Dieng Makin Mencemaskan, 15 Mata Air Surut Debitnya

127

Para Pegiat Lingkungan Cemaskan Kondisi Dieng WONOSOBO - Keindahan alam dari salah satu wisata unggulan di Jateng, yakni Dataran Tinggi Dieng tak sepenuhnya membahagiakan orang yang melihat. Bagi para penggiat lingkungan, kondisi dataran yang terletak di
WONOSOBO - Keindahan alam dari salah satu wisata unggulan di Jateng, yakni Dataran Tinggi Dieng tak sepenuhnya membahagiakan orang yang melihat. Bagi para penggiat lingkungan, kondisi dataran yang terletak di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut tersebut justru dianggap sangat mengkhawatirkan.
 
"Dataran Tinggi Dieng rusak sangat parah, karena lapisan tanahnya sudah sangat tipis. Selain itu puluhan mata air surut dan berkurang debit airnya. Sehingga sangat berbahaya dan rentan terhadap bencana tanah longsor maupun banjir," ungkap pegiat Lingkungan Dieng, Tafrikhan usai acara Kongres Mata Air II yang diselenggarakan di Balai Desa Igirmranak, Sabtu malam (30/9).
 
Menurut Tafrikhan, jumlah mata air yang ada di Dieng pada tahun 2015 sedikitnya berjumlah 25 mata air. Namun sampai Akhir 2016, ada debit 15 mata air yang surut, dan sisanya telah mengalami pengurangan debit airnya. Hal tersebut, lanjutnya, menjadikan Dieng sebagai daerah berbahaya dan harus menjadi prioritas untuk diselamatkan. "Berbahaya sekali, karena selain surutnya debit air, lapisan tanahnya sudah begitu tipis, sehingga tak mampu menahan air. Dan bila sewaktu-waktu terjadi hujan akan sangat rawan banjir," tambahnya.
 
Sementara untuk menanggulangi dampak bencana, menurut pegiat lingkungan dari komunitas Zero Waste, Kartini, berpendapat agar masyarakat Dieng tak lagi meneruskan model penanaman kentang monokultur. "Sebaiknya dimulai diversifikasi pertanian, karena semua model monokultur pertanian di setiap tempat selalu berakibat buruk bagi lingkungan di sekitarnya," tutur Kartini yang juga hadir dalam Kongres Mata Air II.
 
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Wonosobo, Supriyanto sendiri mengakui, bahwa kondisi Dataran Tinggi Dieng memang memerlukan perhatian serius. Sejak era pergantian pimpinan nasional pada masa reformasi, tambahnya, Dieng memang berubah secara drastis, karena banyak lahan perhutani beralih fungsi menjadi lahan pertanian, khususnya kentang.
 
Namun, pemerintah disebut pria yang akrab disapa Pri itu, juga telah berupaya untuk menanggulangi kerusakan Dieng. "Kami mengajak petani Dieng untuk mulai mengalihkan perhatian kepada tanaman carica, kopi dan teh serta mengolahnya menjadi aneka produk kuliner bernilai ekonomi tinggi. Agar model penanaman kentang monokultur bisa berkurang," pungkas Pri. 
 
 
 
 

 

Penulis : ia
Editor   : wied