Politik dan Arloji Ingatan

1.2K

KITA hidup dengan arloji, dan karena itu kita acap tak mampu menyimpan memori.

Arloji adalah gerak ke depan, tik-tok waktu yang tak pernah kembali. Dalam ''hidup arloji'', meski yang ditinggalkan memang tak dilupakan, tapi diogahi. Masa lalu masih ada, namun tak penting. Celakanya, masa lalu yang tak penting itu hidup dalam ''ingatan kolektif yang abai''.

Hari-hari ini eksemplar ideologi arloji itu kita temukan dalam diri Anies Baswedan. Dia dengan tangkas selalu bisa menemukan ''bahasa'' untuk ''merevitalisasi'' janji-janjinya. Soal penutupan Hotel Alexis misalnya, kini dia tersenyum dan berkata, ''Ya, komitmen kita melaksanakan perda. Jadi semua pelanggaran akan kita tindak, dan perda itulah yang akan menjadi pegangan.'' Kita ingat, sebelumnya dia justru yang mencecar Ahok yang tak menutup Alexis, juga karena berpegang pada perda.

Dia juga berjanji akan membangun rumah dengan DP nol rupiah. Pun janji akan segera menghentikan reklamasi. Tapi kini Anies dengan santai bercerita tentang pulau reklamasi sebagai lahan olahraga masyarakat, rekreasi, pentas seni dan budaya. Reklamasi akan lanjut? ''Ya janji kampanye seperti itu, bahwa yang sudah telanjur jadi akan dimanfaatkan untuk kepentingan publik dan segala macam, bisa di situ,'' katanya.

Anies tentu tidak lupa dengan semua janji, dan rekam jejak ucapannya. Dia hanya percaya bahwa kata-kata memiliki kekuasaan untuk menunda. itulah sebabnya dia berani berada di samping Jokowi suatu kali, dan mematahkan semua argumentasi Prabowo. Di kali lain, dia berada di sisi sebaliknya. Anies amat yakin, selain menunda, kata-kata, apalagi yang diucapkan di depan pemuja, juga berkuasa memberi alpa.

Anies tak sepenuhnya benar. Khalayak juga tidak lupa. Kita cuma menganggap bahwa apa yang kemudian dia ucapkan bukanlah sesuatu yang pantas untuk dikenang, dimemorikan. Di titik ini, bagi kita, ucapan Anies bukanlah hal yang penting lagi. Sebabnya satu, Anies telah berada di arena yang usai. Ironi ini, dalam bahasa Dr Risa Permanadeli, adalah ciri masyarakat Indonesia, yang, ''cenderung mengubur memori kolektifnya.''

Dan kita harus mengakui lemahnya memori kolektif itu. Patrialis Akbar dengan setengah berteriak, mengaku dizalimi. ''Demi Allah, saya betul-betul dizalimi? Ya nanti kalian bisa tanya sama Basuki, bicara uang saja saya tidak pernah!" Atau, para anggota DPR RI yang selalu membantah menerima aliran dana e-KTP. Tapi waktu kemudian membuktikan sebaliknya.

Apa yang dibantah, bahkan dengan sumpah, menjadi tak penting lagi. Dalam tik-tok arloji, kelampauan adalah keusangan. Patrialis bisa kelak menempuh jalur politik seperti Anies, dan mungkin terpilih. Karena yang menyergap, yang harus mereka kalahkan, adalah masa depan.

Masa depan itu kini kita lihat juga dalam Pilgub Jateng. Sekian calon mendaftar, dan tahu bahwa biografi hidup mereka akan dijembar dan ditakar. Tapi mereka berani, karena percaya kalaupun ada aib, itu telah menjadi masa lalu. Dan untuk khalayak, cuma menjadi gosip, dibicarakan tanpa melahirkan tindakan. Mereka, para calon itu tentu berharap, ingatan arloji akan dapat mengerek mereka ke panggung politik karena mereka punya kuasa untuk memerintah lupa, ''Saya siapkan sekian miliar untuk kampanye.''

Pada akhirnya, di masyarakat kita, kuburan memori kolektif itu adalah uang. Dan ini tak salah. Agustinus, dalam Confession menulis bahwa ingatan, juga kesadaran seseorang, terentang dengan ekspektasinya tentang masa depan. Ingatan, dengan demikian, selalu berelasi dengan kepentingan dan harapan di masa depan. Lupa adalah tindak yang dipilih jika bisa melahirkan sebuah harapan. Dan berkaitan dengan uang, harapan itu tentu berwatak personal.

Dan karena itulah, kita sulit berpikir sebagai bangsa.

Ingatan dibungkam secara pribadi, orang perorang, yang kemudian melahirkan kelupaan massal. Uang dan iklan –penghipnotis massa– ditembakkan untuk melahirkan impunitas: pengampunan, pemaafan, permakluman. Dengan itulah, mereka berharap bisa melenggang. Mereka percaya bahwa waktu, ingatan arloji itu, akan dapat memperbaharui diri mereka. Kita, sebagai warga, tentu masih ingat tentang ''cacat'' mereka. Tapi ingatan itu berjalan ke belakang, tak berfungsi ke depan.

Betapa sia-sia.

Barangkali, inilah yang dikatakan Spinoza sebagai ingatan yang tanpa sad passion, syahwat kesedihan. Mengingat bagi kita, tak melahirkan sakit, sebaliknya perasaan riang, gembira. Karena kita percaya, dalam tiap cacat masa lalu seseorang yang kita kenang, ada rejeki, uang, harapan, yang menunggu di depan. Kita mengingat bukan dengan afeksi, emosi, dan sentimen-sentimen personal untuk masa depan yang lebih baik, melainkan demi kepentingan personal semata: ''Aku mendapat apa.''

Mari menari! mari beria! mari berlupa! tulis Chairil dalam puisi ''Cerita buat Dian Tamaela''. Karena dalam lupa, dalam ingatan yang tak ingin kita kuasai, kita bisa bahagia, bisa tertawa, bisa memberi suara, meski bukan untuk bangsa.

 

Penulis adalah Jurnalis  Koran Pagi  Wawasan

Penulis : Aulia A. Muhammad
Editor   :