Petualangan yang Tak Seriang Sherina

311

Film musikal apalagi film musikal anak di Indonesia tidaklah banyak. Terhitung dari tahun 2000-2017 hanya ada tiga yang tayang di bioskop. Tidak bisa dipungkiri film musikal anak kurang populer dibanding film horor dan cinta.  Meski jumlahnya sedikit,  film musikal anak bukan berarti tidak mendapat respon yang bagus. Film Petualangan Sherina (2000) misalnya, mendapat berbagai penghargaan Internasional salah satunya di Asia Pasific Film Festival. Di dalam negeri sendiri film Petualangan Sherina disebut sebagai kebangkitan film Indonesia yang sempat tertidur yang mengantarkan Elfa Secioria sebagai Penata Musik Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI).

Kemudian, Film Rumah Tanpa Jendela juga menuai prestasi dan mengantarkan Emir Hamzah sebagai pemeran utama pria terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) dan Adam S. Permana sebagai penata musik terbaik. Film Naura dan Genk Juara, juga menggandeng musisi kenamaan Andi Rianto sebagai penata musik dalam film ini. Dalam kipranya menjadi penata musik di film layar lebar, Naura dan Genk Juara adalah film musikal pertama anak yang diiringinya. Terbukti, pria yang disebut sebagai 5 komposer kenamaan di Indonesia, menata iringan lagu anak-anak sepanjang film berlangsung dengan apik dan riang.

Film Naura dan Genk Juara disutradarai oleh Eugane Panji dan diprodesuri oleh Pax Benedanto, Handoko Hendroyono, Amalia Prabowo. Berbicara tentang produser film ini,ini bukan kali pertama mereka bekerja sama dalam pembuatan film. Handoko Hendroyono sendiri pernah pula menjadi produser film yang disutradari oleh Amalia Prabowo yang berjudul Wonderful Life, sebuah film yang menceritakan tentang penerimaan dan perjuangan ibu dalam membesarkan anaknya yang mengalami disleksia.

“Sebuah film mestinya tak hanya untuk mencapai keuntungan semata, nilai-nilai edukasi adalah bagian yang sangat penting, yang membuat film ini bemakna dan bermanfaat”, ungkap Handoko Hendroyono sewaktu menghadiri Hari Kopi Sedunia di SETOS, Semarang, 2016.

Naura dan Genk Juara bercerita tentang Naura dan Genknya (nama pemain laki-laki) yang mengikuti kemping kreatif dalam rangka perlombaan sains di Taman Nasional Situ Gunung. Petualangan mereka dimulai ketika mereka mendapati satwa-satwa liar di mobil penjahat secara tidak sengaja. Sempat ragu untuk memilih antara misi penyelamatan atau perlombaan, Genk Naura dan Genknya menapak menjadi pahlawan penyelamatan satwa liar.

Sepanjang film, kita akan disuguhi pemandangan hutan yang hijau dan luas, keelokan dan keragaman satwa, serta lagu-lagu anak yang dikemas apik  dan bersemangat. Pesan untuk menjaga alam digaungkan lewat film musikal anak ini.

“Dengar alam ini, dengar sepenuh hati, percayalah mereka juga seperti kita”, sepenggal lirik dari OST Naura dan Genk Juara.

 

Saya sendiri tergerak untuk menonton film ini karena kerinduan melihat film musikal anak. Ketika saya kecil saya begitu mengidolakan film Petualangan Sherina dan sampai sekarang pun jika menononton film tersebut saya tak bosan-bosan. Sayangnya, film ini bergenre seperti ini di jaman now tidak begitu banyak diminati. Saya sampai menjadi penonton ekflusif lantaran hanya sendirian kala menonton. Bersyukurnya film masih boleh diputar.

Seperti film Petualangan Sherina yang menjadikan anak perempuan menjadi tokoh berjiwa leadership, Naura dan Genk Juara pun demikian. Naura (Adyla Rafa Naura Ayu) adalah seorang anak pemberani yang memiliki kemampuan memimpin teman-temannya, meski banyak anak lelaki. Dia mengambil keputusan-keputusan yang tidak hanya berdampak pada dirinya, tetapi juga teman-temannya. Namun ia pun tak sebengal dan egois untuk hanya menuruti maunya saja. Ini tercermin ketika ia memutuskan untuk memakai alat sains yang akan dilombakan melalui koin yang dilempar, yang apapun hasilnya haruslah dipatuhi oleh semua anggota tim sainsnya. 

Sejak awal Naura juga memiliki kepekaan terhadap binatang, tergambar dalam alat GPS yang dia ciptakan untuk mendeteksi keberadaan binatang agar tetap terpantau. Alat GPS ini yang nantinya membantu Naura dan Genknya menggagalkan para pencuri satwa liar untuk melarikan diri.

