Beras Inpago Unsoed 1 hasil persilangan tanaman padi gogo dengan menthik wangi yang sekarang sudah menjadi varietas nasional. Hasil penelitian LPPM Unsoed ini menjanjikan peningkatan kesejahteraan bagi petani nusantara. (FOTO : Hermiana E Effendi)
PURWOKERTO- Matahari masih malu-malu untuk menampakkan diri, namun Sartun, petani asal Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas sudah sibuk di ladang. Hamparan tanaman padi yang baru berusia beberapa minggu, membuat matanya berbinar. Sejak mengenal padi Inpago Unsoed 1, perlahan hasil panen Sartun meningkat dan penghasilannya pun melonjak, karena ia kini menghasilkan padi premium yang harga jualnya lebih tinggi.
Tidak hanya Sartun, ribuan petani lainnya di negeri ini pun, melepas senyum lebar saat masa panen tiba. Ada petani dari Maluku Utara, Mataram, Bali, Merauke, Ternate, Sumatra Selatan dan lain-lain. Inpago Unsoed 1, varietas padi hasil temuan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto menjadi harapan baru untuk kesejahteraan petani.
Sekretaris Pusat Penelitian Padi dan Kedelai LPPM Unsoed, Dyah Susanti SP.MP mengatakan, padi Inpago Unsoed 1 merupakan hasil persilangan dari padi gogo dan methik wangi. Inpago Unsoed 1 menjadi istimewa, karena bisa bertahan hidup baik di lahan kering maupun di area persawahan. Dan hasilnya merupakan beras dengan kualitas premium yang aroma wanginya tidak terlalu tajam.
?Padi gogo adalah jenis padi yang tahan terhadap kekeringan, namun hasil panennya tidak terlalu baik dan padi menthik wangi, merupakan padi yang biasa tumbuh di area persawahan dengan air melimpah. Pada saat keduanya disilangkan, hasilnya panen ternyata melimpah, bisa sampai 8-13 ton per hektare. Padahal padi biasa hanya menghasilkan 5-6 ton per hektar,? terangnya.
Lebih lanjut Dyah menerangkan, selama ini Unsoed selalu terdepan dalam perakitan varietas unggul padi dan kedelai. Dan fokus penelitian lebih menyasar pada lahan-lahan marginal. Hal ini mengingat konversi lahan tidak lagi terbendung, sehingga Unsoed berupaya semaksimal mungkin untuk mendulang potensi dari lahan kering dan lahan yang belum dimanfaatkan petani.
Tahun 2011, Unsoed melepas padi gogo aromatik yang sudah mendapat hak varietas tanaman. Padi gogo aromatik ini ada tiga jenis yaitu padi Inpago Unsoed 1, padi JSPGA 136 (Jenderal Soedirman Padi Gogo Aromatik 136) dan padi JSPGA 9. Padi JSPGA 136 cenderung lebih bagus ditanam pada wilayah pegunungan dan padi JSPGA 9 hanya bagus ditanam di wilayah pesisir.
Namun, padi Inpago Unsoed 1 bisa tumbuh dengan bagus baik di wilayah pesisir maupun pegunungan. Sehingga padi tersebut yang kemudian menjadi padi varietas nasional.
Tersebar 26 Provinsi
Saat ini produksi benih padi Inpago Unsoed 1 sudah tersebar pada 26 propinsi di Indonesia. Petani yang sudah menanam padi jenis ini, tentu akan menanam kembali, karena hasilnya baik secara kuantitas maupun kualitas lebih banyak dari padi IR. Benih padi Inpago Usoed 1 ini dikembangkan oleh mitra industri Unsoed di berbagai provinsi.
Guru Besar Pemuliaan Tanaman Unsoed, Prof Ir Totok Agung Dwi Haryanto MP.PhD mengatakan, peningkatan produksi padi di Indonesia sudah tidak jamannya lgi bertumpu pada sawah. Sebab, alih fungsi lahan semakin banyak, sampai 100 hektar per tahun. Sehingga pemanfaatan lahan kering merupakan solusi untuk pertanian berkelanjutan. Padi Inpago Unsoed 1 ini sudah panen dibeberapa wilayah, antara lain di Kabupaten Purworejo yang menghasilkan sampai 13 ton per ha kemudian bulan Agustus kemarin panen di Maluku Utara, dengan hasil 8 ton per ha.
Dengan Inpago Unsoed 1, kesejahteraan petani akan terangkat. Hanya saja, tidak mudah untuk mengubah pola pikir petani supaya mau menanam Inpago Unsoed 1. Kebiasaan petani untuk menanam satu jenis padi sudah terdoktrin sangat lama, sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa mengubahnya.
?Sekarang sudah ada ribuan petani binaan kita, petani yang sudah terpapar teknologi dan mereka selalu mencari tahu, tanaman jenis apa yang cocok untuk musim tertentu dan informasi lain seputar pertanian. Kita mengedukasi mereka melalui media sosial, grup WA dan lain-lain dan mereka sangat antusias untuk mencoba saran yang kita berikan,? kata Dyah.
Beras Inpago Unsoed 1, sekarang juga sudah mempunyai segmen pasar tersendiri. Beras tersebut memang belum merambah supermarket besar karena terkendala stok, namun petani yang menanam Inpago Unsoed 1 sudah mulai merasakan hasilnya. Hasil panen mereka dibeli dengan harga lebih tinggi dan konsumen pun berebut memesan. ?Kesejahteraan sudah di depan mata, tinggal petani mau atau tidak untuk meraihnya bersama Inpago Unsoed 1,? tutur Dyah.
Penulis :
Editor :