Pro Kontra Sistem Zonasi di PPDB

194

 

Menjelang  Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), khalayak diramaikan dengan pro dan kontra sistem zonasi.  Pasalnya di sistem tersebut kuota bagi siswa berprestasi khususnya yang akan mendaftar ke Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dinilai terlalu sedikit.

Aturan PPDB tahun 2019 mengacu pada Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018.  Dalam aturan tersebut dicantumkan bahwa  zonasi dalam PPDB bertujuan untuk  mempercepat pemerataan layanan dan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia. Salah satunya dengan anak dengan lingkungan sekolahnya.  Dengan demikian anak akan bersekolah di dekat lingkungan rumahnya.

Namun protes merebak, pasalnya dalam aturan itu disebutkan bahwa  penerapan zonasi dengan kuota 90 persen untuk dalam rayon, dan hanya 5 persen untuk yang berprestasi diluar rayon. Gubernur Ganjar Pranowo juga mempertanyakan kebijakan zonasi tersebut. Menurutnya dengan sistem itu maka siswa cerdas yang sudah mempersiapkan bersekolah di sekolah yang diinginkan, terkendala aturan itu.

Ganjar bahkan secara lantang meminta Mendikbud mengubah aturan PPDB tersebut.  Dia menginginkan agar siswa berprestasi bisa bersekolah di luar rayonnya, maka kuota bagi siswa berprestasi diluar rayon dinaikkan menjadi 20 persen.

Selain itu Ganjar juga mempertanyakan soal aturan bahwa yang mendaftar  tercepat ke sekolah yang masuk zonanya akan mendapatkan prioritas untuk diterima.  Menurutnya aturan tersebut tidak fair dan akan mempersulit masyarakat.

Memang dengan sistem zonasi  yang diuntungkan adalah siswa yang berada di kota dan dekat dengan sekolah favorit. Mereka tanpa memperhatikan nilai Ujian Nasional (UN) bisa diprioritaskan mendaftar dan diterima di sekolah tersebut.

Sedangkan siswa yang nilainya bagus namun berada di pinggiran dan diluar rayon sekolah favorit yang ada di kota akan kesulitan diterima di sekolah favorit yang ada di kota. Ini yang dipersoalkan sejumlah orang tua murid sebelum PPDB SMA dimulai 1 Juli mendatang.

Di lain pihak pemerintah berargumen bahwa sistem zonasi merupakan bagian untuk pemerataan pendidikan. Dengan zonasi nantinya siswa pintar tak harus sekolah di sekolah favorit yang ada di kota.  Mereka bisa sekolah di sekolah yang ada pinggiran, jika memang dia tinggal di pinggiran.

Guru juga memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan proses pendidikan untuk menghasilkan siswa berprestasi. Bukan rahasia jika guru di sekolah kota dan favorit selama ini diuntungkan karena menerima siswa dengan nilai bagus.  Dengan sistem zonasi yang masuk sekolah favorit yang ada di kota tidak melulu siswa dengan nilau UN bagus, tapi juga siswa yang ada di zona tersebut.

Kebijakan baru memang selalu menimbulkan pro dan kontra. Semua pihak seharunya memahami dan  mencoba mencari win-win solusion.  Di Jateng Gubenur Ganjar siap menerima masukan dari berbagai pihak terkait perbaikan sistem PPDB Zonasi tersebut. Yang terpenting juga adalah bagaimana seluruh siswa bisa mendapatkan sekolah .

Ada yang lebih utama yang harus diperhatikan dalam sistem pendidikan, daripada bergelut pro dan kontra sistem zonasi.  Bagaimana guru bisa memunculkan inovasi sistem pembelajaran yang bisa memacu siswa berpikir kreatif cerdas dan memiliki skill yang mumpuni.  Karena ini menjadi modal untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi atau menuju dunia kerja.  Kepada para guru kita berharap itu bisa direalisasikan.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt