Seremonial Kehadiran

  • Opini Aulia A Muhammad
79

Hari ini, Senin 10 Juni, adalah hari pertama ASN bekerja lagi setelah cuti Lebaran. Dan sebagaimana biasanya, ''wanti-wanti'' untuk patuh pada aturan tersebut pun digaungkan, lengkap dengan ancaman-ancamannya. Dan dapat dipastikan, hari ini media akan meliput para pejabat, mulai tingkat kepala dinas, kepala daerah, sampai dirjen dan menteri, yang melakukan sidak soal kepatuhan untuk masuk bekerja, di instansinya. Hasilnya? Sebagaimana tahun lalu, pasti akan selalu terlihat betapa masih banyak meja-meja yang kosong, ASN yang tak masuk bekerja.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) Syafruddin menegaskan jika ASN masuk tanpa keterangan jelas, akan segera mendapatkan sanksi. Apa sanksinya? Kepala Biro Hukum, Komunikasi, dan Informasi Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) Mudzakir memastikan selain sanksi disiplin, tunjangan kinerja ASN yang membolos akan dipotong.

Ancaman sanksi ini sudah selalu diutarakan. Tapi, persoalannya, apakah efektif? Kita dapat melihat efektivitas itu dari dua sisi. Pertama, ASN memang merasa ''terancam'', apalagi dapat ditunda kenaikan tingkatnya selama satu tahun. Jadi, masuk bekerja setelah libur cuti jadi kewajiban. Kedua, karena masuk bekerja itu jadi hal ''penting'', maka kewajiban itu sajalah yang dipenuhi, sekadar masuk, mengisi daftar hadir, sudah. Jadi, efektivitas ancaman itu sekadar melahirkan kehadiran fisik, belum mental.

Maka, akan tampaklah nanti, setelah upacara dan bermaafan, meja-meja akan kembali kosong. Para ASN tidak berkantor sampai sore, dan pelayanan, hampir pasti, tidak akan dapat dimulai dengan maksimal di hari ini. Masih ''hawa lebaran'' akan jadi permakluman.

Tentu, inilah persoalan terbesar yang sampai kini belum terselesaikan. Belum ada perubahan yang signifikan untuk hadir secara fisik dan mental, dan benar-benar menjadikan hari pertama ini sebagai hari bekerja. Bukan seremonial kehadiran. Bukan sekadar setor wajah yang kuyu karena kelelahan di perjalanan dari kampung halaman, terserang macet dan halangan lainnya.

Seremonial kehadiran ini tampanya menjadi ''kesepakatan'' yang diangguki. Itu juga sebabnya, ''hadir'' di hari pertama ini lebih difokuskan pada jam-jam awal, kehadiran yang memenuhi syarat sidak. Ketika usai sidak, maka kehadiran seremonial tadi pun kehilangan fungsinya, dan ''libur'' dapat dilanjutkan.

Karena itu menjadi penting untuk ''memanjangkan'' kehadiran seremonial itu sampai penuh sepanjang jam kerja ASN, hingga petang. Cara ''terbaik'' tentu saja melakukan sidak berjenjang atau sidak berkelanjutan. Jadi, sidak dilakukan di pagi hari, siang, dan juga sore. Sidak ini bukan saja sekadar menandai kehadiran, tapi lebih utama memastikan kinerja dan pelayanan sudah kembali maksimal. Jadi, sidak berkelanjutan ini akan mengubah kehadiran seremonial menjadi kehadiran kinerja.

Tentu merepotkan memang jika harus melakukan sidak berkelanjutan. Tapi untuk kinerja yang maksimal, untuk cita-cita revolusi mental, maka pengawasan dan sanksi harus ditegakkan. Siapa tahu, pembiasaan ini akan menjadikan kehadiran kinerja menjadi hal yang rutin di lebaran-lebaran berikutnya.

Penulis : -
Editor   : lbl