SEMARANG - Kemacetan panjang yang terjadi di ruas pintu masuk tol Banyumanik akibat uji coba transaksi tertutup atau nontunai masih terjadi. Banyak warga pengguna tol yang tidak tahu bagaimana menggunakan transaksi tertutup, kemudian melakukan pembayaran manual atau terbuka.
Direktur Utama PT Trans Marga Jateng, Yudhi Krisyunoro, mengakui kurang melakukan penyebaran informasi tersebut. Meski pihaknya sudah melakukan siar melalui media, namun masih perlu dilaukan pengumuman di sekitar ruas jalan menuju tol. Baik melalui sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki, atau melalui media penyampai informasi lainnya.
"Mohon maaf kami kurang memberikan informasi masalah perubahan sistem. Jadi di Semarang lebih familier sistem terbuka, kalau tertutup kurang diketahui. Karena tahunya masuk bayar dengan uang tunai. Kondisi yang terpantau memang ada kemacetan," ungkap Yudhi saat dikonfirmasi Wawasan.co, Minggu (17/9).
Secara teknis, penggunaan sistem pembayaran tertutup bagi yang sudah memiliki elektronik-tol (e-tol) langsung bisa menempelkan (tapping) kartu tersebut di mesin pembaca. Mesin akan memberikan data asal gerbang masuk kendaraan serta golongan kendaraan. Saat akan keluar tol, sistim akan kembali membaca dan secara otomatis akan mendebit pembayaran tersebut.
"Kalau sudah punya e-tol, saat masuk keluar kartu tanda masuk di mesin, itu tidak perlu diambil. Saat palang terbuka, maka sudah terbaca menggunakan e-tol. Keluarnya bisa pakai pintu GTO atau gardu reguler. Sementara yang mau bayar manual terbuka, ambil tiket tanda masuk, lalu keluar di gardu yang bukan GTO (gardu reguler) untuk pembayaran. Ini yang kurang kami sosialisasikan, karena kurang koordinasi dengan petugas lapangan untuk membantu. Sehingga mengganggu kelancaran jalan tol," imbuhnya.
Pihaknya akan melakukan sosialisasi lebih intensif dengan melakukan pemasangan spanduk di gardu masuk, hingga penyebaran leavelet untuk petunjuk penggunan tol Semarang-Salatiga.
Penulis :
Editor :