Jangan Tunda Ucapkan Cinta

203

"SAYA akan pulang ke Denmark, anakku, dan aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu". Dalam percakapan lewat telepon dan terakhir dengan ayah, dia mengulang kalimat di atas sebanyak tujuh kali dalam waktu setengah jam. dan aku tidak mendengarkan.

Aku mendengar suaranya, tetapi bukan pesannya, dan tentu saja bukan maksudnya yang paling dalam. Aku percaya bahwa ayahku akan hidup lebih dari seratus tahun, seperti halnya paman tuaku yang hidup hingga usia 107 tahun. Aku sama sekali tidak merasakan adanya kesedihan pada diri ayah atas kematian ibu, memahami kesepiannya yang mendalam

"Ayah meninggal," kata saudaraku Brian, pada tanggal 4 Juli 1973.

Adikku adalah pengacara yang cerdas dan mempunyai cara berpikir yang cepat dan penuh humor. Kukira dia ingin mengejutkanku dengan bercanda, dan aku menunggu inti pembicaraannya. Tapi, tak ada humor dalam kata-katanya. "Ayah meninggal di ranjang tempat ia dilahirkan, di Rozkeldj," katanya melanjutkan. "Direktur pemakaman memasukkannya ke peti mati, dan mengirim ayah dan barang-barangnya kepada kita besok, kita harus menyiapkan upacara pemakaman."

Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Ini bukanlah yang seharusnya terjadi. Seandainya saja aku tahu bahwa hari-hari ini merupakan hari-hari terakhir ayah, aku akan minta kepadanya untuk menyertainya ke Denmark. Aku percaya akan hospice movement, yang mengatakan: "Tak seharusnya seseorang meninggal dalam kesendirian." Seseorang yang mengasihi harus memegang tanganmu dan menghiburmu ketika kau berpindah dari satu realitas ke realitas lainnya. Aku pasti akan memberikan penghiburan selama saat-saat terakhir.

Pada pagi hari ketika aku berusia 9 tahun, dia baru pulang dari bekerja selama 18 jam di perusahaan rotinya dan membangunkanku pada pukul 05.00 pagi, dengan cara mengusap-usap punggungku dengan tangannya yang kuat dan berbisik, "Sudah waktunya bangun, Nak." Pada saat aku berpakaian dan siap untuk berkeliling, dia telah melipat koran-koranku, mengikat dan memasukkannya ke dalam keranjang sepedaku. Mengenang semangat kedermawanannya, aku menangis.

Ketika aku ikut lomba balap sepeda, dia mengantarku sejauh 50 mil sekali jalan ke Kenosha, Wisconsin, setiap Selasa malam, sehingga aku bisa ikut lomba balap sepeda itu dan dia mengawasiku. Dia ada di sana untuk memelukku ketika aku kalah dan ikut bergembira ketika aku menang. Mengenang ini, aku terguguk...

Kemudian, dia juga menyertaiku ke setiap pembicaran lokalku di Chicago, ketika aku berpidato untuk Century 21 , Mary Kai, Equitable dan berbagai gereja lainnya. Dia selalu tersenyum mendengarkan dan dengan bangga mengatakan kepada siapa saja di sampingnya, "Itu adalah anak lelakiku."

Mengenang itu semua hatiku sedih, karena ayah selalu ada di sampingku dan aku tidak berada di sampingnya ketika dia meninggal. Dia sendirian, tanpa sempat mengetahui, bahwa aku sungguh mencintainya. Aku cuma tidak mengatakannya. Jika saja ada waktu satu detik lagi untukkku bersama ayah, akan aku katakan seribu kali, aku mencintainya, sangat mencintainya, dan akan menggenggam tangannya, saat dia tersenyum dan mati. Ia tidak akan sendiri. Tapi, aku tak melakukannya. Aku tak bisa membaca garis takdir.

Nasihat tulus yang bisa kuberikan kepada Anda adalah bahwa Anda harus selalu membagi cinta dengan orang yang Anda cintai, dan mintalah untuk dipanggil saat dia mengalami transisi yang suci itu. Ketika kehidupan fisik berubah menjadi kehidupan spiritual. mengalami proses kematian dengan seseorang yang Anda cintai akan membawa Anda ke dimensi keberadaan yang lebih besar, lebih luas. (Stanley d Moulson/AWL)

Penulis :
Editor   :