Temanggung dan Wonosobo Kolaborasi Gelar Festival Sindoro-Sumbing

350

Gunung Sindoro-Sumbing yang menjadi ide festival. Insert: Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung, Woro Andijani.foto: Widiyas Cahyono

TEMANGGUNG, WAWASANCO - Dua pemerintah  yang wilayahnya berada di bawah lereng Gunung Sindoro – Sumbing yakni Pemerintah Kabupaten Temanggung dan Wonosobo berkolaborasi menggelar kegiatan budaya  Festival Sindoro Sumbing 2019.

“Festival Sindoro –Sumbing ini merupakan even yang pertama kali digelar dan direncanakan menjadi agenda tahunan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung, Woro Andijani.

Woro mengatakan, rangkaian acara Festival Sindoro Sumbing ini merupakan sebuah upaya pelestarian lingkungan melalui pendekatan kreatif dalam bentuk seni pertunjukan. Dan sebagai pelaksana kegiatan tersebut para generasi muda yang ada di Temanggung dan Wonosobo.

Menurutnya, acara yang dilaksanakan hingga 20 Juli mendatang tersebut  mengangkat kearifan lokal dan konsep seni pertunjukan yang ramah lingkungan untuk menuju kelestarian.

“Dan, tema yang dipilih yakni Lestari  berupa lestati alamnya, lestari budayanya, dan lestari masyarakatnya,” katanya.
Ia menambahkan, rangkaian kegiatan Festival Sindoro Sumbing tersebut telah diawali dengan  dilaksanakan  lomba keseninan jaran kepang yakni panggung jaranan pada 9 Juni  lalu di Alun-alun Temanggung. Pada kegiatan tersebut diikuti 18 kelompok kesenian jaran kepang yang ada di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Sedangkan enam kegiatan lainnya akan di gelar di sejumlah desa yang ada di Kecamatan Tlogomulyo, Kecamatan Kedu, Kecamatan Kledung dan Alun-alun Kota Temanggung. Yakni,  "Ngopi di Pasar Papringan Ngadiprono" Di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu pada 16 Juni mendatang,  yang berisi penjualan kopi dan kuliner lokal. Selain itu juga akan dilaksanakan sarasehan dan pameran tentang kopi.
Kemudian sarasehan budaya _(25 Juni) di Dusun Lamuk Gunung, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung. Sarasehan ini menggali konsep pelestarian dan pengembangan jaran kepang sebagai identitas kebudayaan daerah yang dapat memberikan dampak sosial ekonomi masyarakat.

“Pada 26-27 Juni mendatang akan  digelar lokakarya kostum jaran kepang di Dusun Lamuk Gunung, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo dengan menghadirkan pembicara perancang busana, antropolog, dan pakar pemasaran,” imbuhnya.

Woro menambahkan, pada 12-14 Juli  di Alun-Alun Temanggung akan digelar Java International Folk(Jifolk), yakni pertunjukan foklor tingkat internasional dengan konsep kelestarian, kearifan lokal, dan kolaborasi   sejumlah tarian dari berbagai daerah  seperti dari Blora, Banyumas, Wonogiri, Bali, Flores dan Jawa Barat.

“Selain itu, juga ada pertunjukan dari  Asean Contemporary Dance (Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Filiphina, Singapura, Thailand, dan Vietnam),” katanya.
Sebagai puncak kegiatan tersebut, pada  19-20 Juli  mendatang akan digelar sendratari Sindoro Sumbing di Lapangan Kledung, Temanggung.

Pada kegiatan ini merupakan kolaborasi Kabupaten Temanggung dan Wonosobo  dan bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan di kawasan Sindoro Sumbing, akan ikut ambil bagian dalam kegiatana tersebut Bupati Temanggung M Al Khadziq dan Bupati Wonosobo Eko Purnomo. Ias-w


 

 



 

Penulis : widias
Editor   : wied