Tiga teman laki-laki dalam Genk Naura juga memiliki karakter yang berbeda untuk saling melengkapi dan mengisi. Okky (Joshua Rundengan), memiliki karakter yang mudah diatur ketika mendapat penjelasan dengan jelas, usil, dan berani. Dia orang yang selalu setuju dan mendukung dengan keputusan Naura. Berbeda dari Bimo (Vickram Priyono), dia tidak mudah diarahkan, memiliki ego yang tinggi, dan merasa dirinya paling benar. Jelas, ia menjadi tokoh yang menyebalkan dalam film ini. Namun karakter seperti Bimo, akan berbalik arah begitu ia tersadar penuh akan kekeliurannya bukan dengan mulut semata tetapi melalui tindakan secara nyata. Karakter Bimo justru akan menjadi sosok setia dalam persahabatan yang menjadikan ikatan itu semakin kuat.

Terakhir Kipli (Andryan Bimo) sebagai ranger cilik, sosok kuat yang peka terhadap alam. Kehilangan orang tua saat ia masih sangat kecil membuat Kipli lebih mandiri ketimbang teman-teman seumurannya. Selain Naura, Kipli juga memiliki jiwa leadership yang kuat. Melalui keempat bocah ini nilai-nilai keberanian, pantang menyerah, kejujuran,dan kerja sama dihadirkan.

“Buat apa kalian otak kalian pintar, kalau  melihat satwa-satwa liar yang diculik saja kalian diam saja,” penggalan percakapan Kipli dan Naura yang akhrinya membuat Genk Naura memilih untuk menyelamatkan satwa.

Dalam keputusan mereka untuk menyelamatkan satwa yang berujung pada penculikan Okky dan mendapati bahwa otak di belakang pencurian satwa liar adalah orang yang dekat dengan mereka, sosok yang dihormati dan disegani di luar, berimbas pada dibekapnya mereka di ruang bawah yang gelap dan kosong. Keputusasaan sempat memberengut hati mereka, bayang-bayang pulang dan rumah mengibas pikiran mereka. Hingga akhirnya harapan muncul melalui kunci ruangan yang dilempar oleh si cepot, kera cerdik kepunyaan Kipli. Dan Naura pun akhirnya melibatkan semua peserta kemah kreatif dalam misi penyelamatan satwa langka dan Okky. Alat-alat sains yang mereka ciptakan menjadi sumbangan mereka untuk melawan para penculik itu. Keterlibatan orang-orang yang dekat dengan akses hutan lindung, memang memungkinkan para pencuri satwa dengan mudah keluar masuk hutan.

Berbicara tentang satwa liar, Indonesia masuk dalam 10 negara pemasok terbesar produk satwa liar, baik secara legal maupun ilegal dimana 1, 225spesies fauna dan flaura terancam punah. Perdagangan satwa liar mencapai 100 kasus antara tahun 2005-2009, kemudian 37 kasusu pada antara tahun 2010-2012, dan 5 kasusu  2013 (Data Statistik Kementrian Lingkungan Hidup). Jumlah ini diperkirakan belum termasuk penyelundupan satwa liar secara yang diprediksi jutru maeningkat.

Perdagangan satwa liar memang menggiurkan jika dipandang dari sudut ekonomi, misalnya saja harga orang utan di pasar internsional bisa mencapai angka Rp 400.000.000. Sedangkan, dalam 40 ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku kejahatan satwa liar dipidana penjara paling lama 5 tahun, dan denda paling banyak Rp. 100.000.000. Jika melihat dari sanksi yang diberikan tidak relevan dengan apa yang terjadi. Para satwa liar adalah penjaga hutan sekaligus warisan lokal yang tidak bisa  terbelikan.

 

Dalam film ini ada sedikit yang mengganjal berkaitan tentang pencarian orang hilang. Di film tersebut digambarkan para ranger (petugas lapangan hutan Situ Gunung) melakukan operasi pencarian dari malam-pagi tanpa ada upaya berlebih dan hanya menggunakan senter, juga tanpa keterlibatan dari petugas SAR. Satu sampai dua jam ketika mereka melakukan upaya, namun tidak membuahkan hasil semestinya mereka langsung menghubungi petugas SAR untuk meminta bantuan. Satu nyawa anak, adalah sangat berharga yang artinya upaya optimal harus dilakukan. Namun, paling tidak film ini mengajak penontonnya untuk lebih mencintai alam, memelihara alam, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, yang dibungkus dengan lebih ringan yakni cerita persahabatan dan petualangan anak.

 

Sindi Dania Qistina, pegiat literasi media, voluntir berbagai kegiatan sosial, pecinta film dan puisi.

Penulis :
Editor   : awl