Konten Kreatif Destruktif Racuni Masyarakat

  • Opini Putri Dewanti
175

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi saat ini tak bisa dihindari dari kehidupan masyarakat. Namun disayangkan, melubernya informasi yang destruktif  bisa meracuni masyarakat karena berdampak buruk. Salah satunya adalah munculnya situs yang memuat konten kontroversial Lambe Turah dan Telegram misalnya.

Adanya berbagai jenis media massa dan situs online yang mudah diakses masyarakat makin berkembang pesat. Mereka menyajikan sejumlah pemberitaan dengan suka-suka mereka. Tak sedikit yang mengarah pada isu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) karena Konten ini cenderung sensitif.

Ada puluhan ribu situs online di Indonesia yang mudah diakses. Belum lagi yang diluar negri. Padahal dari ribuan itu banyak yang  belum terdaftar sebagai media resmi. Jadi tidak heran kalau kontennya pun asal asalan. KemenKominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar hoax. Disatu sisi penguna internet di Indonesia nomor dua di duni,setelah amerika serikat.

Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik, yang berbunyi, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/ atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA)”.

Media massa elektronik sendiri dimulai sejak internet masuk ke Indonesia pada tahun 1990-an. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 132,7 juta pengguna. Dalam waktu dua tahun, jumlah pengguna internet di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 44,6 juta pengguna jika dibandingkan dengan jumlah pengguna internet tahun 2014 yang hanya mencapai 88,1 pengguna. Dari jumlah tersebut, sebanyak 47,6 persen atau setara dengan 63,1 juta pengguna internet menggunakan smartphone atau telepon pintar sebagai perangkat untuk mengakses internet. Sementara itu, jenis konten yang paling sering dikunjungi oleh pengguna internet adalah toko belanja online dengan jumlah 82,2 juta atau sebesar 62 persen.

Selain itu, situs media sosial yang sering dikunjungi adalah Facebook yang mencapai 54 persen atau 71,6 juta pengguna. Kemudian karena besarnya minat masyarakat tersebut, banyak dimanfaatkan oleh perusahaan untuk mempromosikan atau mengiklankan produknya.

Karena banyaknya tawaran untuk iklan dari perusahaan, kemudian fungsi media massa mulai bergeser. Fungsi media untuk masyarakat adalah untuk memberikan edukasi, informasi, dan hiburan. Hal ini kemudian lama lama bergeser dan tergerus oleh kebutuhan profit. Banyak dari media yang tidak terdaftar akan mau memuat konten yang kurang mencerminkan ketiga fungsi media dengan syarat media mendapat keuntungan profit yang lebih banyak. Hal ini akan membawa dampak destruktif yang akan ditimbulkan untuk masyarakat.

Bagi sebagian media online, konten yang terbaru dan terhangat sangat penting karena ini akan menarik minat baca masyarakat. Tidak hanya itu suatu konten juga harus menarik dan unik, serta kreatif, karena akan ada banyak sekali media yang juga akan memuat konten serupa. Ini merupaan persaingan yang dilakukan dengan sangat cepat, karena melalui media online. Oleh karena itu kadang media lebih memilih menggunakan kata kata yang berlebihan dan penambahan lain lain pada konten yang sama. Misalnya seperti konten berita tentang mabuk pembalut. Banyak media menyoroti berita tersebut, namun yang paling tersebar luas adalah berita yang memuat kronologi cara pembuatan. Dengan pemuatan konten yang sembrono tersebut tentunya akan membawa dampak yang tidak biasa.

Menurut Mc Luhan, Baudrillard mengatakan medium adalah pesan itu sendiri (1970;79). Ia menegaskan bahwa informasi melahap isinya sendiri. Ia melahap isinya sendiri. Ia melahap komunikasi dan social karena dua hal. Pertama, alih alih mengkomunikasikan, informasi menghabiskan tenaganya untuk presentasi komunikasi. Alih alih memproduksi makna informasi menghabiskan tenagaanya untuk presentasi makna. Suatu bentuk simulasi. Kedua, dibalik presentasi komunikasi yang menguras tenaga berlebihan itu, media massa, informasi melanjutkan destruksi social.

Sebagai konsumen media, seharusnya kita lebih cerdas dalam memilih informasi, mencari informasi yang sama dimedia yang lain dan mencari sumber media yang terpercaya. Karena ddengan melakukan hal hal tersebut, maka kita akan mendapat informasi yang memang benar sebuah fakta.

 

Penulis adalah Mahasiswi Ilmu Komunikasi Unissula, Semarang

Penulis : -
Editor   : edt