Tetap Bijak Saat Pasangan Divonis Mandul

764

Seseorang yang memutuskan untuk berumah tangga, pasti mendambakan kehadiran seorang anak. Begitu juga dengan Anda. Namun bagaimana jika pasangan Anda divonis mandul? Bijaklah bersikap!


Berlapang DADA
Bersabarlah. Tak perlu emosi. Terimalah apa adanya pasangan Anda. Pada saat seperti itu, tak selayaknya jika Anda marah-marah atau menyudutkan pasangan Anda. Kalau perlu besarkan dan kuatkan hatinya. Berbicaralah penuh kelembutan. Perlu Anda ketahui, vonis mandul itu sangat menyakiti hatinya. Pasangan Anda sangat terpukul. Memang, perasaan Anda juga sesak menerima kenyataan itu. Tapi beban yang dia tanggung pasti lebih berat. Pada saat seperti itu, biasanya seseorang akan sangat sensitif. Karena itu, tak perlu Anda tambah beban dia dengan cacian, atau cercaan. Dia butuh dukungan Anda. Karena Andalah harapan dia satu-satunya. Jika Anda justru menyudutkan dia, betapa sakit luka yang dia tanggung. Ambilah kesempatan berharga ini, bahwa kehadiran Anda sangat berharga bagi pasangan Anda.


Jangan PUTUS ASA
Secara medis, kemandulan memang dapat diketahui berdasarkan pemeriksaan intensif dengan alat-alat canggih. Tapi jika seseorang sudah dinyatakan mandul, tak berarti selamanya akan mandul. Adakalanya seseorang sudah dinyatakan mandul, ternyata bisa mendapatkan keturunan. Dan inilah bukti nyata bahwa kemandulan tak semuanya bersifat permanen. Dengan demikian, meskipun pasangan Anda dinyatakan mandul, Anda berdua tetap layak berharap. Jangan putus asa. Tetaplah dan terus berikhtiar untuk mendapatkan keturunan. Percayalah, anak itu amanat dari Tuhan. Ingat, jangan lelah berusaha!


Sebuah kisah seperti dikutip Suara Karya Online, ada pasangan suami istri yang datang di ruang praktek seorang dokter. Mereka mengaku sudah divonis mandul. Dan kini, sang istri ternyata bisa hamil. Tapi yang menjadi masalah, usia sang istri sudah berkepala empat.
Sang suami lalu menjelaskan bahwa ia dan istrinya sudah berikhtiar segala macam untuk mendapatkan keturunan. Dari minum jamu-jamu yang dipercaya punya khasiat meningkatkan kesuburan pria dan wanita, makan sate kelinci dan sate tikus yang konon bisa membuat orang punya banyak keturunan, pernah pula mereka tempuh. Bahkan minta tolong dukun dan ziarah ke tempat-tempat keramat. Dan yang terakhir adalah mencuri nanas, berdasarkan saran yang diterimanya dari beberapa orangtua, terpaksa dilakukannya, dan ternyata kemudian sang istri bisa hamil. Itu sekadar contoh untuk memotivasi. Jadi, teruslah berusaha, pantang putus asa.


Jauhi PERCERAIAN
Anda memang punya hak untuk menceraikan pasangan Anda, kemudian menikah lagi. Persoalannya, jika Anda masih mencintai dia, kawin lagi tentu jadi beban psikologis bagi Anda. Perlu diingat jika secara psikologis Anda tak siap, namun Anda memaksakan diri untuk menikah lagi, boleh jadi akan ada gangguan pada diri Anda. Sangat mungkin Anda kembali gagal mempunyai anak, meski sudah ganti pasangan. Namun yang jelas, pilihan Anda dengan menceraikan pasangan Anda, tentu sangat menyakitkan dia. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Saat-saat seperti itu, dia sangat butuh dukungan Anda. Peran Anda begitu vital untuk mengembalikan kepercayaan diri dia. Jadi jangan buru-buru mengambil keputusan untuk bercerai!


