Mengenal Wayang Kentrung Asih Wirama

377

Ki Aryo Aldoko alias Pdt Petrus Mardiyanto sendang mendalang bersama para pemain kentrung. Insert Ki Aryo Aldaka (Foto: wied)

 HIDUP itu memang mengalir. Di dalam rangka mengalir itu tentu ada upaya agar dalam mengalir itu tidak terantuk batu, dan bisa sampai tujuan. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Ki Aryo Aldaka, nama panggung untuk Pendeta Petrus Mardiyanto, pendeta di GKJ Pituruh, Kutoarjo, Purworejo.

Melayani jemaat di desa maka dia harus menyesuaikan dengan kondisi di desa itu. Pada tahun 2005 menginginkan punya grup karawitan. “Tetapi kan harus punya gamelan dan membutuhkan tempat. Maka dengan seadanya kami berjalan, karena jemaat harus terlayani,” katanya.

Kemudian di rumah seorang warga, Sukeri, Ki Aryo Aldaka, dan Paino mereka menabuh gambang dan terbang (rebana). Dengan alat seadanya itu, berupa piranti seni kentrung, ternyata menghasilkan sesuatu yang kemudian diteruskan. Rumah Sukeri inilah yang sampai sekarang digunakan sebagai sanggar untuk berlatih.

“Maka 21 Mei 2008 kami mulai ibadah menggunakan kentrung pada saat ulang tahun ke-44 GKJ Pituruh. Kemudian ibadah selanjutnya bila menggunakan iringan kentrung kok jemaat tambah banyak,” ujarnya.

Ketika seni kentrung di dalam gereja itu berjalan baik, maka dua tahun kemudian, 21 Mei 2010, dia menggandeng warga di luar gereja untuk mendukung kesenian tradisional tersebut. Awalnya dibentuk kesenian jaran kepang/jathilan  (kuda lumping). Kegiatan kesenian ini sudah tidak lagi melulu untuk kegiatan gereja, tetapi sifatnya umum, dan bisa melayani tanggapan atau undangan berbayar.

Ki Aryo masih ingin terus mengembangkan seni tradisi ini di daerah pelayanannya. Dan, ternyata masyarakat setempat juga mendukung. Maka dua tahun kemudian, pada tanggal yang sama 21 Mei 2012 secara resmi terbentuklah “Wayang Kentrung Lintas”.

Petrus Mardiyanto atau Ki Aryo Aldaka memang bukan penduduk asli Pituruh. Dia berasal dari Gunungkidul, DIY. Dia menyadari, keberadaannya di Pituruh bukan karena kemauannya sendiri, bukan kemauan manusia, tetapi kehendak Tuhan. Maka dia ingin gereja juga berkenalan dengan warga dan tetangga bersama masyarakat. Gereja bukan tempat atau lembaga yang eksklusif.

Memang itu butuh proses panjang. Ki Aryo berusaha berdialog dengan seorang tokoh di sana, dan itu tidak mudah. Dia berusaha untuk bisa berdialog dengan tokoh tersebut, dan membutuhkan waktu dua tahun untuk bisa bertemu dan berdialog. Ternyata sang tokoh di desa tersebut menerima, bahkan memberikan dukungan.

 

Melayani Tanggapan

Wayang kentrung yang dibentuk tidak hanya untuk kebutuhan kegiatan ibadah di gereja. Tetapi ini menjadi kesenian masyarakat, kesenian umum, bukan eksklusifDan, kelompok kesenian wayang kentrung ini pun bukan hanya warga Kristen, tetapi juga warga yang beragama Islam.

Sebagai kesenian masyarakat, maka sering juga ada tanggapan (panggilan untuk pentas dan berbayar). “Tanggapan itu untuk kepentingan bermacam-macam. Sunatan, ruwatan, Agustusan, Suran, dan sebagainya,” kata Ki Aryo.

Tanggapan itu tidak hanya di daerah Purworejo sendiri. Wayang Kentrung Asih Wirama pernah diundang ooentas ke GKJ Tangerang, Cilacap, Sragen, Kebumen, Yogyakarta, Gunung Kidul.

Tentang ruwatan ini, memang sangat mungkin ada yang menganggap bertentang dengan ajaran agama, bahkan mungkin ada yang menilai sebagai kegiatan musrik. “Ngruwat itu nyuceni atau menyusikan, ngresiki atau membersihkan. Kristus membaptis juga dengan air, yang maknanya membersihkan dari dosa,” ujarnya.

Lakon yang dimainkan bersumber dari Mahabharata dan Ramayana. Untuk pentas sekitar satu jam, yang ditampilkan adalah gara-gara, yang isinya sangat “mentes” (bernas), bukan hanya guyon, tetapi hal-hal yang filosofis. Misalnya tentang filosofi tembang macapat. Dan, untuk keperluan liturgy, lagu-lagunya memang lagu-lagu rohani.

Wayang kentrung yang diberi nama “Asih Wirama” ini ada dua versi. Yakni versi untuk keperluan ibadah dan versi umum. Yang versi ibadah disebut “Kentrung Liturgi”, dan yang versi umum “Kentrung Lintas”. Digunakan kata “lintas”, karena di dalam kesenian tersebut pelakunya dari lintas agama. Untuk kentrung lintas yang terlibat sekitar 20-an orang.

Meski statusnya sebagai pendeta, tetapi Ki Aryo menyadari, dia juga anggota masyarakat, sama dengan yang lain. Maka, keakraban tidak hanya di dalam kelompok kesenian kentrungnya itu. Di dalam kehidupan masyarakat pun dia berusaha untuk bisa ajur-ajer bersama masyarakat, tidak melihat mereka beragama apa. Maka dia pun bersahabat dengan Komandan Banser Purworejo.

Seperti halnya dengan Paino, yang sejak awal membangun kesenian ini bersama-sama. Paino yang muslim, nyatanya juga tidak terpengaruh untuk kemudian pindah agama, meskipun banyak berkegiatan bersama-sama termasuk di gereja. “Sampai-sampai, kalau dua atau tiga harus saya tidak bertemu ibunya, saya dicari-cari. Ditanya-tanyakan, karena ibunya Pak Paino sudah menganggap saya sebagai anak sendiri,” katanya.

Petrus Mardiyanto alias Ki Aryo Aldaka memang sejak remaja sudah akrab dengan kesenian tradisional. Semasa SMP di Gunungkidul dia sudah main ketoprak. Dan, itu tetap dlakukannya semasa kuliah di Yogyakarta.

Sebagai pendeta, cara berpakaiannya juga bisa dianggap tidak biasa. Dia mengenakan sorban dan berkain, bahkan pada saat khotban dan acara-acara resmi. Seperti halnya ketika berlangsung Temu Budayawan GKJ di Purworejo beberapa waktu lalu, dia mengenakan pakaian khasnya.

Memang, agama dan kesenian atau tradisi tidak perlu dipertentangkan. Tradisi dan agama, sama-sama bagian dari budaya, dan bisa berjalan bersmaa-sama. Hanya tentu kemudian dipilah dan dipilih. Yang tidak sejalan dengan ajaran agama tidak perlu dipakai, tetapi yang tidak bertentangan justru bisa mendukung.

Masyarakat Jawa, apa pun agamanya, mestinya memang menyadari bahwa mereka tetap orang Jawa yang memeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu. Mereka menjadi orang Jawa yang beragama, dan orang beragama yang tetap Jawa.

 

Penulis :
Editor   : wied