Ini Dia Pemilik Istana Parnaraya


Istana yang kini ditinggali Suparno

Baru beberapa hari lalu, Suparno dan keluarganya menempati rumah mewah yang desain dan arsitekturnya mirip Istana Negara. Istana yang dinamai ‘'Parnaraya’' tersebut dibangun di pelosok kampung, 25 Km dari kota kabupaten, atau tepatnya di Dusun Kebonagung RT 03 RW I, Desa Kebonagung, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri.

Rencananya,  Agustus nanti rumah itu akan diresmikan oleh Bupati Wonogiri Joko Sutopo, sebagai wahana edukasi. Sebab, selain untuk rumah tinggal, istana yang dibangun di atas tanah sekitar dua  hektar itu dilengkapi dengan sarana pendidikan untuk memotivasi para anak-anak dan remaja agar menjadi orang sukses.

Suparno, sosok anak desa dari kaki Gunung Kelir, Dusun Klampok, Desa Tempursari, Kecamatan Sidoharjo Kabupaten Wonogiri ini kini telah menjadi pengusaha sukses di Jakarta. Pria berpenampilan sederhana ini lahir 4 juni 1970 dari pasangan Ny Latri dengan Sadiman.

Suparno sosok yang sederhana.  Dia biasa  makan di warung pecel dengan lauk tempe bacem, serta minum teh tawar.  Yang membuat beda dari anak desa lainnya,  pria ini menyimpan impian semangat dan cita-cita tinggi. KepadaWawasan, Suparno menuturkan panjang lebar perihal masa kecilnya hingga meraih sukses sekarang ini. 

Di usia 5 tahun dia harus hijrah dari Dusun Klampok ke Dusun Semin Desa Widoro, yang berjarak kira-kira 5 km. Mereka memutuskan hijrah lantaran  kakek dan neneknya yang hidup hanya berdua.

‘’Awalnya, ibu kandung saya keberatan untuk ditinggal hijrah, namun karena kepindahan itu atas kehendak kakek dan nenek akhirnya ibu menyetujui,’’ katanya.

Suparno hidup layaknya anak desa,  dia rajin membantu neneknya  mencangkul, mencari rumput, menimba air, sekolah, bermain dengan teman-temannya. Karena rajin, kakek neneknya sangat sayang kepada Suparno.

Kebetulan dia adalah cucu laki-laki satu-satunya. Ketika usia masuk sekolah, Suparno disekolahkan di SD Widoro 1. Sepulang dari sekolah ada saja yang dia kerjakan, seperti membantu neneknya membuat tempe dan menjual agar-agar. Semua uang  hasil penjualan diberikan kepada neneknya.

Ketika lulus SD,  ia melanjutkan sekolah di  SMP Gajah Mungkur, Sidoharjo, yang berjarak sekitar 14 km. Jarak sejauh itu ditempunya dengan hanya nyeker (tak pakai sepatu). Jadi setiap hari jalan kaki 24 Km, pulang pergi.  Sebab sepatunya ditenteng biar awet.  Karena keinginan bersekolah cukup kuat, hujan panas pun tidak pernah dirasakannya. Pun, berangkat dan pulang sekolah selalu tepat waktu.

Dengan bekal uang Rp 25 sangu pemberian dari nenek tentu tidak mencukupi untuk naik angkutan apalagi untuk jajan.

‘’Tetapi saya bisa mengelola uang yang hanya Rp 25 itu. Tidak jarang saya dan kawan-kawan menyiasati agar pulang sekolah bisa naik kendaraan dengan cara gratis, yaitu dengan cara menaikkan barang dagangan sebuah toko kelontong "Rejo"milik Pak Samiyo pasar Sidaharjo. Pak Samiyo tinggal di kelurahan yang sama, sehingga pada saat sore hari tutup toko, saya buru-buru membantu Pak Samiyo agar bisa menumpang truknya dengan gratis,’’ kenangnya.

Pengalaman masa sekolah yang sampai sekarang juga tak pernah dilupakan, yakni sepulang sekolah hampir selalu istirahat dan salat di  mushola mililk toko mas Chandra Kirana Sidoharjo, bahkan sering ditawari minum walaupun sekedar air putih.

‘’Sampai sekarang saya masih selalu ingat dengan orang yang pernah berjasa, suatu saat saya akan bersilaturahmi ke pemilik toko emas itu,’’ ungkapnya.

Lulus SMP, Suparno sudah diajak boro oleh orangtuanya ke Jakarta,karena orang tuanya mengharapkan segera bisa kerja. Sesampai Jakarta,  diterima di perusahaan swasta dan awalnya hanya kerja serabutan.

Karena  ulet, jujur, gigih dan pekerja keras, salah seorang pemilik perusahaan itu sering memanggilnya. Dan bahkan belum genap satu tahun bekerja, dia diberi tanggung jawab yang luar biasa beratnya.

”Hanya tempo tidak lebih dari 3 tahun,  saya diberikan tantangan tugas oleh direktur perusahaan (Motul oil) yakni Herman Shaleh. Walau kerap memberi tantangan dalam pekerjaan, Pak Herman kerap juga memberikan wejangan-wejangan. Bahkan pernah suatu kali saya diuji oleh direktur tersebut untuk memanjat 8 tiang bendera (memasang bendera produk) di sirkuit Ancol. Padahal yang dipanjat itu adalah besi lurus tinggi dan berkarat, sehingga telapak kaki berdarah-darah. Tetapi tetap saya laksanakan perintah itu dan tidak menyerah.’’

Tepat di tahun 1993 Suparno diangkat sebagai tenaga marketing di perusahaan yang sama. Di sela-sela waktu, dia menyempatkan ikut seminar-seminar yang berkaitan dengan bisnis dan management.

 ‘’Hidup saya tidak pernah berhenti belajar, fokus, kerja keras, ulet dan tanggung jawab, tidak pernah mengeluh, Dan alhamdulillah sekarang saya telah memiliki beberapa perusahaan di Jakarta, yang bergerak di bidang otomotif dan kuliner, semuanya dijalankan dengan pola kerja menggunakan "hati", katanya.

Yang menjadi kelebihan dari pria ini adalah tidak pelit untuk menularkan ilmunya lepada orang lain. Dia telah banyak mendidik karyawannya menjadi pekerja andal. Bahkan tidak sedikit karyawannya merupakan mantan preman. Pun ratusan pemuda kini telah banyak yang berhasil hidup sukses berkat sentuhan tangan dinginnya.

 ‘’Ada tiga hal yang yang menjadi larangan di perusahaan saya. Yakni berjudi, nenggak minuman keras dan narkoba. Kalau sampai ada yang melakukan itu, langsung saya beri sanksi,’’ tegasnya.

Penulis :
Editor   : awl