Polemik 'Arabisasi' dan 'Local Wisdom'


WISATA halal. Term itu lagi populer akhit-akhir ini. Terutama setelah Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Bupati Banyuwangi Azwar Anas mem-branding pantai pulau Santen sebagai Pantai Syariah. Foto-foto yang beredar pun menunjukkan para wisatawan terlihat ''homogen'', semua berjilbab, dan tak terlihat pengunjung pria. Maka asumsi pun muncul, bahwa di pantai ini, hanya muslim yang bisa masuk, dan lelaki-perempuan dipisahkan.


Polemik lalu muncul. Banyuwangi dinilai telah melakukan arabisasi, pengaraban, yang mengubur budaya lokal, suku Osing, dan terutama, tidak akomodatif pada agama dan suku lain. Lalu, tuduhan SARA pun mengalir. Tudingan ini tentu meresahkan warga dan pemkab Banyuwangi. Maka bantahan dan sanggahan pun bermunculan. Tokoh agama dan budayawan setempat membantah keras ada arabisasi di Banyuwangi.


Perwakilan dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi I Komang Sudira mengatakan, pengembangan wisata dan kebudayaan di Banyuwangi telah berjalan dengan sangat baik dan menghargai keberagaman. Seni-budaya berbasis kearifan lokal Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) digelar rutin dan semarak.


"Sampai saat ini, tidak saya temukan upaya untuk memaksakan nilai-nilai agama tertentu yang dapat merusak keberagaman yang ada. Apalagi dalam hal kebudayaan dan kesenian," terangnya.


Lalu, apa sebenarnya wisata halal yang dipolemikkan itu? Ketua Umum Perkumpulan Pariwisata Halal (PPHI) Riyanto Sofyan  menjelaskan bahwa istilah pariwisata halal itu pertama kali booming di dunia global bukan dari Indonesia melainkan dari negara-negara yang mayoritas non-muslim. Tujuannya untuk mendatangkan wisatawan muslim mancanegara, seperti warga Malaysia, Singapore, Timur Tengah, Eropa, Amerika, Australia, agar mereka tetap nyaman berwisata dan tidak melanggar larangan agama, terutama saat makan dan minum. Juga ada fasilitas untuk ibadah, seperti musala, tempat wudu, arah kiblat.


Jadi, intinya, wisata halal hanya semacam ''branding'', kemasan untuk membuat penjualan lebih meningkat. Atau bahasa kerennya,  extended services and facilities for muslim travelers, sebanding dengan branding vegetarian untuk wisatawan India/Hindu.


Jadi, sebagai kemasan, sebenarnya ''isi'' tidak akan berubah banyak. Halal adalah jaminan agar wisatawan muslim mendapatkan kenyamanan dan kepastian agar selama berwisata terjamin untuk menjalankan ajaran agamanya, dan terhindar dari hal-hal yang dilarang. Jadi, bukan mengebiri local wisdom, eksklusif, dan abai pada lokalitas sebagai bagian integral dari pariwisata. Apalagi menghormati budaya dan tradisi lokal itu adalah bagian dari Kode Etik Pariwisata Dunia, yang telah diratifikasi oleh UNWTO, di mana kegiatan pariwisata harus menghormati budaya dan nilai lokal  agar tidak meresahkan masyarakat di sekitar destinasi.


Maka kekhawatiran bahwa halal berubah jadi syariah, seharusnya, tidak perlu dimomokkan. Karena ekskusivitas, pembatasan, kekangan, sebenarnya tidak akan cocok sebagai bagian pariwisata, yang ''mengundang'' orang luar, orang asing sebagai penikmatnya.

Penulis : -
Editor   : lbl