Bangunan Kuna di Magelang Ditawarkan ke Wisatawan


Salah satu bangunan kuna yang ada di Kota Magelang yakni Water Torn ( menara air) karya arsitektur Herman Thomas Karsten yang ada di Alun-alun Kota Magelang dan potensial jadi daya tarik wisatawan asing dan domestik juga GPIB Beth-El di Kota Magelang di Jalan Diponegoro. Foto: Widiyas Cahyono

MAGELANG, WAWASANCO- Pemerintah Kota Magelang saat ini sedang merumuskan   pemanfaatan berbagai bangunan kuna di  Kota Magelang dan sangat potensial sebagai daya tarik pariwisata.

“Di Kota Magelang ini banyak sekali  bangunan kuno  peninggalan penjajah Belanda dan sangat potensial sebagai daya tarik wisatawan,” kata Walikota Magelang Sigit Widyonindito.

Sigit mengatakan, bangunan-bangunan kuna  yang ada di Kota Magelang tersebut sering  dikunjungi wisatawan, terutama  wisatawan nusantara. Namun, tidak sedikit wisatawan asing khususnya dari Belanda yang sengaja datang ke Magelang untuk napak tilas saat kecil di kota yang pada zaman Belanda terkenal dengan sebutan “Tuin Van de Java” atau kebun bunganya Pulau Jawa.

Bangunan kuna tersebut seperti bangunan kantor Residen Kedu,  di dalamnya terdapat Museum Diponegoro dan Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, bekas sekolah  pendidikan guru (Kweekschool) yang sekarang menjadi Kantor Dispendukcapil Kabupaten Magelang, Kantor Polres Magelang Kota dulu sekolah Mosvia (Sekolah Pamong Praja),  tiga bangunan Plengkung yang ada di Jalan Ade Irma Suryani, Jalan Piere Tendean dan Jalan Daha , Water Torn (Menara air) di Alun-alun Kota Magelang dan lainnya.

Sigit mengatakan, dirinya telah meminta kepada Kepala Bappeda Kota Magelang  untuk merumuskan  terhadap rancangan bangunan-bangunan kuna tersebut untuk “dijual” kepada wisatawan baik nusantara maupun mancanegara.

‘’Saya minta kepada Bappeda dan instansi terkait lainnya untuk merusmukannya. Baik bangunan kuna maupun museum bisa menjadi destinasi unggulan untuk menguatkan daya tarik kunjungan ke Kota Magelang,’’ katanya.

 

 

 

Penulis : widias
Editor   : wied