Datang ke MenaraKudus, Ganjar Tak Takut Rajah Kolocokro

562

KUDUS –  Tradisi buka luwur makam Kanjeng Sunan Kudus yang digelar setiap 10 Muharram atau bertepatan pada Sabtu (30/9), berlangsung cukup istimewa dengan hadirnya  Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Hal tersebut cukup menuai perhatian lantaran Makam Sunan Kudus dikenal adanya mitos rajah kolocokro yang dapat melunturkan karier seorang pejabat.

Kedatangan orang nomor satu se-Jateng itu, disambut hangat. Seperti tamu lainya, Ganjar juga mengenakan kemeja putih dan celana hitam.

Ganjar tiba di komplek Menara Kudus dan disambut langsung ketua Yayasan Masjid, Makam dan Menara Kudus (YM3SK) Nadjib Hasan, Ganjar dipeluk sesampainya di kawasan Menara Kudus.

Sekertaris YM3SK Deni Nur Hakim, menyebutkan kedatangan Ganjar Pranowo, membuat kejutan bagi pengurus. Meskipun, Gubernur Jateng itu juga diundang langsung dari penyelenggara buka luwur.

Menurut dia, dalam kegiatan buka luwur tahun ini, Ganjar tak hanya datang langsung saat prosesinya. Namun, sebelumnya Ganjar Pranowo juga menyumbang sebuah kerbau kepada penyelenggara untuk disembelih dan dibagikan kepada pengunjung.

Mitos rajah kolocokro yang membuat karier pejabat bakal turun, ditanggap enteng oleh Ganjar.  Dia mengung kapkan kedatangannya dalam acara buka luwur adalah untuk berdoa, sehingga tak khawatir akan hal tersebut.

“Lha sampeyan percaya? Percaya? Wong dongo (berdoa) kok yo,” jawabnya.

 Rajah kolocokro merupakan mitos di kalangan masyarakat Kudus. Mitos ini menyebutkan bagi pejabat yang datang ke Menara Kudus tak lama setelahnya akan lengser. Bahkan cerita tersebut sudah ada semenjak zaman Aryo Penangsang dulu.

Konon, rajah tersebut tertanam di pintu utama gapura madureksan yang menuju ke arah makam Sunan Kudus. Pada saat kedatangannya, Ganjar datang bukan melalui pintu utama Kawasan Menara Kudus. Melainkan lewat jalan samping, yang berada di sebelah timur Tajug Menara Kudus.

 Disinggung soal kedatangan, Ganjar menyampaikan ucapan terimakasih kepada masyarakat Kudus, khususnya pengelola yang telah merawat Makam Sunan Kudus dengan baik. Karena itu merupakan peninggalan yang memiliki relasi spiritual.

 “Ini mengingatkan kita kepada sesepuh atau pendahulu, serta mengingatkan kepada yang maha kuasa Gusti Allah,” jelasnya.

Sementara, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tradisi buka luwur dipadati ribuan masyarakat. Mereka berebut ribuan nasi jangkrik, nasi khas yang dibagikan Yayasan Masjid Menara setiap acara buka luwur.

Nasi jangkrik merupakan nasi dengan daging kerbau yang diolah dengan sayur yang dikenal uyah asem. Nasi khas ini menjadi makanan yang selalu menarik perhatian warga saat buka luwur.

Puncak acara buka luwur sendiri dilakukan dengan memasang kembali luwur (kelambu) yang menutupi areal makam Sunan Kudus. Luwur tersebut berupa kain mori putih yang dihias dan dipasang di areal cungkup makan selama setahun. 

 

Penulis : ali boestomi
Editor   : awl