Mahasiswa UMP Temukan Alat Penolong Serangan Jantung

83

Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan UMP menunjukkan alat Prejaru yang bisa digunakan sebagai alat pertolongan dini serangan jantung. (Foto :Joko Santoso)

PURWOKERTO, WAWASANCO- mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan  Universitas Muhammadiyah  Purwokerto (UMP)  berhasil menemukan  alat  untuk pertolongan dini serangan jantung. Alat tersebut diberi nama Phantom Resusitasi Jantung Paru (Perjaru). .Mereka adalah Runi Pramesti Putr, Feni Nofalia Safitri, Sahrul Munir, dan Ari Hermawan.

Ketua tim kelompok mahasiswa, Runi Pramesti Putri mengatakan serangan jantung  merupakan penyakit yang mematikan. Sehingga membutuhkan penanganan cepat, tanggap, dan kemampuan penolong yang terlatih. "Maka kami membuat Prejaru (Phantom Resusitasi Jantung Paru) ini sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan ketrampilan masyarakat  serta pertolongan sejak dini kepada orang henti jantung dan serangan jantung," paparnya, Jumat (17/5).

Prejaru merupakan inovasi baru untuk memudahkan masyarakat dalam pertolongan sejak dini serangan jantung.  Alat tersebut  memiliki desain yang menarik, mudah dibawa kemana-mana, simple sesuai dengan bentuk tubuh manusia, dengan bahan yang berkontribusi bagus, berkualitas, dan terjangkau.

“Prejaru  dibentuk dengan triplek berlapis kemudian ditutup produk kebudayaan lokal yaitu kain batik berbahan katun. Bagian jantung phantom ini terbuat dari busa padat dilapisi kain perlak. Sehingga ketika ditekan busa terasa keras menyerupai jantung manusia dan akan mudah kembali kebentuk semula,” ungkapnya.

Prejaru ini ditambahkan lampu led berwarna merah dan hijau yang dipasang pada posisi dada kiri atas. Lampu led ini sebagai tanda apakah kompresi sudah benar pada posisi dan tekanan sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur).

"Harga pemasaran  yang sangat ekonomis dapat memudahkan masyarakat, institusi pendidikan, serta institusi kesehatan  untuk membeli Prejaru  sebagai bahan media pembelajaran," ujarnya.

Dosen UMP yang juga menjadi dosen pembimbing mahasiswa tersebut,  Ns Endiyono SKep MKep mengatakan  henti jantung ditandai dengan penurunan kesadaran, tidak adanya respon saat dipanggil bahkan saat diberi respon nyeri dan disertai tidak adanya nadi dan nafas.

"Jika kondisi ini dibiarkan terlalu lama maka hal ini dapat menimbulkan kematian. Dalam kondisi ini perlu tindakan yang tepat untuk mencegah tejadinya kematian," kata dia

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt