Penantian 28 Tahun dan Asa Mengulang Sejarah di Manila

282

Pemain Timnas U 22 mencium Trophy setelah menjadi juara Turnamen Piala AFF U 22 di Pnom Phen, Kamboja. Asa disematkan ke tim tersebut untuk mampu meraih Medali Emas di Sea Games Manila Desember mendatang. (Foto :Dok)

Stadion Rizal Memorial, Manila  4 Desember 1991  menjadi saksi bisu torehan prestasi Timnas Sepakbola Indonesia.  Malam itu digelar babak final pertandingan memperebutkan medali emas Sea Games. Indonesia mencoba menantang Thailand yang lebih difavoritkan.  Pasalnya Tim Gajah Putih tersebut adalah semifinalis Asian Games  tahun 1990.

Timnas Indonesia  dibesut  tiga pelatih masing-masing Anatoly Polosin, Danurwindo dan Harold  Urin ternyata membuat kejuatan dan  merebut medali emas sepakbola. Materi pemain yang dibawa mayoritas adalah pemain usia 23 tahun.  Hanya ada empat pemain senior, masing-masing Feryl Raymond Hattu, Hanafiq, Roby Darwis dan Edy Harto.

Bermodal kekompakan, Timnas Indonesia mampu bermain kompak dan bertenaga.  Hingga pertandingan berlangsung  120 menit setelah perpanjangan waktu, skor tidak berubah . Penentuan juara dilakukan melalui adu penalty.  Kendati sempat ketinggalan dua gol, Indonesia akhirnya mampu memenangkan pertandingan dengan skor 4-3. Tendangan pemain bertahan Sudirman menyudahi pertandingan final yang mendebarkan. Puluhan ribu pasang mata supporter Indonesia menyaksikan dengan dada berdebar  melalui layar televisi.

Indonesia akhirnya mampu membawa pulang medali emas dari cabang  olahraga paling bergengsi di pesta olahraga dua tahunan kawasan asia tenggara tersebut.  Torehan itu merupakan kali kedua, setelah tahun 1987 di Sea Games Jakarta, Timnas Indonesia juga mampu meraih emas.  Yang perlu dicatat dari prestasi Timnas  di Sea Games 1991 tersebut,  racikan tangan dingin  Polosin yang merupakan pelatih  dari Uni Sovyet  mampu membuat pemain kompak dan memiliki stamina yang kuat. Pola latihan yang mengutamakan kebugaran fisik membawa dampak. Pemain Indonesia mampu tampil bertenaga selama 90 menit. Bahkan hingga perpanjangan waktu dan babak adu penalty.

Prestasi  di Sea Games 1991 tersebut  merupakan prestasi tertinggi  yang diraih di cabang sepakbola  Sea Games. Setelah itu Timnas Indonesia seperti miskin prestasi di ajang yang sama.   Berulangkali Tim Garuda  gagal meraih medali emas, bahkan kadang harus kandas di babak penyisihan. Ironis memang.

Tahun 2019 Sea Games ke XXX kembali digelar di Manila.  Asa untuk  mengulang sejarah meraih medali emas sepakbola kembali mengemuka.  Harapan itu  didasari prestasi Timnas Indonesua U 22 yang mampu menjadi juara di Turnamen Piala  AFF U 22  tahun 2019 di Kamboja.  Pasalnya Tim Garuda Muda mampu menaklukkan Thailand 2-1 di partai puncak.

 Prestasi gemilang yang diraih tim yang dilatih Indra Syafrie di Piala AFF U 22 seperti menjadi pelipur lara dari penantian panjang prestasi Timnas. Apalagi prestasi itu didapat ketika PSSI-induk organisasi olahraga sepakbola Indonesia dirudung masalah terkait  karut marut kasus pengaturan skor. Tak heran apabila harapan kembali disematkan kepada Timnas U 22.

Harapan yang wajar, karena kita terakhir menjadi juara di Sea Games tahun 1991. Di Sea Games, pemain yang boleh diturunkan adalah pemain U 23. Materi pemain Timnas U 22 yang baru saja berjaya di Piala AFF kemungkinan akan menjadi kerangka tim yang tampil. Publik sepakbola berharap Indra Syafrie tetap diberi kepercayaan untuk menangani tim ini di Sea Games Manila.

Saat konferensi pers ketika tiba di tanah air, Rabu (27/2), Indra Syafrie mengatakan raihan juara di Piala AFF 2019 bukan target utama. Dia masih menginginkan untuk meraih medali Emas di Sea Games 2019 dan lolos dari babak kualifikasi Piala Asia U 23  tahun 2020.  Prestasi itu memang sangat dirindukan. Kebetulan Sea Games 2019 berada di negara yang sama ketika Timnas Indonesia meraih medali emas  Sea Games tahun 1991. 

Penantian selama 28 tahun untuk kembali meraih medali emas  Sea Games bukan waktu yang pendek.  Dukungan dan doa kepada Timnas UU 22 agar bisa tampil prima dan meraih medali emas Sea Games 2019  terus digelorakan. Indra Syafrie harus bisa memanage  timnya agar tidak cepat puas dan tetap berpijak di bumi untuk menatap Sea Games 2019.

Asa membumbung tinggi.  Dengan modal kekompakan, kerjasama, kepercayaan supporter dan dukungan segenap pecinta sepakbola Indonesia, diharapkan medali emas di Sea Games 2019 bisa dibawa pulang ke tanah air.  Kita semua menunggu racikan tangan dingin Indra Syafrie. Pelatih sederhana ini  sebelumnya juga mampu membawa Timnas U 16 meraih juara di Piala AFF U 16 di Sidoarjo tahun 2013.

Timnas U 22 membuktikan bahwa sepakbola Indonesia masih ada.  Di tengah berbagai persoalan yang membelit PSSI, ternyata  pelatih dan pemain  terus memperjuangkan prestasi sepakbola nasional .  Semoga Sea Games 2019 menjadi titik balik bangkitnya sepakbola Indonesia, selain pembenahan di organisasi PSSI tentunya.  Pada Timnas UU 22 harapan itu kita sematkan.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt