Dunia Maya dan Ujaran Kebencian

95

 

Jajaran kepolisian mulai mencegah penyebaran konten negatif terutama ujaran kebencian  yang ada di dunia maya. Baik di media sosial maupun di pesan instan. Terakhir, polisi menangkap penyebar ujaran kebencian  yang disebarkan secara berantai di aplikasi pesan instan.

Upaya itu dilakukan untuk mencegah terjadinya kejahatan cyber yang dilakukan melalui media internet, khususnya media sosial dan pesan instan. Kita tahu  hoaks (berita bohong) dan ujaran kevencian  menyebar secara masif dan sangat beragam di dua aplikasi tersebut. Di media sosial, seperti facebook penyebarannya bisa terpantau. Upaya lain dilakukan, dengan menyebar dua konten negatif  itu dia aplikasi whatshapp (WA).  Termasuk di WA Grup.

Langkah polisi menyasar uajaran kebencian  sempat menimbulkan pertanyaan sejumlah pihak. Pasalnya aplikasi WA termasuk WA grup termasuk aplikasi pribadi. Mereka yang terkena pemantauan menganggap bahwa kebebasan individu terganggu.  Namun polisi menyampaikan bahwa langkah itu dilakukan sebagai upaya mengetahui individu yang terlibat secara aktif dan langsung dalam penyebaran hoaks dan ujaran kebencian.

Polisi juga menegaskan bahwa pemantauan dan pemeriksaan hanya dilakukan di grup WA yang terbukti melanggar hukum. Jika grup WA tidak menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian tentu tak perlu resah.  Polisi hanya mengambil tindakan hukum kepada yang melanggar hukum.

Berdasarkan data, Indonesia merupakan peringkat keenam dunia soal jumlah warga yang menggunakan internet. Hampir 70% pengguna internet  di Indonesia memanfaatkannya untuk menggunakan media sosial. Muncul persoalan lagi, masyarakat kita sangat rendah budaya literasi. Akibatnya saat mereka bemain media sosial, mereka tak bisa membedakan antara hoaks dan berita yang akurat.

Ketua Presidium Masyarakat Antifitnah Indonesia Septiaji Eko Nugroho mengatakan diperlukan langkah komperehensif untuk mengantisipasi dampak hoaks yang semakin masif  di Indonesia. Menurutnya masalah hoaks di Indonesia sudah sangat rumit. Tidak cukup hanya dengan penguatan literasi.

Diperlukan langkah komperehensif karena masyarakat kita mengalami masalah literasi dan kehadiran fanatisme yang berlebihan. Langkah polisi yang mulai memantau hoaks dan ujaran kebencian  di media sosial termasuk aplikasi pesan instan perlu kita dukung penuh. Kita tidak ingin kedua konten itu semakin merajalela.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt