Penataan Molor, Pedagang Pasar Muntilan Rugi

18

Kondisi pasar baru Muntilan saat ditinjau Komisi II DPRD Kabupaten Magelang beberapa waktu lalu. (Tri Budi Hartoyo)

MAGELANG, WAWASANCO-Forum Masyarakat (Formas) Magelang menilai, molornya penempatan kembali para pedagang ke pasar baru Muntilan akibat ketidaksiapan pihak dinas instansi terkait. Fakta begitu, jelas sangat merugikan para pedagang dan masyarakat.

"Dari pengamatan kami, selama dua tahun lebih berada di pasar sementara, sebagian pedagang telah kehilangan omzet hingga 50 persen. Malah tidak sedikit yang bangkrut sebab kehilangan pelanggan," kata Ichsani, Sekjen Formas, Kamis (11/7).

Karena itu, menurut dia, bukan kebijakan yang arif jika pemindahan pedagang dari pasar darurat ke pasar baru, molor terus tanpa ada kejelasan. Bahkan berpotensi menimbulkan preseden buruk di tengah masyarakat. Terkait teknis pemindahan para pedagang, Formas juga menyarankan agar dilaksanakan sesuai aturan. Baik dalam hal penempatan maupun penentuan harga kios, los, serta lesehan.

"Dalam pandangan kami, dalam proses penataan pedagang sangat rawan terjadi pungli. Karena mayoritas pedagang pasti berkeinginan untuk dapat ditempatkan di lokasi yang strategis, mudah diakses oleh pengunjung," paparnya.

Atas dasar itu, Formas berencana untuk membuka Posko Pengaduan bagi para pedagang. Sekaligus memantau langsung di lokasi dalam pelaksanaan penempatan kembali para pedagang nanti.

Formas meyakini, pasar baru Muntilan ke depan dapat menjadi pasar tradisonal terbesar di Jawa Tengah, bahkan tingkat nasional. Karena posisinya berada di jalur utama Magelang - Yogyakarta sehingga mudah diakses oleh masyarakat dari dua provinsi tersebut.

"Dengan demikian, hendaknya dikelola dengan manajemen profesional supaya mampu menciptakan suasana bersih dan nyaman, sehingga mampu memberikan dampak positif yakni mengangkat derajad kesejahteraan masyarakat sekitarnya," kata Ichsani.

Dia mengingatkan perlunya memikirkan, agar keramaian pasar bertingkat tiga itu tidak hanya terkonsentrasi di lantai satu. Lantai dua yang menjadi tempat perdagangan, tidak bisa diabaikan seperti yang terjadi di pasar-pasar bertingkat lain seperti Pasar Secang dan Pasar Grabag. 

 

 

Selain itu, lanjut Ichsani, pengelolaan Pasar Muntilan harus memberdayakan warga di sekitarnya. Misal, memberikan dispensasi untuk mendapatkan kios/los dengan harga khusus. Atau dalam hal pengelolaan toilet dan area parkir. (TB)

Penulis : tbh
Editor   : jks