Ya Ampun, Kena Rob 8 Tahun Tidak Upacara Bendera


Halaman depan dan belakang SDN Kranding di Desa Jaruksari, Kecamatan Tirto, terendam banjir rob. Foto: Hadi Waluyo.
 
KAJEN - Banjir rob di Desa Jaruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, berdampak di bidang pendidikan. Selain akses jalan menuju ke sekolah sulit lantaran banjir rob, pelajar di SDN Kranding di desa ini selama hampir delapan tahun tidak bisa melaksanakan kegiatan rutin upacara bendera setiap Senin. Bahkan, akibat halaman depan dan belakang sekolah ini terendam banjir rob, ratusan pelajar di SD ini kehilangan area untuk bermain dan olahraga.
 
Berdasarkan pantauan Senin (28/8), kondisi halaman sekolah SDN Kranding yang persis berada di jalan utama di Desa Jeruksari ini terlihat seperti tambak atau kolam besar. Saking lamanya genangan air ini, beberapa ikan kecil nampak menjadi pemandangan yang menghiasi 'kolam' akibat banjir rob menahun tersebut. Jika anak-anak tidak berhati-hati, maka rawan terjatuh ke dalam kubangan air kotor di halaman sekolah ini.
 
Tokoh masyarakat Desa Jeruksari, Nurkholis, mengaku miris dengan kondisi lingkungan SDN Kranding di desanya tersebut. Sebab, sudah beberapa tahun ini halaman depan dan belakang sekolah tergenang banjir rob. Sehingga, anak-anak sekolah tak bisa melaksanakan kegiatan upacara bendera. Selain itu, ruang bermain dan olahraga anak sekolah di SD ini juga sangat terbatas.  
 
Nurkholis yang juga Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Pekalongan mengharapkan pemerintah Kabupaten Pekalongan peduli dengan keadaan SDN Kranding. Sehingga, pemerataan kualitas pendidikan yang tengah digelorakan pemda bisa tercapai dengan baik. "Sekolah-sekolah dengan kondisi seperti ini harus lebih mendapatkan perhatian pemda, sehingga pemerataan kualitas pendidikan bisa tercapai," ungkap Nurkholis.
 
Kepala SDN Kranding, Walun, dikonfirmasi terpisah mengakui sudah hampir delapan tahun SDN Kranding terendan banjir rob. Namun, untuk saat ini dampak banjir rob hanya di halaman depan dan belakang sekolah. Menurutnya, akibat halaman sekolah terendam banjir rob, aktivitas 200 pelajar di sekolah ini menjadi lebih terbatas. "Anak-anak tidak memiliki area bermain dan olahraga. Kami juga tidak bisa melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin," terang dia.
 
Disinggung soal dampak banjir rob, Walun menyatakan berdampak pada pelajar di SDN Kranding. Dikatakan, akibat sekolah dan rumah warga terendam banjir rob, anak-anak kerap tidak bisa masuk sekolah. Sehingga, mereka mengalami gangguan dalam mengikuti proses belajar mengajar. "Untuk persoalan halaman sekolah yang terendam banjir rob, rencana ada pengurukan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan. Rencana bulan ini mulai dikerjakan," ungkap dia.
 
Ditambahkan, persoalan lainnya di SDN Kranding adalah kekurangan satu ruang kelas. Disebutkan, di SDN Kranding terdapat enam ruang kelas. Namun, di sekolah ini ada tujuh rombongan belajar (rombel). Sebab, ada satu kelas, yakni kelas tiga yang pararel.  "Kelas tiga ada dua kelas, yakni kelas 3a dan 3b. Yang lainnya satu kelas. Sehingga, ada satu ruang yang dibagi dua untuk KBM, sehingga merepotkan. Ruang kelas tiga berukuran 7 X 8 meter disekat menjadi dua. Murid ada 40 dibagi dua. Ini tidak efektif. Antarsatu guru mendengar. Harapan kami ada tambahan ruang kelas baru," imbuhnya.
 
 

Penulis :
Editor   :