Eks Pendapa Kabupaten Pekalongan Kumuh Segera Direvitalisasi

  • Telaga Sunyi Mangunan Sgeera Di-'launching'
41

Sebuah telaga di kaki Gunung Kendeng di Desa Tlogohendro, Kecamatan Petungkriyono, Telaga Sunyi Mangunan, akan dilaunching sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Pekalongan (atas). Eks pendapa lama di Jalan Nusantara Nomor 1 Kota Pekalongan yang akan direvitalisasi. Insert Bupati Asi Kholbihi.Foto: Hadi Waluyo.

KAJEN - Eks Pendapa Lama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan di Jalan Nusantara Nomor 1 Kota Pekalongan kini kondisinya kumuh dan memprihatinkan, karena belum dikelola dengan baik seteah pindahnya pusat pemerintahan Pemkab Pekalongan ke Kota Kajen pada tahun 2001. Untuk meningkatkan nilai aset dan mengoptimalkan pemanfaatannya, Pemkab Pekalongan berencana memfungsikan atau merevitalisasi eks pendapa lama tersebut tanpa memugar bangunan pendapa lama yang merupakan benda cagar budaya.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, menyatakan, Pendapa Kabupaten Pekalongan di Jalan Nusantara Nomor 1 Kota Pekalongan yang sudah disepakati sebagai benda cagar budaya adalah pendapanya. Oleh karena itu, dalam rencana merevitalisasi eks pendapa lama tersebut, pendapanya masih utuh. Sebab, kata Asip, berkaitan dengan cagar budaya itu harus hati-hati penanganannya.

"Luasnya 2,6 hektar, luas sekali. Pemkab memiliki desain agar dimanfaatkan secara optimal di antaranya untuk convention hall, pusat kuliner, bookstore, tempat rapat, dan sarana penunjang yang lain, tidak menutup kemungkinan hotel. Ini tentu bekerja sama dengan pihak ketiga. Sudah banyak pihak ketiga yang menawarkan konsep kerja sama untuk activasi dan revitalisasi kembali pendapa di Jalan Nusantara tersebut," katanya.

Menurutnya, salah satu tujuan revitalisasi eks pendapa lama itu juga untuk penataan kembali. Pasalnya, kondisi eks pendapa lama saat ini kumuh dan tidak terawat, sehingga merusak pandangan Kota Pekalongan. "Kita sudah koordinasi dengan Pak Wali Kota agar penataan pendapa ini terintegrasi dengan penataan alun-alun kota dan masjid, sehingga akan lebih menjadi daya tarik wisatawan yang datang ke Pekalongan," ujar Asip.

Disebutkan, revitalisasi eks pendapa lama ini direncanakan dilakukan pada tahun 2019 ini. Bupati mengaku sudah bertemu dengan pihak ketiga untuk melakukan langkah-langkah strategis, dengan pola kerjasamanya nanti adalah pemanfaatan aset daerah. "Pendapa lama itu cagar budaya, jadi kita pertahankan. Kita dandani. Kanan-kirinya bukan cagar budaya. Kanan-kirinya itu yang akan kita jadikan untuk mendukung keberadaan pendapa lama. Jadi nanti ada hotel, restoran yang representatif, bookstore, convention hall, ruang rapat, dan penunjang-penunjang untuk kepentingan publik, karena itu luas sekali. Dan itu akan menjadi core bisnisnya Kabupaten Pekalongan. Tidak ada pembongkaran pendapanya, justru itu akan kita fungsikan kembali. Kita akan hidupkan kembali. Kamar-kamar bupati lama akan kita hidupkan kembali, tapi bisa disewakan," tandasnya.

Dengan rencana revitalisasi eks pendapa lama tersebut, lanjut Asip, maka Kabupaten Pekalongan nantinya akan memiliki tiga pendapa. Yakni, pendapa di Jalan Nusantara Kota Pekalongan, yang diharapkan nantinya bisa melayani masyarakat Kabupaten Pekalongan di Pantura seperti di Kecamatan Tirto, Wiradesa, Buaran , dan Siwalan. Kedua, pendapa di Kajen sebagai pusat pemerintahan, yang akan melayani masyarakat yang ada di wilayah tengah Kabupaten Pekalongan. Dan ketiga direncanakan pembangunan pendapa yang akan berfungsi untuk menunjang destinasi wisata di Petungkriyono, yakni Pendapa Tampak Miring.

"Namun ini (Pendapa Tampak Miring) masih dalam tahap rancangan. Kita belum menganggarkan, masih butuh kajian yang matang. Pendapa Tampak Miring ini berfungsi untuk mendukung pariwisata di Kecamatan Petungkriyono," tandasnya.

