Wartawan Harus Mengkritik dan Beri Solusi


Penandatanganan MoU antara PWI Jateng dengan Stikom Semarang disaksikan Sekda Jateng, kemarin. Foto : Sunardi.

MUGAS - Wartawan harus kritis dalam setiap pemberitaannya. Tidak sekedar mengkritik, namun juga memberi solusi, ide demi kemajuan bangsa. Hal itu diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng, Sri Puryono, membacakan sambutan Gubernur Jateng saat membuka Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) di kantor Pesatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng, Jumat (20/10).

"Wartawan yang kompeten akan mendorong pemberitaan yang sehat dan cerdas.Wartawan harus kritis ke pemerintah sebagai fungsi kontrol tapi tidak sekedar mengungkit kelemahan tapi juga memberi masukan dan ide untuk kemajuan. Kami berharap wartawan memberi informasi yang menyejukkan. Pemberitaan jangan membuat resah. Opini yang tidak baik akan berdampak ke masyarakat," ungkapnya pada acara yang digelar PWI Jateng itu berharap secara kontinyu, UKW bisa terus digelar agar berdampak positif bagi wartawan peseta dan media yang menaungi.

Senada diungkapkan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi yang turut hadir dalam acara itu. "Wartawan ibarat mobil dengan empat roda. Pemerintah, pewarta, penduduk. Harus beririnbgan dan tak boleh gembos. Jika gembos akan menganggu percepatan pembangunan. Kritik itu boleh tapi bagaimana mencari solusinya. Telepon ke orang yang berkapasitas untuk memberi solusi. Kami berharap lewat UKW muncul wartawa  profesional yang berimbang dan tanpa tendensi," katanya.

Sementara Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Sasongko Tejdo mengatakan, sejak dibentuk, program UKW telah 250 kali digelar di Indonesia dan meluluskan sekitar 8.000 wartawan dengan sertifikat kompetensi. Mereka terbagi dalam kategori wartawan muda, madya dan utama. Diakuinya, UKW digelar untuk mengetahui kompetensi wartawan.

"Bisa dikatakan, sebanyak 80 persen wartawan kompeten adalah dari PWI. Jika wartawan sudah kompeten, masalah dulu akan hilang. Mereka yang mengaku-aku wartawan. UKW untuk mengangkat harkat dan martabat wartawan," kata dia.

Sasongko menambahkan, pihaknya menargetkan akhir tahun depan, semua anggota PWI lulus UKW. "Tahun 2019, Dewan Pers akan memberlakukan hanya wartawan yang kompeten yang berlaku. Tidak ada wartawan Muntaber alias Muncul Tanpa Berita," ujar dia.

Sedangkan, Ketua PWI Provinsi Jateng, Amir Machmud menyebut, UKW digelar keempat kalinya di tahun 2017 ini. UKW diakuinya menjadi bagian tanggung jawab profesi. "Moralitas untuk membangun profesionalitas yang lebih baik. UKW diikuti 28 peserta. Sebelumnya Juli lalu diikuti 14 peserta. Di Semarang Juli diikuti 49 pesera. Di kudus 21 peserta. Dan sekarang 28 peserta. Direncanakan Desember nanti akan digelar lagi di Demak dengan 14 peserta. Ini masih dirancang," terangnya.

Amir menambahkan, pembinaan wartawan menjadi tanggung jawab bersama antara swasta dan pemerintah. Atas hal itu, pihaknya berharap ada keterlibatan para pihak untuk menyelenggarakan UKW.

UKW dihadiri sejumlah perwakilan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah tingkat Jateng. Dalam kesempatan itu, turut digelar MoU antara PWI Jateng dengan STIKOM Semarang. Penandatanganan dilakukan oleh Ketua STIKOM Gunawan Witjaksana dan Ketua PWI Jateng Amir Machmud NS.

 

 

Penulis :
Editor   :