2 LampiranPertumbuhan Industri Perbankan di Kota Magelang Melambat

50

Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kota Magelang saat dikukuhkan oleh Walikota Magelang Sigit Widyonindito . Foto: Widiyas Cahyono

MAGELANG-Perkembangan industri perbankan di Kota Magelang pada umumnya mengalami  pertumbuhan lebih lambat dibandingkan dengan  pertumbuhan di tingkat Provinsi Jawa Tengah.

“Di Kota Magelang pertumbuhan kredit sampai Desember 2018  kemarin, tercatat sebesar Rp9.176 miliar atau tumbuh 4,26 persen year over year  (yoy), dana pihak ketiga tercatat sebesar Rp11.122 miliar atau tumbuh 5,90 persen (yoy), aset tercatat sebesar Rp12.317 miliar atau tumbuh 1,24 persen (yoy) dan  non perform loan (NPL) sebesar  1,55 persen,” kata U’un Ilyana, Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 1 Otoritas Jasa Keuangan Kantor Regional 3 Jawa Tengah dan DIY pada acara pengukuhan tim  percepatan akses keuangan daerah ( TPAKD) Kota Magelang, Kamis ( 21/2).

U’un Ilyana mengatakan,  untuk  perkembangan industri perbankan di Provinsi Jawa Tengah tercatat masing-masing untuk kredit tumbuh sebesar 8,63 persen, dana pihak ketiga mencapai

8,85 persen, asset tumbuh 8,47 persen (yoy) dan NPL sebesar 2,82 persen.

Dari data tersebut, Kota Magelang tercatat berada  di peringkat keenam untuk kredit, peringkat kelima untuk dana pihak ketiga dan aset berada pada ranking  keenam  dari 35 Kota/kota se-Jawa Tengah.

Menurutnya, dalam catatan  otoritas jasa keuangan (OJK) Keuangan Kantor Regional 3 Jawa Tengah dan DIY,  di Kota Magelang hingga triwulan III tahun 2018 kemarin,  untuk jumlah agen Laku Pandai, mencapai 2.592 agen atau tumbuh sebesar 8,54% (qoq).

“ Adapun jumlah jumlah nasabah mencapai 61.441 nasabah dan jumlah outstanding sebanyak Rp791 juta, atau berada pada ranking 32 untuk jumlah agen dari 35 kabupaten/kota di Jawan Tengah,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk jumlah rekening basic saving account (BSA) sebanyak 26  dan 34 untuk Outstanding dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Dari data  tersebut, menunjukkan bahwa Kota Magelang masih sangat berpotensi meningkatkan literasi dan inklusi khususnya layanan perbankan sampai ke daerah remote area melalui optimalisasi peran agen laku pandai.

Sedangkan, untuk penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Ultra Mikro (UMi) pada tahun 2018 yang lalu, Kota Magelang berada pada urutan terakhir dari 35 Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Tengah dengan total penyaluran KUR sebesar Rp80,99 miliar dan jumlah debitur sebanyak 3.029 debitur. Sedangkan, jumlah UMi dengan total penyaluran sebesar Rp2,09 miliar dan  tujuh  debitur sebanyak 550 (data bulan Desember 2018).

“Kondisi ini menunjukkan Kota Magelang masih memiliki potensi besar dalam peningkatan akses pembiayaan berupa KUR dan UMi maupun Kredit Pro-Master yang diluncurkan hari ini karena masih banyak pelaku UMKM yang belum mendapatkan akses pembiayaan,” imbuhnya.

Sementara itu,   TPKAD  Kota Magelang yang dikukuhkan tersebut, untuk di Provinsi Jawa Tengah, merupakan kabupaten/kota keenam .

Ia menjelaskan, arah kebijakan TPAKD nasional ke depan yakni program TPAKD harus dapat mendorong pengembangan potensi unggulan di daerah,  melalui peningkatan sektor jasa keuangan. Misalnya melalui kegiatan business matching, program TPAKD harus sejalan/beriringan dengan program yang telah dicanangkan pemerintah daerah.

 “Selain itu, program kerja TPAKD diarahkan untuk dapat mendukung program pemerintah daerah/pemerintah pusat seperti kredit usaha rakyat, program ultra mikro (UMi), dan bantuan pangan nontunai (BPNT),” katanya.

 

 

Penulis : widias
Editor   : wied