Penghormatan Dosen dan Mahasiswa bagi Prof Agus Maladi

  • Menjelang 40 Hari Meninggalnya Sang Guru

Suasana malam penghormatan untuk Prof Agus Maladi di aula FIB Undip, Sabtu malam (20/4). Para sahabat, dosen,mahasiswa, dan kolega almarhum hadir dalam acara ini. – Foto: Dok IKA FIB Undip)

 

SEMARANG- Sekitar 150-an mahasiswa, alumni, dan para dosen Fakultas Ilmu Budaya Undip berkumpul di aula kampus FIB Tembalang, Semarang, Sabtu malam (19/4). Mereka bersama-sama mengenang sekaligus memberikan penghormatan kepada senior, dosen, dan sahabat yang berpulang 15 Maret 2019 lalu, Pro Dr Agus Maladi Irianto MA.

Acara ini semula memang digagas Ikatan Alumni FIB Undip. Sekjen IKA FIB Dr Teguh Hadi Prayitno menyebut, kegiatan ini sudah digagas sejak jenazah almarhum Prof Agus yang juga biasa disapa Prof AMI hendak diberangkatkan ke auditorium Undip untuk mendapatkan penghormatan sebelum pemakaman. Selanjutnya disambut dan ditindaklanjuti oleh dosen dan mahasiswa. “Yang menjelang 40 hari wafatnya Mas Agus, kami bersama-sama memberikan pesembahan untuk almarhum,” kata Teguh.

Acara diawali dengan baca puisi oleh Basa Basuki, alumnus yang juga salah satu murid Agus Maladi. Beberapa puisi karya seniman gondrong ini dibacakan, kemudian ditambah kesakasian tentang sang Guru, Prof Maladi.

Ketua Umum IKA FIB Undip Agustina Wilujeng Pramesti menyatakan, Prof AMI adalah sosok teladan. Para mahasiswa diminta beajar tentang almarhum. “Buka file tentang beliau, pelajari apa yang dikerjakannya, cermati karya-karyanya. Banyak yang bisa kita contoh dari beliau,” kata anggota DPR RI ini.

Dalam kesempatan itu juga disampaikan kesaksian atau testimoni dari beberapa junior almarhum seperti Aridho dan Mujid, keduanya dosen FIB Undip. Aridho, misalnya, ketika dia ditantang untuk pimpinan SEU (Service English Unit) sebuah lembaga di bawah kampus FIB. “Saya menjawab siap,” katanya.

Hal yang juga diingat dari almarhm adalan pesan agar Aridho tidak mengubah penampilan. “Jangan takut dianggap berbeda, pertahankan yang menjadi ciri Anda,” pesan AMI kala itu. Dan, itu tetap diingat sampai sekarang, Aridho pun mempertahankan penampilannya dengan selalu mengenakan blangkon dalam kesempatan apapun.

Seorang sahabat Prof AMI sejak SMA, Widiyartono R juga memberikan kesaksiannya sebagai teman yang sudah sejak tahun 1978 mengenalnya. “Saya sudah berteman dengannya sejak SMA, lalu masuk Fakultas Sastra, bekerja bersama-sama menjadi wartawan di media yang sama. Maka, ketika beliau meninggal, saya tidak kuasa menahan tangis. Bahkan ketika ayah, ibu, dan adik saya meninggal pun saya tidak menangis,” katanya.

Dikenangnya juga, meskipun sama-sama seangkatan dan bareng-bareng kerja, AMI banyak memberikan bimbingan, khususnya dalam bidang tulis-menulis. Tentang pemilihan diksi yang mampu menjadikan sebuah kata menjadi “berdarah”, sehingga pembaca atau pendengar merasakan bahwa kata yang disebut menjadi lebih “berdaya”.

Sementara itu, Mujid Farihul Amin, dosen FIB yang ser g bersama-sama melakukan penelitian bersama Prof AMI mengakui, almarhum adalah peneliti yang luar biasa, selain kegoatan-kegiatannya di bidang kesenian.

Begitu pula apa yang disampaikan kolega almarhum, Nasrun M Yunus, yang sama-sama membangn Teater Waktu. “Saking dekatnya sama Agus, saya diminta untuk melamar saat dia akan menikahi An Lisnawati,” tuturnya.

Memangm terlalu banyak yang bisa dicatat dari Agus Maladi Irianto . Sayang, ketika tenaga dan pikirannya amsih sangat dibutuhkan, dia harus menderita sakit cukup lama. Sekitar setahun keluar-masuk rumah sakit, hingga akhirnya meninggal di RS Dokter Kariadi 15 Maret lalu.

Meskipun Prof Agus Maladi telah tiada, tetapi banyak yang ditinggalkannya. Karya-karya buku dramanya Opera Bulan Sepotong, Opera Sapu Tangan, dan lain-lain. Belum lagi karya filmnya, buku-bukunya, masih banyak yang bisa dipelajari dan diteladani dari almarhum.

Maka, dalam acara persembahan semalam juga ditampilkan pentas teater Opera Bulan Sepotong yang dimainkan oleh para mahasiswa FIB Undip yang tergabung dalam Teater Emper Kampus.


 

 

Penulis : er
Editor   : wied