Hoaks Jangan Sampai Pecah-belah Bangsa


Anggota MPR Daniel Johan dan Pengamat Politik Lely Arriane berbicara soal maraknya hoaks yang membahayakan kerukunan masyarakat dan menjadi salah satu penyebab apatisnya masyarakat terhadap politik.

JAKARTA, WAWASANCO- Mendekati hari pencoblosan yang tinggal satu setengah bulan lagi peredaran hoaks di media sosial makin marak dan masif. Kondisi ini sangat mengkuatirkan terjadinya perpecahan di tengah masyarakat yang punya pilihan politiknya berbeda.

''Aparat harus cepat bertindak. Kalau tidak maka akan  membahayakan kerukunan masyarakat, ''kata anggota MPR Daniel Johan dalam diskusi Empat Pilar MPR 'Meningkatkan Partisipasi Politik Masyarakat' di pemilu 2019 bersama pakar komunikasi politik Lely Arrianie, di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (25/2).

Menurut politisi partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini lembaga terkait seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) , Bawaslu dan Kepolisian harus siap mengantisipasi maraknya peredaran hoaks ini. ''Hoaks yang kita kuawatirkan adalah hoaks yang  semakin mempertentangkan antara satu warga dengan warga lainnya, bukan memperkuat persaudaraan  tetapi justru semakin memecah diantara warga,” katanya.

Hoaks, kata Daniel,  akan mempengaruhi psikologis masyarakat. Mereka akan menjadi apatis, menjadi rasa khawatir. Di sinilah peran media dituntut tanggung jawabnya untuk ikut menangkal hoaks .

Dari banyaknya hoaks yang beredar,  menurut Daniel,  yang paling banyak dirugikan adalah pasangan capres Jokowi-Ma'ruf.  ''Posisi Capres Jokowi paling  dirugikan oleh hoaks ini,'katanya.

Lebih jauh Daniel mengatakan hoaks ini bukam cuma  membahayakan kerukunan warga juga membuat warga apatis terhadap politik khususnya pemilu. Tingkat partisipasi masyarakat akan terpengaruh dengan marak peredaran hoaks ini.

Di sisi lain,  lanjut Daniel, peran calon anggota legislatif (caleg)  juga sangat penting dalam menangkal hoaks ini. Menurutnya. Seluruh caleg dan parpol harus menjalankan fungsi dan perannya di masyarakat dengan menolak hoaks. “Jadi, dalam sisa waktu satu setengah bulan ke depan seluruh elemen masyarakat harus kompak menolak hoaks,” ujarnya.

Namun menurut Leli Arrianie, ramai dan  gaduhnya pilpres hanya terjadi di media sosial khususnya mereka yang dari kelompok melinial.  Kedua pendukung saling serang bahkan ada yang sampai berkelahi. Tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa ketika dibalik bilik suara.

''Ada kegamangan ketika mereka berada dibilik suara dalam memilih calon yang mereka idolakan.  Ini yang namanya partisipasi semu. Khususnya pada kelompok melinial, ''katanya. Menurut Leli, ada pemilih parokial (tradisional), stronger (fanatik), milenial, dan swing votters.

Untuk meningkatkan partisipasi kata Leli, caleg dan parpol harus melakukan pendekatan interpersonal. Yaitu langsung terjun ke masyarakat door to door. “Bukan dengan menyebarkan hoaks. Tapi, memberi pencerahan, kesadaran dan pengetahuan yang positif tentang pentingnya pilihan politik bagi masa depan bangsa,” ungkapnya.

Karena itu dia  meminta para caleg dan parpol tak saja bersinar di medsos, tapi juga mengakar di tengah masyarakat. “Itulah politik interpersonal yang bisa meningkatkan partisipasi rakyat dalam pemilu,” pungkasnya.


 

 

Penulis : ak
Editor   : wied