “Pemain jadi tegang karena banyak nyamuk,’’ kata Ade usai menuntaskan reportoar terakhir, yang disambut gelak tawa penonton.

Resital Musik Kamar dengan mengambil tema “Reborn the Spirit” itu menampilkan Asep Hidayat (cello), Adeleide Simbolon (piano) dalam sajian reportoar utama, serta Henry Yuda Oktadus (gitar) dan Eleonora Maharani (sopran) sebagai penyaji repertoar pembuka. Ikut memeriahkan pula, ansambel Domenico Savio dan dan Berta dengan permainan piano yang tidak kalah manisnya. Satu-satunya reportoar yang manis disajikan soprano Eleonora Maharani, yang melantunkan “O Mio Babbino Caro”, sebuah aria paling populer dari opera Gianni Schicchi karya Giacomo Puccini..

Sajian repertoar sebetulnya tergolong “berat”, namun tetap nikmat didengarkan. Komposisi “Verano Portena” karya Astor Piazzola yang disajikan Henry dengan solo gitar misalnya, lebih banyak dikunyah oleh para penikmat musik klasik yang tergolong serius. Demikian pula “Braseileras No 5” karya Heitor Villa Lobos oleh Asep (cello) dan Henry (gitar). Baik Astor maupun Villa Lobos tergolong komposer kontemporer, dengan komposisi yang penuh harmoni kompleks, sehingga tidak terlalu melodius bagi kebanyakan penikmat.

Keberanian menyajikan repertoar sangat serius makin tampak pada pilihan komposisi pada menu utama oleh Ade Simbolon pada piano dan Asep pada cello.

Berturut-turut “Sonata A Minor” karya Antonio Vivaldi, “Melodi” gubahan CW Gluck, “Sonatina” karya Zoltan Kodally, dan “Sonata” milik Sergei Rachmaninov memenuhi ruangan yang tidak seberapa besar itu. Tampaknya, ada ambisi untuk benar-benar klasik dengan pilihan-pilihan reportoar. Barangkali, sebab, seorang Andre Rieu saja pun masih getol menyajikan karya klasik yang menyenangkan untuk disenandungkan, namun panitia Gaung Dawai terkesan ingin betul-betul klasik. Bahkan, encore yang dipilih pun tidak sembarangan, sebuah komposisi Alegro dari Sostakovich yang menuntut keterampilan tinggi dan kecepatan presisi.

Serius

Keseriusan panitia untuk “sungguh-sungguh klasik” terlihat dari sejak prakonser. Daftar undangan ketat diseleksi karena alasan keterbatasan tempat duduk, meski pada akhirnya hanya 50 persen kursi terisi. Jelas, kultur yang berbeda sedang diadu, antara “serius menerima undangan” dan kebiasaan masyarakat yang “tergantung sikon terakhir untuk hadir”.

Pengumuman tentang etiket menonton konser klasik, termasuk soal tepuk tangan dan sederet aturan lain, sudah disampaikan sebelum konser dan masih diulang beberapa kali oleh MC Asrida Ulinnuha saat konser digelar. Sebuah iktikad edukasi yang bagus sebetulnya, walaupun sebagian penonton – yang notabene adalah penikmat musik klasik sejati – merasa menjadi orang bodoh ketika dipaksa mendengarkan daftar etiket berulang kali.

Panitia juga “memaksa” untuk “benar-benar akustik” dengan tidak menggunakan mikrofon. Alasannya, seperti disampaikan Asrida, resital musik kamar adalah musik akustik sehingga tidak menggunakan pengeras suara. Akibatnya, permainan gitar solo Henry tidak terdengar secara cukup. Tata akustik gedung yang memang bukan gedung konser tentu tidak mendukung bunyi jika tidak dibantu sound system. Tampaknya, masih ada pemahaman yang berbeda soal “akustik” dan performans akustik klasik.

Terlepas dari beberapa kekurangan tersebut, resital di gedung PT Samudera Indonesia, yang termasuk bangunan kuno itu, sungguh telah memeriahkan kawasan Kota Lama Semarang yang makin hari makin berdenyut dengan berbagai kegiatan seni.

Satu catatan kecil, kendati diklaim panitia sebagai resital musik klasik yang pertama kali di Semarang, sebetulnya resital klasik itu bukan yang pertama kali. Beberapa tahun lalu, para arsitek di Semarang mengawali menghadirkan konser di Kota Lama. Alliance Francais termasuk salah satu organisasi yang paling sering mengundang pemain luar negeri untuk tampil. Ananda Sukarlan sudah lebih dari satu kali singgah tampil di Semarang, belum lagi untuk menyebut Jaya Suprana, legenda pianis dari Kota Lumpia ini.

Penulis : gp
Editor   :