Hindari MENYALAHKAN
Banyak pasangan sering putus asa jika tak kunjung mempunyai momongan. Tak jarang pula istri yang selalu menjadi korban; selalu disalahkan jika belum ada tanda-tanda kehamilan. Padahal risiko gangguan untuk dapat mempunyai anak, paling besar justru berada di pihak laki-laki. Meski begitu, jangan saling menyalahkan. Apalagi jika vonis mandul sudah keluar dari mulut dokter. Berdoa justru lebih banyak manfaatnya ketimbang Anda berdua bertengkar, dan saling menyalahkan. Berpuluh-puluh, bahkan beratus kali pertengkaran takkan mampu menghadirkan seorang bayi di pangkuan Anda.

Tak Perlu RENDAH DIRI
Beberapa kesan buruk mungkin timbul akibat masalah 'kemandulan'. Kesan-kesan buruk ini mungkin melibatkan aspek-aspek sosial, psikologi, keutuhan perkawinan dan hubungan seks. Dari segi sosial, 'kemandulan' merupakan satu pukulan hebat terhadap pasangan suami isteri. Karena salah satu tujuan hidup perkawinan Anda tak tercapai. Mungkin saja, masyarakat, khususnya kawan-kawan Anda akan memandang rendah. Misalnya, Anda sebagai lelaki dianggap tak mampu menunjukkan ''kejantanan'' Anda. Atau Anda seorang perempuan, tak bisa membuktikan sebagai seorang perempuan yang sempurna. Itu memang pendapat umum masyarakat menyikapi kemandulan. Tapi, Anda jangan sampai merasa rendah diri atau mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat. Biarkan saja omongan-omongan miring yang mungkin Anda dengar. Toh lambat laun mereka akan bosan. Yang penting bagi Anda berdua, tetaplah pupuk rasa kasih dan sayang.

Bahagia dalam CINTA
Ingatlah, kemandulan bukan akhir dari segalanya. Bukankah, memeroleh keturunan tak satu-satunya tujuan Anda membina mahligai perkawinan? Masih ada hal lain yang juga tak kalah berharga, yakni: cinta Anda berdua. Bukankah kasih, sayang, dan cinta, yang telah mempersatukan Anda. Jadi nikmati saja karunia Tuhan itu. Berbahagialah dalam cinta. Jangan sampai hanya karena belum ada tangis bayi di rumah, cinta Anda berdua pudar. Justru momen itu merupakan saat tepat bagi Anda untuk terus memupuk perasaan cinta. Isilah kehidupan rumah tangga Anda dengan cinta. Karena hanya itulah yang mampu mengusir hari-hari sepi Anda.

Ajak Keluarga BICARA
Biasanya, tekanan yang paling hebat datang dari ibu mertua yang ingin segera punya cucu. Jika menantu perempuannya ternyata mandul, tekanan itu makin besar. Bisa jadi, seorang ibu menimbulkan kekacauan dan huru hara dalam rumahtangga Anda. Ibu mertua sering mendesak anak lelakinya menceraikan isteri atau pun kawin lagi tanpa menghiraukan ketenteraman rumah tangga anaknya. Akibatnya, hubungan suami isteri pun jadi tegang. Untuk menghindari itu, ajaklah ibu atau keluarga Anda bicara. Berilah pengertian pada mereka, bahwa Anda tak risau, meski belum punya momongan. Katakan saja, ibu Anda bisa memeroleh cucu dari anak-anaknya yang lain.

Coba ADOPSI
Anda bersedih? Itu sikap yang wajar. Namun, Anda tak perlu terlalu larut dalam suasana yang menyesakkan itu. Berpikirlah cepat, tak perlu menyesali diri. Pikirkanlah untuk segera mengadopsi anak. Adopsilah secara agama dan secara hukum. Syukur yang Anda angkat adalah keponakan Anda atau keponakan istri atau saudara Anda lainnya. Proses ini tentu atas kesepakatan bersama pasangan Anda dan keluarga. Anak angkat ini akan menjadi penerus keturunan dan sebaiknya diadopsi sejak balita. Jika tak ada keponakan atau keluarga yang siap diadopsi, sebenarnya dapat mengangkat anak dari keluarga lain atau siapa saja asalkan telah menjadi keputusan keluarga Anda.

Penulis :
Editor   :