‘Sumpah Tanah’ Seniman Lima Gunung , Bahan Disertasi Joko Aswoyo Raih Gelar Doktor


“Presiden” Lima Gunung Sutanto Mendut didampingi Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Suwarsono Muhammad dan sejumlah wartawan  usai menerima secara simbolis buku “Sumpah Tanah” karya Joko Aswoyo. Foto: Widiyas Cahyono

MAGELANG­- Tiga hari menjelang pelaksanaan Festival Lima Gunung ke- 18 yang akan dilaksanakan di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, diluncurkan buku tentang aktivitas seni budaya dari para seniman tani dari  Komunitas Lima Gunung.

Buku yang diluncurkan di Studio Mendut, yang tidak lain rumah dari seniman Sutanto Mendut tersebut  berjudul "Sumpah Tanah", karya pengajar ISI Surakarta Dr Joko Aswoyo. “Buku ini merupakan  mukadimah  dari penelitian Joko Aswoyo untuk  tesisnya untuk meraih gelar doktor,  karena masih banyak hal bisa dikuak lebih banyak dan mendalam  dari Komunitas Lima Gunung ini,” kata Albertus Rusputranto selaku editor buku “Sumpah Tanah”, pada peluncuran buku di Studio Mendut, Selasa ( 2/7) sore.

Ia mengatakan,  buku setebal 267 halaman tersebut  isinya tentang sahabat-sahabatnya dari Komunitas Lima Gunung yang ia kenal beberapa  tahun silam dan penuh dengan kisah-kisah yang menarik.  Yakni, tentang persaudaraan dari para seniman dari lima gunung. Seperti Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing dan Menoreh.

Menurutnya, dalam buku tersebut selain berisi tentang kehidupan berkesenian dari para petani dari lima gunung tersebut dan juga berbagai macam tradisi yang masih dipertahankan di desa-desa yang ada di komunitas tersebut.

Sementara itu, Joko Aswoyo mengatakan,  “ Sumpah Tanah”  sudah lama diincarkan untuk dijadikan judul buku tersebut, karena tertarik dengan persoalan tanah sebagai media untuk “bersumpah” tidak akan menerima bantuan sponsor dari manapun dalam penyelenggaraan festival seni tahunan  tersebut.

“Sejak tahun 2010 lalu, nama Sumpah Tanah, saya pegang untuk dijadikan judul buku, karena teman-teman lima gunung sangat konsisten untuk bertekad  tidak terima sponsor dalam penyelenggaraan festival lima gunung,” katanya.

Salah satu segi yang menarik “Sumpah Tanah” tersebut dijadikan judul, karena para seniman lima gunung tersebut saat “berjanji” tidak menandatangani di atas sebuah kertas bermeterai. Melainkan membubuhkan tanda tangannya di atas permukaan tanah.

Buku "Sumpah Tanah"  tersebut dibagi dalam delapan bagian isi yang dilengkapi daftar pustaka dan berbagai foto aktivitas Komunitas Lima Gunung dokumentasi Ari Kusuma, Anis Efizudin, Amat Sukandar, Daniel SW dan Feri Ari Fianto.  Halaman sampul buku tersebut  berupa foto dari Hermawan (Kabul), seorang  penari Jingkrak Sundang karya Sujono Keron yang sedang  mencium tanah.

 

 

Penulis : widias
Editor   : wied