Tabayyun Penangkal Hoax

  • Oleh Imam Ibnumalik
260

Sayyidina Ali  pernah berkata, “Bila kebaikan meliputi satu masa beserta orang-orang di dalamnya, lalu seseorang berburuk sangka terhadap orang lain yang belum pernah melakukan cela, maka sesungguhnya ia menzaliminya. Tetapi apabila kejahatan telah meliputi satu masa disertai banyaknya yang berlaku zalim, lalu seseorang berbaik sangka terhadap orang yang belum dikenalnya, maka ia akan mudah tertipu.”

Sedungu apakah manusia terhadap  internet? Terindikasi sebanyak 800 ribu situs internet penyebar hoax dan ujaran kebencian merupakan pemicu terjadinya adu domba dan perpecahan pada masyarakat. Kedok agama berperan penting dan dominan pada permainan ini. Dunia maya menjadi lumbung kepentingan doktrin bagi kalangan tertentu untuk menumbuhkan sikap fanatik melalui suguhan data dan isu-isu palsu kepada kalangan masyarakat. 

Data yang dirilis oleh International Telegraph Union (UTI),  pengguna internat telah berkembang menjadi penetrasi global sebesar 40,4?ri populasi sebesar tiga miliar orang. Tentunya pesatnya perkembangan informasi telah mengubah cara banyak orang dalam hal membaca, bertukar pikiran, hingga saling mengirimkan pesan dan informasi dengan cara yang cepat, seperti mampu melayani kebutuhan dengan mudah  mulai dari jasa, hal-hal pribadi seperti pembayaran kebutuhan rumah tangga, transfer uang, belajar mengajar, hingga menjadi suatu lahan usaha yang menguntungkan dikarenakan jasa atau produk yang ditawarkan mendapat akses secara global, yang artinya setiap informasi yang dipublish dapat dikonsumsi oleh pengguna internet seluruh dunia.  

Asosiasi Penyelenggra Jasa Internet Indonesia (PJII) menyatakan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2015 mencapai lebih dari 132 juta pengguna. Dari total jumlah penduduk 265 juta jiwa di 2015 (menurut, BAPPENAS), pengguna Internet terus meningkat mencapai lebih dari 50 persen pengguna.

Banyaknya informasi dan isu yang beredar dengan sumber yang berbeda-beda belum tentu menjamin kebenaran informasi tersebut.

Disahkannya UU ITE 2016, merupakan langkah bijak pemerintah sebagai wujud pedulinya Negara agar masyarakat cerdas dalam menggunakan internet. Hal ini dianggap perlu dengan banyaknya cacian, mem-bully satu sama lain, bahkan menyebarakan fitnah dan hoax. Tentu 800 ribu situs bukanlah angka yang bisa dibilang sedikit.

Meskipun demikian internet tidak melulu memiliki konotasi negatif, lebih tepat sebagai pisau bermata dua. Sebab beredarnya suatu kabar dari berbagai sumber, seringkali menjadikan berita tersebut harus diteliti kebenarannya.

Upaya yang selektif dalam konteks menyikapi suatu kabar atau informasi yang datang, telah di jelaskan dalam Al-Qur’an surah Al Hujrat ayat enam, terkait persoalan menyikapi suatu informasi atau berita dengan cara yang disebut tabayyun, dan ditemukan sebanyak 10 kali, yaitu bersungguh-sungguh mencari kejelasan dari informasi yang didapat dari berbagai aspek dan prospektif. Sudah tentu hal ini memberikan anjuran kepada manusia agar tidak tergesa-gesa dalam menyikapi suatu berita yang didapat.

Konsep tabayyun ini juga memberikan kedewasaan berfikir dan kebijaksanaan bertindak dalam menyikapi berbagai informasi maupun fenomena yang sedang terjadi. Adapun beberapa upaya yang ditawarkan guna bertumbuhnya sifat tabayyun adalah pertama, Tidak dengan mudah percaya begitu saja terhadap informasi yang didapat dengan cara mencari berita dari sumber portal resmi yang terpercaya, kemudian membandingkan isi dan intisari dari suatu berita. Kedua selidiki sumber dan faktor apa saja yang mempengaruhi muncul dan datangnya suatu informasi hingga seberapa baik kredibilitas dari sumber yang mengabarkan. Kemudian mancari duduk masalahnya, ialah sudah sepatutnya kita mengetahui asal usul dari suatu masalah dan melacak sumber yang benar.

Selanjutnya teliti dalam membaca sebuah informasi. Ketelitian diperlukan guna menganalisis informasi yang datang, apakah merupakan informasi yang benar atau suatu upaya untuk menimbulkan provokatif. Berikutnya jangan mudah menyebarkan berita tanpa telaah terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan kebanyak orang membagikan dan menyebarkan suatu berita berupa gambar, dan video dengan hanya berdasarkan judul yang bombastis tanpa menelaah suatu informasi yang didapatkan. Serta yang terakhir adalah mempelajari berbagai tools yang dapat menganalisa suatu informasi. Salah satunya seperti Hoax Buster Tools (HBT) karya Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO).

Sikap tabyyun adalah perilaku teliti dan tidak mudah terombang-ambing oleh kabar yang belum jelas kebenarannya. Sikap ini memliki korelasi yang erat terhadap terbentuknya kedewasaan berfikir ditengah-tengah pesatnya perkemabangan teknologi informasi. Hingga pada akhirnya kualitas individu yang baik tentu menciptakan mayarakat yang baik pula. Sebab kesadaran dimulai dari diri sendiri. Membekali kualitas tiap individu merupakan kunci terciptanya suatu masyarakat yang maju pola pikirnya, kesadaran dalam menyikapi berbagai persoalan, hingga tidak dapat dipungkiri akan berpengaruh pada kemajuan bangsa. Wallahu a’lam bishawab.

 

Penulis Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Unissula - Semarang

Penulis : -
Editor   : edt