Pemilu 2019 Pertarungan Indonesia Masa Depan Lawan Orde Baru

30

Diskusi 'Konsolidasi Demokrasi Pasca Soehato. Masa Depan Vs Masa Lalu' dengan narasumber Arbi Sanit, anggota DPR Lukman Edy dan Ahmad Baidowi serta Titi Anggraeni (Direktur eksekutif Perludem).

JAKARTA, WAWASANCO- Direktur  Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens pencoblosan yang tinggal dua hari lagi merupakan memontum bagi bangsa ini dalam menentukan nasibnya. Menurut Boni dalam pemilu sekarang ini ada dua kekuatan yang sedamg bertarung yaitu kekuatan Orde Baru yang sedang dibangkitkan kembali  dan kekuatan yang sedang membangun masa depan bangsa untuk menjadi lebih besar. 

''Pilihan ada ditangan Anda. Namun kami berharap pilihan itu harus rasional,''kata BoniHargen disela-sela diskusi 'Konsolidasi Demokrasi Pasca Soehato. Masa Depan Vs Masa Lalu' dengan narasumber Arbi Sanit, anggota DPR Lukman Edy dan Ahmad Baidowi serta Titi Anggraeni (Direktur eksekutif Perludem). 

Menurut Boni, menjelang pemilihan presiden 2019 kita dihadapkan pada suatu fenomena munculnya kekuatan-kekuatan politik yang kembali mengimajinasi kebesaran orde baru. Muncul kekuatan politik yang ingin mendewakan kembali ke masa lalu. Muncul kekuatan politik yang ingin membela masyarakat dengan narasi-narasi yang  membelah kelompok Islam dari non Islam membelah etnik tertentu dan etnik yang lain. ''Mereka juga  membangun cerita-cerita yang membuat integrasi sosial kemasyarakatan kebangsaan kita menjadi sebuah masalah,''katanya. 

Karenanya, lanjut Boni, pemilu yang tinggal dua hari lagi ini merupakan memontum momentum yang menentukan sejarah Indonesia ke depan.  Pilihannya, kata Boni, ada di tangan pemilih, apakah mereka ingin bangsa ini dikendalikan lagi oleh kekuatan-kekuatan orde baru atau ibgin dikendalikan oleh kekuatan yang ingin membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar. ''Kita berharap Pemilu menjadi lebih rasional lebih bijaksana untuk melihat siapa di belakang para kandidat sehingga tidak asal memilih,''jelas Boni. 

Lebih jauh Boni mengatakan masyarakat harus melawan secara bersama segala bentuj narasi yang mengancam ketahanan dan idiologi bangsa.  ''Proses politik yang di bangun atas kebohongan narasi hoax semuanya ini harus kita lawan juga dengan akal sehat,''tegas Boni. 
Sementara itu anggota mntan anggota DPR dari Fraksi PKB, Lukman Edy melihat ada kegamanangan Komisi Pemilihan Umum (KPU) menghadapi narasi-narasi dari para tokoh yang ingin mendeligitimasi pemilu. Seharusnya, lanjut politisi PKB ini, KPU harus berani mengambil sikap tegas.  ''Janhan gamang kalau ada yang ingin mengancam people power. Ini harus dilawan,''katanya. 

Penulis : ak
Editor   : edt