Perajin batik khas Desa Galuh Kecamatan Bojongsari, Purbalingga sedang membatik. Mereka terus bertahan di tengah arus modernisasi. (Foto :Joko Santoso)
PURBALINGGA - Tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Hal itu dilatarbelakangi adanya pengakuan dari United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (Unesco) sebuah badan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) pada tanggal 2 Oktober 2009 yang menyatakan bahwa batik merupakan warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.
Di Kabupaten Purbalingga terdapat perajin batik yang terus berkarya. Mereka bertahan di tengah arus modernisasi. Salah satunya ada di Desa Galuh Kecamatan Bojongsari. Para perajin batik kebanyakan adalah kaum wanita yang saat ini usianya sudah tua. “Perajin batik Galuh mulai berkarya di tahun 1970 an,” kata Plt Sekdes Galuh, Misman, Senin (2/10).
Diungkapkan batik tulis khas Galuh memiliki corak yang khas. Oleh karena itu pada masanya batik tersebut banyak dicari dan memiliki harga yang bagus. Mayoritas warga desa tersebut terutama kaum wanitanya memilih menjadi perajin batik. Namun semakin hari popularitas batik khas Galuh semakin memudar. “Banyak faktor. Diantaranya karena perajinnya kekurangan modal dan pangsa pasarnya tidak jelas,’ katanya.
Dia mengatakan dari 3189 orang warganya, kebanyakan hanya menjadi buruh batik saja. Sehingga mereka kesulitan modal untuk memasarkan. Karena tak memiliki modal, pekerjaan membatik yang dilakukan turun temurun mulai ditinggalkan. Warga malah memilih bekerja sebagai buruh pabrik rambut palsu yang bertebaran di Purbalingga. “Saat ini wanita yang membatik bisa dihitung dengan jari,’ katanya lagi.
Dalam kesempatan terpisah, Kasi Pengembangan Kewirausahaan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Adi Purwanto membenarkan mengenai kondisi perajin batik khas Galuh. Namun menurutnya belakangan perajin kembali menggeliat. “Pasalnya trend penggunaan batik kembali meningkat. Terutama sejak adanya batik motif Gua Lawa yang notabene adalah batik khas Purbalingga,’ ungkapnya.
Perajin batik yang jumlahnya sekitar 60 orang saat ini mulai konsen untuk membuat batik motif tersebut. Bahkan saat ini mereka tidak hanya menjadi buruh batik saja. Selain memproduksi mereka juga memasarkan langsung batiknya. “Pemkab juga memberikan perhatian dengan membantu peralatan batik. Diantaranya cap motig Gua Lawa,’ terangnya.
Menurutnya selain melayani pemesanan batik tulis, perajin juga membuat batik cap yang harganya lebih murah. Hal itu dilakukan untuk meraih pangsa pasar yang luas. Khomsiyah, salah satu perajin mengatakan pesanan juga banyak yang datang dari luar kota. Dia berharap trend penggunaan batik bisa dipertahankan. “Sehingga perajin bisa terus eksis. Sampai kapanpun kami akan membuat batik. Pasang surut yang terjadi itu wajar adanya,” imbuhnya.
Penulis : Joko Santoso
Editor : awl