6 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Dia Berselingkuh

224

HUBUNGAN apapun, juga cinta, mengandung gejolak yang siap memuntahkannya. Susahnya jika itu berupa kehadiran pihak ketiga. Rasanya menyakitkan, seolah "hukum cinta yang mengecewakan' --mengutip Helen Gurley Brown- memperoleh pembenaran. "Saat Anda menyerahkan diri sepenuhnya pada seseorang, pada saat itu pula ia mulai menyukai orang lain," tulis Brown dalam bukunya I'm Wild Again.

Anda mengalaminya? Berikut tipsnya.


Pastikan Ada yang Lain
Bisa jadi Anda mengetahui kabar "perselingkuhan" ini dari seorang teman. Jangan begitu saja memakan mentah-mentah informasi itu. Telusuri dulu kebenarannya. Jangan pula Anda langsung menanyakan kepada pasangan Anda. Kalaupun benar, bisa jadi ia akan mengelak. Mulailah pelajari perubahan tingkah lakunya.

Courtney Weaver, guru cinta dan penulis Unzipped, punya panduan untuk memastikan apakah pasangan Anda memberikan hatinya untuk perempuan lain. Sarannya, "Coba ajak dia berlibur di akhir pekan atau berkencan di hari Sabtu Minggu depan. Kalau dia terlihat gugup dan mengelak, bisa jadi bukan hanya Anda yang menjadi teman kencannya."

Umumnya, lelaki yang punya perempuan lain selalu bingung mengatur waktu kencannya. Anda juga bisa berpura-pura menerima alasannya, tapi kemudian memberinya "kejutan" untuk mengetes kadar kejujurannya. Misalnya, kalau dia beralasan sibuk mengerjakan tugas di rumah, teleponlah pas hari-H. Kalau dia tak ada atau keluar rumah, Anda bisa memastikan bahwa dia menyembunyikan sesuatu.


Kenali Diri Anda
Ternyata benar pasangan Anda mencari pelampiasan emosi pada perempuan lain. Jangan langsung melabraknya. Bisa jadi, ada sesuatu yang salah pada sikap Anda yang membuat si dia merasa tak nyaman menjalin hubungan. Mulailah mengoreksi dan instropeksi diri. Carilah waktu untuk menyendiri, menjernihkan pikiran, untuk berbicara dengan hati Anda.

Umumnya lelaki -meski sudah menjalin komitmen-- tak mau hidupnya terkekang, didikte, dan tak nyaman. "Seringkali perempuan terlalu mengontrol pasangannya, sehingga lalai melihat kelakuannya yang kelewat batas," ujar Shirley Glass, Ph.D, psikolog klinik di Baltimore.
Kalau Anda menemukannya, cepatlah perbaiki. Perlahan dia pun pasti akan merasa nyaman menikmati hubungan dengan Anda.


Diskusikan dengan Teman
Kalau Anda tak menemukannya, atau bahkan sudah mengubahnya tapi dia tetap "berselingkuh", ini menjadi masalah yang harus segera diselesaikan. Anda tak perlu panik, atau langsung memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Jika perasaan sedih masih berkecamuk, tenangkanlah diri dulu atau relaksasi. Biarkan ketegangan, emosi, dan kekecewaan mereda. Penyelesaian apapun dalam keadaan tak terkendali bisa berbuntut penyesalan.

Kalau Anda belum menemukan penyelesaian terbaik, ajaklah ibu atau teman baik untuk bertukar pikiran mengenai hal ini. Anda memerlukan orang yang dapat memberikan opini subyektif terhadap dirinya. Terkadang, seorang teman dapat memandang diri Anda sebagaimana Anda sendiri tak dapat melakukannya.


Tak Perlu Menutupi
Psikolog dan penulis terkenal Dr. Les Parrot menulis dalam bukunya yang terkenal Saving Your Marriage Before It Starts bahwa terlalu banyak bersikap menutup-nutupi amat berpotensi membuat diri Anda depresi.

Menurut Parrot, orang yang gemar menutup-nutupi perasaannya punya gambaran umum seperti, selalu mengatakan "iya", munafik, ingin membuat senang, takut mengungkapkan kenyataan, dan juga sering menyesali diri. Perasaan tak ikhlas saat mengatakan sesuatu yang palsu, menurut Parrot sangat berpotensi memicu rasa depresi akibat marah, kecewa atau tersinggung. "Anda telah mengorbankan kenyamanan hati Anda demi kesenangan orang lain," ujar Parrot.
Jika Anda memang tak tulus atau ikhlas tentang sesuatu hal, kenapa tak mengungkapkan kenyataannya? Setidaknya, minimalisasikan kepalsuan yang Anda buat, agar hati Anda tak jadi korban. "Mengatakan 'tidak' untuk sesuatu hal adalah sikap yang wajar," ujar Parrot.


Bicarakan Baik-baik
Jalan terbaik tetaplah dengan keterbukaan. Jika masih menginginkan hubungan berlanjut, Anda harus sesegera mungkin menyampaikan keberatan-keberatannya atas sikap pasangan Anda, tanpa bernada menyalahkan atau menuduh. Ajukan pertanyaan dengan nada rendah, tanpa tersulut emosi. Utarakan keluhan tanpa bernada mengkritik. Kritikan yang dilontarkan secara tajam selalu mengarah pada perilaku menyalahkan pasangan, yang tentu saja akan berbuntut pada mekanisme pertahanan diri, bukan introspeksi untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Cobalah berbicara dari kubu yang netral, yang mewakili kedua belah pihak. Jika Anda mengungkapkan bahwa sikap si dia yang menduakan cinta itu amat menyakitkan dan melukai hati, bisa jadi, pasangan Anda lantas berintrospeksi dan berusaha berubah.

Barbara De Angelis, pakar masalah cinta dan seks, mengungkapkan, untuk mencapai suatu hubungan yang menyenangkan memang diperlukan waktu untuk melatihnya. Jadi, jangan cepat menyerah dan hengkang begitu saja.

 

Ucapkan, Goodbye
Tak ada sesuatu yang berjalan mulus. Adakalanya, Anda dan si dia bertengkar hebat. Di saat seperti itulah Anda harus menjadi penjaga emosi. Jangan sekalipun mengeluarkan ancaman "putus" kepadanya. Kalau si dia memang mau berubah, tak ada salahnya Anda menerimanya kembali dan melupakan permasalahan itu.

Lain soal kalau dia suka kambuh. Sudah saatnya Anda mengambil keputusan. Ucapkanlah Goodbye, sebab, "Kalau menyakitkan hati itu bukan cinta!," kata C. Spezzano dalam If It Hurts, It Ain't Love. Cinta menjadi menyakitkan jika Anda mengejar lelaki yang salah. Berhentilah sebelum terlambat. Patah hati sewaktu masih remaja merupakan hal yang wajar. Jangan ambil pusing dengan kegagalan cinta.

Penulis :
Editor   : awl