Petungkriyono

Disebutkan, perkembangan pariwisata di Petungkriyono sudah sangat baik. Apalagi dalam waktu dekat ini, lanjut Bupati, pemda akan me-launching destinasi wisata baru yaitu Telaga Sunyi Mangunan di Desa Tlogohendro, Petungkriyono. Sebuah telaga di kaki Gunung Kendeng, berbatasan dengan dataran tinggi Dieng. Telaga Sunyi Mangunan ini menawarkan panorama alam yang eksotis. Sebuah telaga yang sudah lama sekali, mungkin ratusan tahun tidak dimanfaatkan.

"Sekarang Alhamdulillah sudah bisa kita manfaatkan. Insya Allah ini akan menjadi daya tarik wisata tersendiri, dan pemkab sudah mempunyai roadmap pengembangan pariwisata khusus untuk Kecamatan Petungkriyono, sehingga ketika nanti ditetapkan menjadi kawasan strategis wisata dengan dataran tinggi Dieng, Batang, Banjarnegara dan Wonosobo Insya Allah kita sudah siap," ujar Bupati.

Kasi Pengembangan Wisata Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pekalongan, Purwo Susilo, mengatakan, bulan April 2019 nanti Telaga Mangunan direncanakan resmi dibuka. "Masyarakat Desa Tlogohendro, setiap hari Minggu, gotong-royong melakukan pembersihan untuk membuka telaga tersebut," katanya.

Dikatakan, akses jalan menuju Telaga Mangunan berupa aspal, dan hanya membutuhkan waktu 10 menit berjalan kaki untuk menuju lokasi wisata dari jalan raya. "Kedepan rencananya akan ada wahana perahu kayak di Telaga Mangunan, baik fasilitas maupun infrastruktur masih dipersiapkan," imbuhnya.

Telaga Mangunan merupakan telaga di Pegunungan Kendeng. Air telaga sangat jernih dan pemandangannya menawan, dan menawarkan panorama alam yang mengesankan untuk para pengunjung. Pembukaan Telaga Mangunan menjadi pelengkap destinasi wisata yang ada di Kabupaten Pekalongan. Selain menjadi pusat batik, Kabupaten Pekalongan juga diproyeksikan menjadi tempat kunjungan bagi wisatawan.

Mitologi 'Baru Klinting'

Salah satu mitologi lokal masyarakat Petungkriyono yang masih diyakini tentang Telaga Mangunan adalah kisah ular naga 'Baru Klinting'. Konon, Baru Klinting bersembunyi di telaga itu saat kalah melawan Kaki Bagus, tokoh penyebar ajaran Islam di Petungkriyono. Kisah ular Baru Klinting dan Kaki Bagus tidak lepas dari situs Sigedong di Desa Yosorejo. Jejak-jejak sejarah purbakala masih bisa ditemukan di situs Sigedong, di antaranya masih ada watu lumpang, batu berundak, alat-alat rumah tangga kuno, gong, dan arca. Namun sayangnya, dua arca besar di situs itu sudah hilang dicuri orang. Bahkan, pohon-pohon di situs Sigedong tidak ada yang lurus, namun bengkok karena dipercaya sebagai tempat Baru Klinting melilitkan tubuhnya.

Berdasarkan mitologi lokal, situs Sigedong ini merupakan tempat tinggal ular Baru Klinting. Seiring perkembangan waktu, datanglah Kaki Bagus dengan 40 cantriknya untuk menyebarkan ajaran Islam di Petungkriyono. Ular Baru Klinting sepasang. Konon, ular betina memangsa salah satu cantrik Kaki Bagus, sehingga dibunuh oleh Kaki Bagus. Setelah itu, ular jantan pun berkelahi melawan Kaki Bagus dan kalah, sehingga bersembunyi di Telaga Mangunan.

Tokoh masyarakat Tlogohendro, Kaslam, membenarkan kisah mitos jika Telaga Mangunan merupakan tempat tinggal ular naga Baru Klinting. Oleh karena itu, setiap bulan 1 Sura, warga menggelar ritual larung sesaji berupa kepala kerbau bule di telaga tersebut, agar dilindungi oleh para leluhurnya. "Tradisi ini sudah turun temurun. Kenapa harus kepala kerbau bule, cerita persisnya saya tidak tahu. Namun, konon itu usulan dari Bupati Pekalongan pertama," ujarnya.


 

Penulis : haw
Editor   : wied