Ada Cakades Janjikan Doorprize dan Sawer Rp 2 Juta Bila Menang

307

Wabup Demak H Joko Sutanto saat memberi pengarahan cakades di Desa Kendaldoyong Kecamatan Wonosalam agar percaya garisan tangan dan takdir. Harus legawa bahwa dalam pilkades ada yang menang dan kalah adalah biasa. Foto : sari jati  

DEMAK - Pilkades periode II serentak digelar di 54 desa, Minggu (1/10). Berbeda dengan pilkades gelombang I setahun lalu yang bertabur “serangan fajar” senilai total miliaran rupiah, pada pilkades kali ini banyak cakades lebih berhitung cermat. Aneka doorprize dan sawer bernilai jutaan rupiah per pemilih diberikan setelah atau hanya jika cakades tersebut dinyatakan menang.

Hal tersebut di antaranya terlihat di Desa Brambang Kecamatan Karangawen, dengan sederet sepeda motor dipajang di rumah empat cakadesnya. Selain itu Desa Tridonorejo Kecamatan Bonang, dengan dua unit sepeda motor dan sejumlah barang elektronik. 

Ada pula Desa Kuwu  Dempet, yang diisukan salah satu cakades menjanjikan Rp 2 juta bagi para pemilihnya, jika dirinya menang. Serta Pamongan Guntur, yang disebutkan minimal setiap pemilih ditambah Rp 500 ribu setelah hasil penghitungan suara cakades tersebut dinyatakan unggul.

Namun bagaimana jika para cakades dengan iming-iming  aneka hadiah hiburan berikut uang jajan itu kalah? Kardi warga Pamongan Kecamatan Guntur mengatakan, mereka akhirnya hanya dapat dana serangan fajar Rp 100 ribu dan Rp 150 ribu.

"Kalau tidak menang ya sepeda motornya kembali ke dealer," ujarnya.

Ironisnya, meski banyak warga mengakui adanya kepyuran, tak satu pun  panitia desa membenarkan adanya praktik money politic. Padahal sesuai Perda Nomor 5 / 2015 yang direvisi Perda Nonor 2/2017, jika seorang kandidat terbukti melakukan politik uang bisa membatalkan pemenangan kades. Pun dalam pasal 149 KUHP masuk ranah pidana.

Seperti disampaikan Iksan, Ketua TPS Desa Kendal Doyong dan Ali Mahsun Ketua TPS Desa Lempuyang, keduanya di kecamatan Wonosalam. Bahwa di desa mereka bersih praktik politik uang. "Tidak ada money politic. Mungkin yang dimaksud sesuai istilah guyonan masyarakat adalah sedekah politik," kelakar .

Garis Tangan

Sementara di sela kegiatan monitoring di sejumlah desa di Wonosalam dan Guntur, Wabup Demak H Joko Sutanto menjelaskan, pilkades berlangsung relatif  aman terkendali. Alasannya, jauh hari sudah dipersiapkan matang dengan melibatkan semua komponen mulai jenjang desa, kecamatan dan kabupaten. Termasuk kaitannya satuan operasional pengendali dan pengamanan.

"Meski jumlah desanya lebih sedikit dibanding tahun lalu yang berjumlah 183 desa, bukan berarti kewaspadaan dikurangi. Justru yang sedikit ini mendapatkan perhatian dan pemantauan luar biasa," kata wabup.

Menurut Joko Sutanto, tidak perlu waswas asalkan semua prosedur dijalani. Cakades pun harus percaya garis tangan atau takdir. Bahwa dalam pertarungan pasti ada yang kalah dan menang. Sehingga yang menang ora umuk, pun yang kalah ora ngamuk. Yang menang nantinya harus merangkul yang kalah. Begitu pula yang kalah harus mau mendukung yang menang. Karena pada prinsipnya desa membutuhkan orang-orang berpotensi untuk pembangunan berkelanjutan. 

Bahkan sejak deklarasi pilkades damai sudah dipesankan kepada para cakades khususnya, agar tidak mengumbar emosi dengan menyebar uang atau apa pun bentuknya secara berlebih. Karena ujung-ujungnya akan terbentuk pemimpin yang korup. Sebab dia harus mengembalikan bertumpuk hutang yang digunakan untuk meraih kemenangan.

Terpisah, Bupati HM Natsir saat pantauan pilkades  di wilayah Mijem dan Wedung menambahkan, kemenangan pilkades kemenangan semua. "Mari bangun persaudaraan lewat pilkades. Ketika semua elemen mendukung pemerintah, optimis rakyat akan semajin makmur," tandasnya.

 

 

Penulis : ssj
Editor   : wied