Gengsi yang Berubah jadi Hobi

  • Opini Febriati Dewi Evisya
204

Apa itu kebahagiaan sesungguhnya?. Sebagian orang berfikir, kebahagiaan sesungguhnya terletak pada kebahagiaan duniawi yang mereka peroleh untuk dirinya masing-masing dalam menjalani hidup. Bahkan demi mengikuti tren, orang-orang akan berlomba mencari kesenangan demi mewujudkan gaya hidup yang mereka paksakan agar sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Mereka tidak memperdulikan status ataupun keadaan yang saat ini sedang mereka hadapi. Bahkan seandainya mereka mampu bersaing dalam bergaya, itu sudah merupakan puncak kebahagiaan yang bisa membuat mereka tertawa lebar karena merasa berhasil.

Lahirnya sifat gengsi merupakan salah satu penyebab sikap hedonisme atau sebuah konsep diri, dimana gaya hidup seseorang dijalani sesuai dengan gambaran yang ada dipikiranya (Sarwono 1989:14). Dari pengertian hedonisme dapat dipahami bahwa manusia akan selalu bertindak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Saat otak berfikir “aku harus seperti ini”, “aku harus seperti itu”, “aku harus seperti dia” maka dengan kesadaran penuh kita akan menuruti pemikiran tersebut.

Seperti hantu, gengsi pasti selalu muncul jika diri sedang berhadapan dengan sekumpulan orang yang berada di atas kita, entah itu dalam hal fashion, keuangan, barang bawaan ataupun kendaraan yang kita naiki. Dan pastinya diri kita akan merasa kurang percaya diri jika tidak bisa mengimbangi orang-orang yang menjadi lawan main kita.

Mahasiswa merupakan salah satu penganut sifat gengsi, dimana masa dunia perkuliahan bukan hanya sebagai ajang pencarian ilmu tapi juga dalam hal pencari kemampuan. Namun banyak dari mahasiswa yang salah mengartikan 'kemampuan' sebenarnya dan malah berujung pada kemampuan mereka untuk saling berkompetisi menunjukan apa yang mereka punya.

Hidup jauh dari tempat tinggal dan berkenalan dengan banyak orang dari berbagai kalangan daerah yang berbeda, membuat sifat dari dalam diri mahasiswa juga ikut berubah seiring dengan berjalanya waktu.

Entah sadar atau tidak mereka akan saling menyesuaikan diri masing-masing dengan pergaulan yang mereka jalani, dan secara tidak langsung mereka akan saling memprovokasi satu sama lain untuk berpenampilan lebih dari apa yang sudah mereka miliki dan bergaya melewati kapasitas yang mereka punya. Contohnya, rela mengumpulkan uang jatah bulanan hanya untuk membeli sepatu branded yang sebenarnya sedang tidak dibutuhkan hanya karena tidak ingin kalah saing dengan yang lain, sedangkan sebelum berkuliah fashion bukanlah hal yang harus diperdulikan. Tidak hanya itu, sikap gengsi juga membuat para mahasiswa rela berbohong tentang diri mereka masing-masing kepada banyak orang demi terwujudnya kebahagiaan dalam diri mereka.

Tidak sedikit mahasiswa yang bergaya dengan penampilan ‘wah’ di dunia nyata maupun di dunia maya, yang mampu mengundang perhatian dari banyak orang yang melihat. Mereka akan terus berusaha agar bisa dilihat oleh orang lain melalui gengsi dan mengesampingkan tujuan awal mereka merantau yaitu untuk mencari ilmu. Harapan serta keinginan awal mereka untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi seakan menjadi hal yang bukan lagi dijadikan prioritas utama, melainkan pemikiran mereka yang terus mencari kebahagiaan untuk diri mereka sendiri dengan cara apapun.

Bisa melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi ternyata belum mampu membuat para mahasiswa berfikir realitas, bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya itu berasal dari nasib baik yang menghampiri mereka sehingga mereka masih mampu melanjutkan pendidikan dan bukan untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting seperti mengutamakan penampilan atau gaya hidup dari pada berfokus pada tujuan awal mereka untuk berkuliah.

Gengsi seperti sudah menjadi kebiasaan yang mereka sukai dan berakhir menjadi hobi yang mereka turuti.“ah aku malu!”, kata-kata itu seakan menjadi senjata boomerang yang terus muncul difikiran mahasiswa saat mereka dihadapi dengan situasi dimana mereka tidak bisa menyaingi gaya lawan mainya, sehingga mereka tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang mereka punya. Seperti itulah jika gengsi terus dipelihara, tidak akan mempunyai akhir yang pasti.

 

Penulis, Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Ilmu Komunikasi UNISSULA

Penulis : -
Editor   : edt