Enzo  dan Rendah Diri Bangsa

  • Opini Langit Bara Lazuardi

TAMPAKNYA,  inferiority complex bangsa ini sudah tak bisa disembuhkan.  Dan viralnya calon taruna Enzo Zenz Allie menjadi bukti terbaru betapa kita  merasa inferior/lemah/lebih rendah dibanding pihak lain. Dalam hal ini Enzo wakil dari pria bule, meskipun tak ''sempurna''.

Tiba-tiba, kita merasa Akmil itu menjadi sangat keren karena ada sosok Enzo, yang mampu menguasai empat bahasa. Tiba-tiba kita merasa betapa hebat nanti tentara kita karena punya sosok seperti Enzo, yang ingin mengabdikan dirinya menjadi sang pembela negara. Tiba-tiba saja, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengajak Enzo bicara, bahkan berbahasa Prancis, dan menjadi ''juru bicara'' bahwa dia benar-benar sudah WNI.

Tiba-tiba kita semua mengalami euforia, bangga pada Akmil, TNI, dan sekaligus kagum pada Enzo. Maka sosoknya pun dikuliti, juga dengan nalar kekaguman. Dari niatnya yang kukuh untuk masuk Akmil, kemampuannya mengaji, sampai metode latihan fisik yang dia lakukan di pesantrennya.

Pokoknya, Enzo jadi idola baru. Sosoknya seperti balon yang, tiba-tiba, mendapat asupan angin yang sangat besar, membesar, membesar... 

Lalu meletus!

Enzo ternyata beribukan Siti Hadiati Nahriah, yang dinilai kerap memnghina Presiden Jokowi di akun media sosialnya, dan penyebar aktif hoaks dan berita tak berdasar lainnya. Dan yang lebih mencengangkan lagi, sebuah akun medsos meng-capture foto sang ibu dan Enzo yang acap ber-background dengan bendera HTI. 

TNI pun kaget. Reaksipun berantai, berisi tanggapan yang akan segera melakukan penilaian menyeluruh atas sosok Enzo dan keluarganya. Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto bahkan mengatakan akan melakukan penelitian berlapis, dari sosok seorang calon taruna, keluarga, mental ideologi, sampai lingkungan. Tapi, reaksi yang lebih keras datang dari Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Dia meminta TNi langsung memecat sosok yang tidak Pancasilais, yang dia anggap seorang pengkhianat.

Kini, balon Enzo telah mengempis. Kekaguman yang berasal dari inferiority complex itu berdampak luas. Pertanyaan pun membiar ke TNI,  apakah siap membesarkan anak ular, yang kelak, mengerkah ibunya sendiri. Dari inferiority complex ini kita harusnya belajar, untuk bangga sebagai bangsa tanpa karena ''nempel keren'' bangsa lain.

Penulis : lbl
Editor   : awl