‘Teaching’ Industri Kakao Menjadi Ikon Baru Batang

744

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Menristekdikti M Nasir meresmikan pabrik coklat di Kabupaten Batang. Foto: Hadi Waluyo.

BATANG - Pabrik kakao yang menjadi Pusat Pengembangan Kompetensi Industri Pengolahan Kakao Terpadu (PPKIPKT) di Desa Wonokerso, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, akhirnya diresmikan, Senin (11/2).

Teaching industri tersebut diresmukan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir. Hadirnya pabrik kakao di Kabupaten Batang hasil kerja sama antara Kementerian Perindustrian, UGM, dan Pemkab Batang ini digadang-gadang menjadi ikon baru Kabupaten Batang.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, berdirinya PPKIPKT sebagai upaya meningkatkan produksi komoditas kakao yang memiliki peluang ekspor besar, karena pemintaan pasar juga besar. Oleh karena itu, Indonesia sebagai penghasil kakao nomor tiga di dunia harus menjadi produsen, tidak hanya supplier tetapi memiliki produk akhir.

"Di Indonesia pengolahan kakao untuk ekspor, dari bahan baku sampai barang jadi, semua diekspor. Saat ini yang paling penting adalah meningkatkan di bagian produksi," katanya.

Menristekdikti Mohammad Nasir mengatakan, tugas pengembangan kakao di kementriannya adalah urusan di hulunya, yaitu harus menyediakan bibit berkualitas. Pengembangan bibit ini penting karena bisa menghasilkan kakao terbaik.

Dijelaskan, di pabrik kakao Batang dengan lahan seluas 1 hektar ternyata hanya menghasilkan 1 ton biji kakao. Angka tersebut perlu ditingkatkan karena jika dibandingkan dengan Vietnam masih kalah jauh. Di sana (Vietnam), 1 hektar sudah menghasilkan 4 ton. "Masih menjadi PR kita. Solusinya perlu kolaborasi antara pemerintah, industri dan masyarakat agar permasalahan ini bisa diselesaikan," terangnya.

Bupati Batang Wihaji mengatakan, pabrik ini menjadi ikon baru di Kabupaten Batang, karena pabrik ini tidak hanya untuk industri melainkan juga bisa dimanfaatkan untuk destinasi wisata.

"Saya meminta pihak pabrik untuk bisa membina desa sekitar pabrik agar menjadi kampung coklat. Biar sejalan dengan program kami dalam menciptakan 1.000 wirausaha baru, dengan slogan one village one product atau satu desa satu produk usaha," pintanya.

Diharapkan, berdirinya PPKIPKT menjadi salah satu penyumbang percepatan pembangunan daerah, bidang investasi, wisata dan Indek Pembangunan Manusia.  "Ini sesuai intruksi Presiden terkait percepatan daerah melalui investasi dan pariwisata dan saya yakin pabrik kakao yang dikelola UGM pasti bisa," tuturnya.

Sementara itu, General Manager (GM) PPKIPKT, Nur Muhib mengatakan, pabrik kakao diproyeksikan tahun ini bisa mengolah sejumlah 300 sampai 350 ton biji kakao perbulan. Kemudian tahun berikutnya akan dinaikan menjadi 400 ton per bulan. “Pangsa pasar yang kami bidik adalah pasar ekspor ke negara di Amerika Barat, Amerika Timur, dan Eropa," ujarnya.

Muhib menjelaskan, pohon kakao ditanam di tanah seluas 160 hektare dikelola pabriknya. Hasilnya sebanyak 50 persen diekspor, sedangkan 25 persen untuk pengembangan UMKM, dan sisanya sejumlah 25 persen untuk agrowisata. Dengan hasil produknya yaitu liquor, cake, butter, dan powder sesuai tuntutan kualitas pasar. "Kalau pasar ekspor sudah jelas untuk profit perusahaan. Bagi masyarakat kita kerja sama dalam format Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR), dan membangun wirausaha skala UMKM melalui pelatihan pengembangan produk makanan dan minuman berbasis coklat," ujarnya.

Dijelaskan, keunggulan dari pabrik kakao yang dikelolanya adalah biji full fermentasi. Berbeda di pasaran yang hampir 98 persen hasil olahan kakao merupakan nonfermentasi. Alasan pabrik memproduksi kakao fermentasi karena hanya ingin cepat untung.  "Keunggulannya nanti rasa coklat lebih bagus, kemudian pabrik ini menjadi satu-satunya industri berbasis kompetisi dan wisata.

Yang bisa jadi ikon Batang baik sebagai penghasil kakao dan wisata," katanya.

Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM, Dr Hargo Utomo mengharapkan PPKIPT bisa menjadi rujukan industri kakao nasional. Dengan tujuan pabrik kakao yang terintegrasi dari hulu-hilir, pengolahan kakao menerapkan prinsip-prinsip pengolahan kakao yang berkualitas dengan melibatkan petani kakao dalam mengolah biji kakao sesuai standar SNI.

"UGM melalui salah satu unit kegiatan usaha di bidang perkebunan yaitu PT Pagilaran selanjutnya akan menjalankan pabrik ini sebagai industri profesional, teaching industry, dan pengabdian masyarakat," terangnya.

 

Penulis : haw
Editor   : wied