Sensasi Wisata Jepang di Japanese Festival 2019

44

Peserta Japanese Festival 2019 menawarkan sensasi wisata ala Jepang, diselenggarakan kantor Biro Kerja sama dan Hubungan Internasional (BKHI) UKSW antusias terlibat didalamnya, Jumat (19/7). Foto : Ernawaty

SALATIGA, WAWASANCO- Japanese Festival 2019 menawarkan sensasi wisata ala Jepang, Jumat (19/7).  Kegiatan digagas Volunteer Program hasil kerjasama KGU dengan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) ini, diselenggarakan melalui kantor Biro Kerja sama dan Hubungan Internasional (BKHI) UKSW. 

Direktur BKHI UKSW Frances Sinanu, MA., menjelaskan kegiatan utama dua peserta program volunteer KGU di Salatiga adalah mengajar di sekolah mengenai budaya dan bahasa Jepang.  "Namun disamping hal tersebut, keduanya juga berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh BKHI," kata Frances Sinanu, Jumat (19/7).

Japanese Festival kali ini dapat menjangkau lebih banyak pengunjung. Nampak sejumlah siswa dari berbagai sekolah di Salatiga ambil bagian dalam kegiatan. "Mengingat bahwa KGU adalah salah satu universitas partner terlama UKSW, senang dapat menjadi perpanjangan tangan lintas budaya dari kedua negara ini," tutur Frances.

Sementara, sejumlah Volunteer yang terlibat sangat menikmati kegiatan ini. Riko Sakamoto, mahasiswi asal Kwansei Gakuin University (KGU) Jepang, misalnya.  Riko nampak sumringah saat membantu para pengunjung acara Japanese Festival 2019 mengenakan Yukata, pakaian tradisional khas negeri sakura tersebut. 
Bahkan, ia tidak keberatan saat sejumlah pengunjung mengajaknya ber-swafoto.

Di acara ini, para pengunjung juga dapat menikmati berbagai kebudayaan khas Jepang yang secara khusus disiapkan oleh dua mahasiswi asal KGU. Begitu memasuki lokasi acara di Rumah Noto UKSW, pengunjung akan diajak menyaksikan shiki atau suasana empat musim di Jepang yakni panas, semi, gugur dan dingin melalui berbagai ornamen yang dipasang di dinding dan langit-langit.

Di salah satu sudut ruangan, pengunjung juga dapat menuliskan harapannya di sebuah kertas warna untuk digantung pada pohon bambu yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Jepang pada festival Tanabata.  Di sudut ruangan lainnya, nampak sejumlah siswa sekolah dasar sedang asik bermain berbagai permainan tradisional Jepang seperti lempar ring, buncy ball scooping, dan shotgun.

Sejumlah alat permainan seperti Kamizumo, Fukuwarai, Shogi, Kendama, Daruma Otoshi, dan Koma juga turut dipamerkan. Kamiguchi, peserta Volunteer Program dari KGU menyebut dua stand lainnya turut diserbu pengunjung yang tidak hanya berasal dari lingkungan UKSW saja tapi juga masyarakat umum. Stand makanan khas Jepang yang menyediakan takoyaki, snow ice, miso soup, apple candy, serta onigiri tak kalah ramai dikunjungi.

Lainnya, masih ada stand kaligrafi membuat tulisan dengan huruf kanji. Didampingi salah seorang mahasiswi asal Jepang, pengunjung dapat menuliskan namanya dalam selembar kertas dengan tinta dan kuas. Kegiatan yang rutin digelar ini memang baru kali pertama dibuka untuk umum, sebelumnya hanya diselenggarakan di sekolah-sekolah tempat mahasiswa KGU menjadi volunteer. 

Saya Kamiguchi mengatakan dirinya dan Riko Sakamoto, peserta program volunteer KGU di UKSW periode April-September 2019 mempersiapkan acara ini kurang lebih selama satu bulan. Dibantu oleh sejumlah mahasiswa UKSW, mereka membuat properti serta miniatur kuil Jepang sebagai hiasan. 

Keduanya yang selama di Salatiga mengajar di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas  (SMA) Kristen Satya Wacana mengaku senang dapat memperkenalkan budaya Jepang pada masyarakat. Tidak hanya para siswa, sejumlah orang tua yang mengantar putra putrinya nampak mengapresiasi gelaran ini. Kristin, wali murid dua siswa SD Kristen Satya Wacana mengatakan acara ini memberi wawasan baru bagi putra-putrinya. 

Jika selama ini memperoleh informasi mengenai Jepang dari berbagai acara televisi dan internet, kali ini dirinya dapat mengajak sang anak melihat langsung sejumlah kebudayaan Jepan

Penulis : ern
Editor   : jks