Penuhi Kebutuhan Air Irigasi di Musim Kemarau, Diberlakukan Sistem Gilir Air

40

Kepala DPSDAPR Kabupaten Brebes, H Agus As'ari BAE ST MT didampingi jajarannya memberikan penjelasan terkait sistem gilir air di aula dinas setempat, Senin (15/7). Foto. Eko Saputro

BREBES, WAWASANCO - Pemerintah Kabupaten Brebes melalui Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (DPSDAPR) pada musim kemarau ini memberlakukan sistem gilir air. Upaya ini dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan air irigasi. Penegasan tersebut disampaikan Kepala DPSDAPR Kabupaten Brebes, H Agus As'ari BAE ST MT saat dihubungi, Senin (15/7).

"Dalam pelaksanaan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi, berpedoman pada UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan dan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerinrah Daerah," kata Agus yang didampingi Kabid Irigasi dan Air Baku, Ana Dwi Rahayuning Rizki ST MT.

Agus menambahkan, pengelolaan insfrastruktur bidang irigasi ditujukan untuk mempertahankan tingkat layanan, mengoptimalkan fungsi dan membangun prasarana sistem irigasi. Termasuk, jaringan reklamasi rawa yang menjadi kewenangan kabupaten/kota dan provinsi dalam rangka mendukung program prioritas pemerintah bidang kedaulatan pangan.
"Berdasarkan Peraturan Menteri PU Nomor 14/PRT/M/2015 tentang Penetapan Status Daerah Irigasi (DI), maka di Kabupaten Brebes terdapat 461 daerah irigasi dengan luas areal 67.283 hektar," paparnya.

Agus mengemukakan, untuk kewenangan kabupaten sebanyak 449 daerah irigasi dengan luasan 25.731 hektar. 

Agus menambahkan, dalam rangka menghadapi rencana tanam pada musim tanam III tahun 2019 dan mengingat ketersediaan air di Waduk Malahayu, debit air 12.392.264 m3, volume waduk 14.517.295 m3 dan destored 2.000.000 m3, maka debit Malahayu dialirkan 3.063 l/dt dengan ketentuan dialirkan ke Malahayu Babakan 650 l/dt, dialirkan ke Malahayu Jengkolak 850 l/dt dan dialirkan ke Kabuyutan 1400 l/dt.
"Sedangkan Waduk Penjalin, volume waduk mencapai 7.000.000 m3, ketersediaannya 2.500.000 m3 dengan destored 3.300.000 m3 dan saat ini sedang dilakukan rehabilitasi waduk tersebut, jadi tidak bisa dialirkan," tukas Agus.

Dikatakan, untuk Bendung Notog debit 1.442 l/dt, debit yang diterima di Songgom 1.268 l/dt.

"Untuk wilayah Malahayu melakukan kesepakataj bersama, yakni debit air akan digilir dari waduk tersebut dengan ketentuan, 4 hari mati, 6 hari mengalir dimulai tanggal 29 Juni sampai 7 Agustus 2019. Lima hari mati, 6 hari mengalir dimulai tanggal 8 Agustus sampai 29 Agustus 2019. Lima hari mati, 5 hari mengalir dimulai tanggal 30 Agustus 2019 sampai dengan ketersediaan air habis," tegasnya.
Agus menandaskan, apabila ketersediaan  air habis/sampai batas destored 2.000.000 m3 maka secara otomatis air dari Waduk Malahayu tidak bisa dialirkan.

 

Penulis : ero
Editor   : edt