Indonesia Tidak Perlu Impor Beras


Dirut Bulog Budi Waseso tengah melaksanakan Panen Perdana padi kerjasama Bulog, Ikatani UNS dan BNI di kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta, di Pabelan Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo, Jumat (21/6). (Bagus Adji W)

SOLO, WAWASANCO- Direktur Utama (Dirut) Bulog Komjen Pol Purn. Budi Waseso menegaskan Indonesia tidak perlu impor beras. Karena Indonesia merupakan negara yang memiliki produksi beras.  Saat ini Bulog justru menghadapi ancaman kolaps, karena beras hasil serapan gabah petani yang cukup besar jumlahnya akan membusuk sehubungan belum bisa tersalurkan

“Saya pribadi tidak setuju dengan adanya impor beras.  Karena  impor merupakan ketidak berpihakan nyata kepada petani, bangsa dan negara”, kata Dirut Bulog Budi Waseso dalam keterangan pers usai melaksanakan Panen Perdana Padi  kerjasama Bulog, Ikatani  UNS dan BNI  di kampus  Universitas Sebelas Maret Surakarta, di Pabelan Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo, Jumat (21/6).

Stok beras yang dimiliki Bulog saat ini, lanjut Komjen Pol Purn. Budi Waseso, sebanyak 2,3 juta ton hasil serapan gabah petani. Dengan jumlah yang ada maka , pemerintah tidak perlu mengimport beras. Lebih dari itu, penyerapan gabah petani masih terus berlangsung  hingga Juli 2019 akhir. Dengan kemampuan serap 10.000 ton gabah petani/ hari  diperkirakan  Bulog masih mampu menyerap 300.000 ton beras sesuai kemampuan tampung gudang yang dimiliki . Untuk  melakukan penyerapan gabah petani, Bulog mengunakan pinjaman uang dari lembaga perbankan. Kendati Bulog memiliki stok cukup besar dari hasil menyerrap gabah petani, tetapi tidak diberi kesempatan untuk  menyalurkannya. Keadaan demikian tidak bisa dibiarkan berlarut. Karena semakin lama masa penyimpanan menjadikan kualitas produk mengalami penurunan.

Diakui, Bulog berharap bisa menyalurkan beras yang dimiliki untuk memasok program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari pemerintah. Sayangnya rencana demikian belum bisa terlaksana karena ada yang masih  mengikuti cara pandang kartel atau mafia. Masih ada oknum berharap bagian kelebihan menjadi  bagian pendapatan mereka. Padahal mereka itu abdi negara, yang sudah digaji negara tetapi masih mau cari uang lagi  dengan  cara mengorbankan kepentingan rajkyat kecil. Sehingga disimpulkan program BPNT menjadi lahan bisnis. „Selama ini Bulog selalu dibilang tidak mampu. Berasnya jelek.  Tujuannya   supaya  Bulog tidak mendapat kepercayaan lagi. Supaya beras Bulog  membusuk „, terangnya.

Pada bagian lain keterangannya ditambahkan, pihaknya tengah memperjuangkan perubahan HPP gabah petani. Persoalannya besaran harga pembelian gabah yang ditetapkan Rp 4.070 / kg oleh pemerintah sejak tahun 2015 hingga kini belum berubah . „Bagaimana kita berpihak kepada petani wong membeli harga gabahnya murah. Berarti kita hanya ngomong doang berpihak kepada petani tapi pelaksanaannya tidak pernah”, tambahnya

Pada kesempatan sebelumny rector UNS Surakarta Prof Dr Jamal Wiwoho dalam sambutannya menegaskan, meski Indonesia negara agraris namun generasi mudanya  tidak  bangga lagi dengan profesi petani. Yang paling menyedihkan, petani dianggap sebagai profesi rendahan. Padahal di luar negeri seperti di Jepang, USA dan Australia, petani disana kaya raya. Diyakin keberadaan Komjen Pol Purn Budi Waseso selaku yang memimpin Bulog akan menumbuhkan sebuah kondisi  dimana produksi  pertanian kita akan lebih baik.  Sehingga kedepannya persepsi publik terhadap produk pertanian juga akan meningkat. „Saya yakin nantinya akan ada generasi muda yang bangga terhadap profesi sebagai petani. Perlu diingat, profesi yang tidak akan berakhir di dalam kehidupan ini adalah petani. Karena kapanpun kiamat itu sebelumnya pasti makan dulu“,  jelasnya

Penulis : baaw
Editor   : jks