Bupati: Silahkan Kritik Lewat Foto

113

Bupati Kudus H Musthofa saat berswafoto bersama para wartawan yang tergabung dalam PWI Kabupaten Kudus. Foto: Ali Bustomi/

KUDUS - Bupati Kudus menegaskan semua pejabat di jajarannya tak boleh lagi alergi kritik. Bupati justru berharap ada banyak kritik yang dilontarkan dan tak terkecuali lewat foto-foto jurnalistik yang dihasilkan wartawan.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan bupati saat membuka pamean foto jurnalistik 2017 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kudus di Kudus Extension Mall (KEM), Jumat (29/9).

Menurutnya, pihaknya sangat berterima kasih jika kritik yang disampaikan berdasarkan data dan fakta riil di lapangan. Menurutnya, kritikan yang masuk justru menjadi bahan untuk mengevaluasi dan meningkatkan kinerja yang muaranya pada peningkatan pelayanan dan kepuasan publik.

"Tidak masalah bagi saya untuk dikritik. Contohnya di pameran foto ini. Jangan hanya yang baik-baik saja yang ditampilkan ke publik. Yang kurang baik pun silakan saja diekspose, agar menjadi evaluasi kami dan jajaran kepala SKPD untuk terus berbenah," katanya.

Musthofa mengapresiasi pameran foto "Membingkai Kudus dari Balik Lensa" yang digelar PWI Kudus. Ia juga mendorong pejabat di Kudus untuk mencari terobosan untuk untuk mempublikasikan kinerjanya kepada masyarakat luas.

Lomba foto "Geliat Ekonomi di Pasar tradisional" yang digelar PWI Kudus menjadi contoh bagaimana melibatkan masyarakat untuk memotret perkembangan daerahnya. Dari foto-foto yang masuk, tentunya bisa dikaji kebijakan atau infrastruktur mana yang perlu dibenahi.

Ketua PWI Kudus Saiful Annas dalam laporannya mengatakan, pameran foto Jurnalistik 2017 menampilkan sebanyak 78 karya foto. Sebanyak 68 foto adalah karya wartawan, dua foto karya fotografer pemkab, dan delapan foto pemenang lomba foto "Geliat Ekonomi di Pasar Tradisional".

Sebanyak 68 foto karya wartawan memotret perkembangan Kudus dalam tiga tahun terakhir. Foto tersebut merangkum peristiwa dan perkembangan Kabupaten Kudus dalam tiga tahun terakhir. "Kenapa tiga tahun, karena memang pameran foto jurnalistik terakhir digelar tahun 2014," katanya.

Terkait lomba foto "Geliat Ekonomi di Pasar Tradisional"  tema itu sengaja diangkat untuk terus mempopulerkan pasar tradisional, ditengah menjamurnya toko modern dan mall di Kudus. Terlebih tiga tahun terakhir, Pemkab Kudus terlihat serius menata dan memodernisasi pasar tradisional agar bisa bersaing dengan toko modern maupun swalayan.

"Dari total sekitar 750 foto yang masuk, juri memilih delapan foto sebagai pemenang. Sulit bagi kami menentukan pemenang lomba. Ada sejumlah foto yang sebenarnya menarik dan sesuai tema, namun didiskualifikasi karena tidak memenuhi syarat teknis pelaksanaan lomba,"  katanya.

Penulis : ali boestomi
Editor   : awl