Harmoni masyarakat mulai terganggu karena Pemilu

38

Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Mahfud MD tengah menjawab pertanyaan wartawan usai acara Dialog Kebangsaan Seri VI bertajuk Merawat Harmoni dan Persatuan yang digelar di Stasiun Solo Balapan Solo, Rabu (20/2). (Bagus Adji W)

SOLO, WAWASANCO- Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Mahfud MD  mengatakan, banyak hal sekarang ini menjadi problem dalam implementasi Pancasila. Diantaranya masalah harmoni  ditengah masyarakat  yang sekarang mulai terganggu karena ada  pesta politik namanya Pemilu.

 

“Kita mengingatkan, semua harus hidup dalam harmoni. Karena Pemilu itu hanya jalan untuk membangun kemajuan lebih lanjut sehingga tak usah bertengkar-tengkar berkelanjutan” tandas Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Mahfud MD  kepada wartawan usai acara Dialog Kebangsaan Seri VI  bertajuk  Merawat  Harmoni  dan Persatuan yang digelar di Stasiun Solo Balapan Solo, Rabu (20/2).

 

Pada kesempatan sebelumnya Prof Mahfud MD ketika berbicara dalam acara dihadiri Kardinal Yulius Darmaatmadja SJ, Muhammad Tafsir dari Muhammadiyah, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, KH Dian Nafi, Alissa Wahid dan Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo mengatakan, acara Dialog Kebangsaan merupakan bagian dari merawat harmoni dan kesatuan. Intinya kita menyatakan Pancasila sebagai dasar idiologi negara tidak akan tergantikan. Siapa yang akan melawan itu, pasti kalah. Sejarah membuktikan, Pancasila selalu menjadi tempat kembali ketika terjadi problem, baik itu problem konstitusional maupun lainnya. “Disini  kita bicara harmoni . Solo satu tempat yang tepat karena merupakan daerah yang halus seperti Yogya, sehingga harmoni bisa distel dari rasa  kemanusiaan kita . Kesemuanya ini  agar kita hidup bernegara ,berkesatuan dan beridiologi Pancasila  secara kokoh bersatu menuju masyarakjat adil dan makmur”, tegasnya .

 

Sementara itu Kardinal Yulius Darmaatmadja SJ mengemukakan, merawat Indonesia  membutuhkan patos/ semangat. Kadang semangat  itu tidak ada karena yang dicintai terlalu jauh. Suami istri banyak merawat kerukunan bukan karena cinta asmara  yang dulu berkobar. Tetapi karena merasa wajib mengabdi, membina  dan merawat anak anak. Kerukunan keluarga diselamatkan bukan karena cinta asmara yang dulu, tetapi lebih dikarenakan kewajiban.

 

Maka mari kita kawal Indonesia  dengan membangkitkan rasa kewajiban bersumber cinta tanah air seperti pahlawan Patimura. Begitu cintanya tak mempunyai kepentingan apa apa untuk dirinya. Tidak untuk kemenangan karena itu kewajiban. Tidak untuk menghadirkan keharuman nama  karena itu kewajiban. “Inilah semangat yang saya ingin sampaikan  untuk kita miliki bersama . Mari kita rawat Indonesia yang beragam ini  dengan cinta. Tetapi lebih lebih didukung dengan rasa  kewajiban”, jelasnya.

 

Masih dalam kesempatan sama Alissa Wahid menyatakan, untuk merawat harmoni dan persatuan dibutuhkan pemimpin berkomitmen. Pemimpin yang mau dan mampu menentukan  kestrategisan starteginya. Kenapa hoax merajalela, karena banyak elit politik yang tahu  caranya mengungkit emosi warga masyarakat. Itu cara paling mudah untuk membuat seseorang mendukung dan memusuhi lawan dengan pesan bernada emosi . Karena itu  dibutuhkan pemimpin yang mau meninggalkan kebencian, mau meninggalkan permusuhan, mau meninggalkan sekedar kalah menang, tetapi mau menatap Indonesia  emas 2045. Kalau tidak, negara ini akan menjadi negara yang sumbu pendek.

 

Sebagai rakyat kita perlu tidak hanya meminta, tak hanya memohon  tetapi menuntut pemimpin bekerja dengan strategi, dan gerakan. Tansformasi social mendorong  eksklusivme agama saat ini tidak sampai di titik kegentingananya karena sudah berbaur dengan  kepentingan politik. Disinilah  kemudian membutuhkan pemimpin bernalar sehat, berbudi luhur  untuk memimpin Indonesia  menuju  ,masa depan tahun  2045. “ Harmonisasi bicara perdamaian. Kata Gus Dur perdamaian  tanpa keadilan  hanyalah illusi. Maka kita juga membutuhkan pemimpin yang mampu  menegakan keadilan”, terangnya.

 

Sedangkan Muhammad Tafsir mewakili Muhammadiyah mengemukakan, komitmen harus dibangun dan ditata terus menerus serta tidak boleh lupa. Ada tidaknya Indonesia tergantung komitmen kita. Yakni komitmen seluruh komponen bangsa Indonesia. Muhammadiyah sebagai bagian dari komponen  bangsa Indonesia tetap berkomitmen bahwa  Negara Pancasila merupakan negara yang sudah pas untuk  kita semua.

Penulis : baaw
Editor   : jks