Longsor Masih Ancam Permukiman Warga


Rumah warga yang terancam longsor, karena dampak longsor tahun 2014 lalu masih belum tertangani. Foto: Felek
 
GROBOGAN– Longsor di dekat permukiman warga yang terjadi sejak tahun 2014 di Kelurahan Kunden Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan hingga saat ini belum tertangani. Belasan rumah warga masih terancam roboh lantaran gerusan makin mendekati permukiman penduduk.
Sedikitnya, lima rumah warga mengalami kerusakan cukup parah dan belasan  rumah lainnya kini terancam roboh. Bahkan, dua keluarga terpaksa mengungsi lantaran rumah yang mereka tinggali ambrol  dan tidak bisa ditempati lagi.  Selain  mengakibatkan rusaknya rumah warga, longsor juga mengakibatkan tanah  pekarangan milik warga tergerus dan larut ke sungai.
Saat hujan deras mengguyur, tanah pekarangan ikut tergerus air. Musim hujan ini halaman depan rumah saya longsor 3 meter lagi. Sekarang longsoran sudah berhimpit dengan teras rumah saya. "Kalau hujan turun, saya sekeluarga terpaksa mengosongkan rumah bagian depan, takut longsor,” aku Suyono.
Untuk mencegah longsor semakin melebar, Suyono mencoba menutup tebing longsoran dengan penutup seadanya agar tanah tidak tergerus curah hujan. 
“Ini saya tutup semua, tujuannya agar jika  terkena air hujan, tanah tidak longsor,” jelasnya.
Warga mengaku kecewa karena sampai saat ini belum ada tindakan nyata dari pemerintah daerah untuk menanggulangi bahaya longsor tersebut. 
“Tinggal beberapa puluh meter saja dari jalan raya Purwodadi – Blora mas, apa mau nunggu sampai longsor jalan rayanya," tambah Suyono.
Saat ini ada delapan kepala keluarga yang harus direlokasi yaitu Witono, Siti Rohmah, Siti Roslan, Suyono, Yayuk, Darso, Junaedi, Bu Warno karena lokasi yang mereka tinggali rawan longsor. “Kita semua bertahan karena inilah yang bisa kami tinggali. Kalaupun mau pindah juga butuh biaya,” keluh Suyono.
Jalan longsor sepanjang 30 meter dengan kedalaman sekitar 9 meter itu sebelumnya sudah pernah diuruk dan dibuatkan talud di pinggir sungai. 
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Grobogan Subiyono mengatakan, pemkab belum bisa mengatasinya karena keterbatasan biaya. 
Penanganan longsor harus dikerjakan dengan pemasangan tiang pancang, sehingga longsor tidak meluas. Untuk penanganan itu butuh biaya sebesar Rp 20 miliar.
“Kita sudah berulang kali minta dukungan ke pemerintah pusat maupun provinsi agar dapat membantu menangani longsoran di Kunden tersebut. Saat ini, desain penanganan sungai sedang dibuat oleh BBWS Pemali Juana. Semoga segera terealisasi,” ungkapnya kepada wartawan.

Penulis : fww
Editor   :